Mengenal Kanker Otak, Penyebab Agung Hercules Meninggal Dunia

Oleh dr. Devia Irine Putri pada 02 Aug 2019, 15:00 WIB
Agung Hercules dikabarkan meninggal dunia karena mengalami kanker otak. Seperti apa medis melihat penyakit mematikan ini?
Mengenal Kanker Otak, Penyebab Agung Hercules Meninggal Dunia (Sebastian Kaulitzki/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Aktor Indonesia yang terkenal dengan tubuh kekar, Agung Hercules dikabarkan meninggal dunia pada Kamis, (1/8). Agung mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan kanker otak jenis glioblastoma selama kurang lebih 1 tahun. 

Glioblastoma atau yang disebut dengan glioblastoma multiforme (GBM) adalah jenis kanker otak yang bersifat ganas. Dibandingkan dengan jenis kanker otak lain, pertumbuhan glioblastoma multiforme di susunan sistem saraf pusat adalah yang paling agresif. 

Glioblastoma multiforme itu sendiri adalah jenis kanker yang sebenarnya jarang terjadi, karena kasusnya hanya ada kurang dari 10 per 100.000 populasi. Kanker otak jenis ini lebih banyak menyerang pria dibandingkan wanita, dengan usia rata-rata 55–60 tahun. Meski demikian, tidak menutup bahwa penyakit tersebut juga terjadi pada anak-anak. 

Penyebab dan gejala kanker otak glioblastoma

Hingga saat ini belum ada pakar kesehatan yang benar-benar mampu memastikan penyebab utama kanker otak glioblastoma. Meski begitu, hipotesis yang ada mengatakan bahwa terjadinya penyakit mematikan itu berkaitan dengan kondisi-kondisi sebagai berikut:

  • Adanya mutasi DNA
  • Adanya penyakit genetik, seperti neurofibromatosis tipe 1 dan 2, sklerosis tuberosa, sindrom Li-Fraumeni
  • Paparan radiasi dan bahan kimiawi yang berlebihan (pestisida, vinil klorida)
  • Riwayat keluarga yang memiliki kanker otak glioma

Karena glioblastoma adalah kanker yang bersarang pada sistem saraf pusat, gejala yang muncul akan berhubungan dengan gejala neurologis, kognitif, bahkan dapat memberikan gangguan psikiatri. 

Umumnya gangguan neurologis akan muncul dalam tiga bulan pertama dalam bentuk sakit kepala. Keluhan sakit kepala yang digambarkan bersifat hebat, terasa semakin berat setiap waktu, dan disertai dengan mual atau muntah menyembur. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan di dalam otak, karena adanya ‘sesuatu’ yang tumbuh dan berkembang. 

Beberapa keluhan lain yang sering dihubungkan dengan kanker otak glioblastoma, antara lain:

  • Kelemahan anggota gerak pada kaki dan tangan
  • Kejang hingga tak sadarkan diri
  • Penglihatan ganda
  • Gangguan keseimbangan
  • Kesulitan bicara
  • Tampak seperti orang bingung
  • Perubahan mood
  • Hilang ingatan
  • Pemeriksaan dan pengobatan kanker otak

Kanker otak bukanlah kondisi sederhana. Untuk menetapkan diagnosis pasti diperlukan serangkaian pemeriksaan fisik lengkap, yang mencakup pemeriksaan saraf dan fungsi luhur. 

Selain itu, dibutuhkan pula pemeriksaan penunjang, seperti cek laboratorium dan radiologi (CT-scan dengan kontras, MRI dengan kontras maupun PET-scan). Pengambilan sampel jaringan dengan cara biopsi juga menjadi pertimbangan dalam penegakan diagnosis kanker otak, sekaligus melihat derajat pertumbuhan sel kanker. 

Beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menangani kondisi kanker otak, misalnya terapi pembedahan, radioterapi, kemoterapi dengan terapi target, serta terapi simptomatik untuk mengatasi nyeri dan kejang. Terapi-terapi tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan derajat keparahan, ukuran, lokasi dan kondisi penderita secara umum. 

Meski terapi yang ditawarkan bervariasi, tetapi hal ini tidak menjamin kesembuhan pasien sepenuhnya. Seseorang yang sudah terkena glioblastoma seperti Agung Hercules memiliki angka bertahan hidup yang rendah dibandingkan dengan kanker otak jenis lain. Rata-rata, penderita kanker otak jenis glioblastoma hanya dapat bertahan selama 12–18 bulan, dan hanya 25 persen di antaranya yang mampu hidup hingga lebih dari 1 tahun. 

Mengetahui bahwa kanker otak glioblastoma seperti yang dialami Agung Hercules bukanlah kondisi main-main, Anda sebaiknya lebih waspada akan segala kemungkinan yang ada. Jika Mengalami tanda atau gejala yang serupa, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis saraf guna mendapatkan pemeriksaan menyeluruh. Semakin cepat dideteksi, semakin cepat pula pengobatan bisa dilakukan.

(NB/ RH)