Imunisasi Teratur Bisa Bikin Anak Cerdas?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 05 Aug 2019, 15:40 WIB
Imunisasi penting untuk melindungi anak dari penyakit menular berbahaya. Lalu apakah imunisasi teratur juga bisa bikin anak cerdas?
Imunisasi Teratur Bisa Bikin Anak Cerdas? (Luiscar74/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Anak-anak sangat perlu mendapatkan imunisasi teratur demi melindungi diri mereka dari penyakit penular yang berbahaya. Lalu benarkah bahwa imunisasi teratur ini juga bisa membuat anak cerdas?

Imunisasi dilakukan dengan cara memasukkan (disuntik atau oral) versi jinak dari virus atau bakteri penyakit yang sudah dilemahkan. Tubuh anak akan melihat kedatangan virus atau bakteri jinak tersebut sebagai ‘ancaman’ pada tubuh.

Selanjutnya, sistem imun tubuh akan terpicu untuk memproduksi antibodi, yang nantinya bertugas untuk melawan penyakit. Jika suatu saat anak terserang virus atau bakteri yang sama, tubuh sudah memiliki antibodi yang mampu mengenali dan melawannya.

Beberapa jenis imunisasi wajib untuk anak antara lain: hepatitis B, DPT, hemofilus influenza tipe B (HiB), polio, campak, dan BCG. Sementara itu, vaksin tambahan yang tidak wajib tetapi tetap sangat direkomendasikan adalah MMR, tifoid, rotavirus, PCV, varicella, influenza, hepatitis A, dan HPV.

Imunisasi teratur bikin anak cerdas?

Imunisasi memang sangat berguna dalam membangun kondisi kesehatan priama pada anak. Namun apakah imunisasi teratur bisa membuat anak jadi cerdas itu perlu dicermati dengan saksama.

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter imunisasi teratur dan kecerdasan anak tak ada hubungannya sama sekali. Seperti yang disebutkan sebelumnya, tujuan utama dari imunisasi adalah melindungi anak dari serangan suatu penyakit menular. Jika memang berkaitan dengan kecerdasan anak, dr. Sepriani mengatakan bahwa hubungan antara keduanya tidak langsung.

"Sebenarnya berhubungan, tetapi tidak secara langsung. Kembali lagi, tujuan imunisasi itu meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah penyakit. Tapi kalau mau dicari-cari hubungannya bisa saja,” kata dr. Sepriani.

Misalnya ada seorang anak mengalami influenza sebanyak 8-10 kali dalam setahun. Nah, jika anak menerima vaksin influenza, angka kejadiannya bisa lebih rendah, yaitu sekitar 7-8 kali. Kalau kondisi anak lebih sehat, ia tak akan ketinggalan pelajaran di sekolah. Meski begitu, tidak serta merta imunisasi membuat anak jadi lebih cerdas.

Singkat kata, tumbuh kembang anak tidak akan optimal jika anak sering sakit, apalagi jika anak menderita berbagai penyakit yang mengancam nyawa seperti tuberkulosis, hepatitis, polio, difteri, tetanus, infeksi otak, atau penyakit serius lainnya.

Faktor-faktor yang memengaruhi kecerdasan anak

Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi kecerdasan anak. Mulai dari stimulasi, kondisi genetik, hingga bagaimana kecukupan nutrisinya. Itu semua adalah paket lengkap yang berkontribusi dalam kecerdasan anak.

Untuk faktor genetik, dr. Alvin Nursalim, SpPD, dari KlikDokter, mengatakan, tak ada yang dapat mengubahnya karena telah terbentuk sejak dalam kandungan. Meski begitu, bukan berarti anak dari orang tua dengan kecerdasan yang biasa-biasa saja tidak bisa menjadi pintar.

“Meski kedua orang tuanya punya tingkat kecerdasan yang biasa-biasa saja, tetapi dengan stimulasi aktif selama masa perkembangan otaknya dan dengan nutrisi yang baik, anak bisa menjadi cerdas,” jelas dr. Alvin.

Pasokan nutrisi bisa dipenuhi lewat makanan sehat bergizi seimbang yang mengandung zat-zat yang penting untuk perkembangan tubuh dan otak. Khusus untuk otak, zat docosahexaenoic acid atau DHA diketahui sangat baik untuk merangsang otaknya.

Stimulasi yang dimaksud bisa dari banyak hal, mengingat kecerdasan anak juga banyak macamnya. Mulai dari kecerdasan bahasa, logika matematika, visual spasial, moral, kinestetik, musikal, interpersonal, dan lain-lain. Anda sebagai orang tua bisa membantunya dengan menerapkan perilaku aktif sedini mungkin, mengenalkan anak pada buku-buku bermutu, musik, atau permainan menarik, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, cerdas atau tidaknya anak sangat dipengaruhi oleh campur tangan orang-orang di sekitarnya, bukannya imunisasi teratur. Tujuan imunisasi dari awal sudah jelas, yaitu untuk kesehatan, bukan kecerdasan. Namun, mesti diakui bahwa imunisasi dapat membantu anak menjadi sehat, sehingga ia bisa tumbuh, berkembang, termasuk terus belajar tanpa terganggu serangan penyakit.

(RN/ RVS)