3 Kondisi yang Membahayakan Ibu Hamil Saat Ibadah Haji

Oleh dr. Atika pada 31 Jul 2019, 09:00 WIB
Ibu hamil yang menunaikan ibadah haji butuh kesehatan fisik yang sempurna. Ini tiga kondisi yang membahayakan ibu hamil saat ibadah haji.
3 Kondisi yang Membahayakan Ibu Hamil Saat Ibadah Haji (Aaron Amat/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kehamilan adalah kondisi yang jauh berbeda dibandingkan keadaan tubuh biasa. Banyak anatomi dan fisiologi tubuh wanita yang berubah di masa itu. Ibu hamil pun akan lebih mudah merasa lelah dan lemas. Kondisi inilah yang dikhawatirkan ketika ibu hamil menjalani ibadah haji. 

Ibadah haji adalah suatu kegiatan yang menuntut kesiapan fisik dan mental yang begitu prima. Hal ini tidak terlepas dari rangkaian ritual dalam ibadah haji yang meliputi aktivitas berjalan jauh, berlari-lari kecil, dan berada di bawah sinar matahari. Karena alasan itu, tidak semua ibu hamil dapat mengikuti ibadah haji.

Sudah ada aturannya

Aturan mengenai wanita hamil yang menjalani ibadah haji sebenarnya sudah tertuang dalam aturan resmi. Dalam Keputusan Bersama Dua Menteri, Menteri Agama dan Menteri Kesehatan Nomor 458 tahun 2000 serta Nomor: 1652.A/MENKES-KESOS/SKB/XI/2000 diatur tentang Calon Haji Wanita Hamil. 

Aturan itu menyebutkan bahwa calon haji yang sedang hamil masih diizinkan untuk mengikuti ibadah haji bila usia kehamilannya berada di antara 14 dan 26 minggu. Aturan pembatasan usia kehamilan ini terkait dengan risiko-risiko kehamilan yang mungkin terjadi. 

Untuk usia kehamilan di bawah 14 minggu, kemungkinan terjadinya keguguran cukup tinggi. Sedangkan kehamilan usia di atas 26 minggu rawan terjadi kontraksi yang bisa memicu proses melahirkan. 

Terlebih lagi saat seorang ibu hamil mengalami kekurangan oksigen, misalnya di kabin pesawat atau ketika sedang berdesakan saat beribadah. Kondisi kekurangan oksigen dapat menimbulkan kontraksi. Alasan lainnya, kehamilan di atas 26 minggu risiko persalinan cukup tinggi. 

Namun, sekalipun usia kehamilan Anda berada di antara 14 dan 26 minggu, tentunya tetap penting untuk memastikan kehamilan tersebut berlangsung sehat. Konsultasikan terlebih dahulu pada dokter kandungan seputar kesehatan ibu dan janin, dan kemampuannya untuk menjalankan ibadah haji. 

Kehamilan yang memiliki komplikasi tidak disarankan untuk mengikuti ibadah haji. Komplikasi tersebut antara lain gangguan letak plasenta (plasenta previa), adanya peningkatan tekanan darah pada kehamilan (preeklamsia), serta sering mengalami flek/perdarahan dari vagina. 

Selain itu, adanya riwayat keguguran (abortus) sebelumnya, riwayat kelahiran prematur, serta ibu memiliki asma berat dan penyakit jantung, juga menjadi pertimbangan tersendiri.

1 of 2

Kondisi yang bisa membahayakan ibu hamil saat haji

Ibadah haji merupakan aktivitas yang menuntut kesiapan fisik dan mental seseorang. Khusus untuk ibu hamil, ada tiga kondisi yang bisa membahayakan kesehatan, yaitu:

  1. Heatstroke 

Berdasarkan pemberitaan terbaru, musim haji tahun 2019 diwarnai dengan suhu udara yang cukup tinggi, yaitu mencapai 47-50 derajat Celsius di Arab Saudi. Dalam kondisi itu, orang-orang yang rentan dapat terkena heatstroke.

Heatstroke (sengatan panas) terjadi akibat peningkatan suhu tubuh yang mendadak, dan tidak dibarengi oleh kemampuan tubuh untuk beradaptasi. Gejala yang muncul adalah tubuh panas, berkeringat, sakit kepala, mata berkunang-kunang, wajah kemerahan, mual dan muntah, hingga kehilangan kesadaran (kebingungan sampai pingsan).

Cara agar tidak terkena heatstroke adalah dengan menggunakan pakaian yang berbahan dasar menyerap keringat dan tidak terlalu tebal. Sebisa mungkin, kurangilah paparan terhadap sinar matahari, serta mencukupkan kebutuhan cairan. 

  1. Dehidrasi

Padatnya waktu ibadah bisa menyebabkan jemaah haji melupakan kebutuhan untuk minum. Ditambah dengan adanya cuaca yang sangat panas, maka tubuh akan mengalami kehilangan banyak cairan lewat keringat. 

Bila kehilangan cairan ini tidak cepat digantikan, ibu hamil rentan mengalami dehidrasi. Gejala dehidrasi antara lain rasa haus berat, mulut dan lidah yang kering, buang air kecil berkurang, hingga rasa pusing dan melayang.

Untuk itu, ibu hamil tidak boleh melupakan pentingnya minum secara teratur. Khususnya bagi ibu hamil, kebutuhan cairan akan bertambah dibandingkan orang biasa pada umumnya. Bagi ibu hamil, selain 8 gelas per hari, perlu diberikan cairan tambahan sebanyak 300 ml setiap harinya.

  1. Kelelahan

Saat hamil, Anda tentu harus membawa beban berupa pertambahan volume darah, berat janin, air ketuban, serta plasenta, selain berat badan sendiri. Ketika harus menjalani aktivitas ibadah haji yang meliputi banyak berjalan, tentunya hal ini dapat memicu kelelahan yang berlebihan. 

Pada usia hamil yang lebih lanjut, kelelahan dapat memicu timbulnya flek hingga kontraksi rahim. Banyaknya aktivitas fisik yang melibatkan gerak tubuh juga bisa memberikan risiko timbulnya keluhan nyeri pinggang, nyeri punggung, serta kaki yang bengkak.

Selain itu, ibu hamil yang kelelahan memiliki risiko yang cukup besar untuk kehilangan keseimbangan dan jatuh. Padahal, jatuh dan trauma lain bisa menimbulkan cedera pada janin. 

Untuk itu, seorang ibu hamil yang sedang menjalankan haji harus pandai-pandai menjaga kesehatan. Upayakan untuk mendapat tidur yang cukup, dibarengi dengan konsumsi makanan yang sehat, jumlahnya cukup, dan bergizi seimbang. Sempatkanlah waktu untuk beristirahat di tengah kegiatan ibadah agar tubuh tidak terlampau lelah. 

Itulah tiga kondisi yang dapat membahayakan kesehatan ibu hamil dan janin ketika melaksanakan ibadah haji. Ibu hamil memang menghadapi risiko yang lebih besar ketika menjalankan ibadah haji. Namun, asalkan persyaratan kesehatan terpenuhi dan  bisa menjaga kesehatan dengan baik, Anda tetap bisa menuntaskan ibadah haji.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓