Apakah Balita Boleh Minum Kopi?

Oleh dr. Nadia Octavia pada 07 Aug 2019, 13:45 WIB
Biasanya balita minum kopi karena meniru kebiasaan ayah atau ibunya. Pernahkah Anda berpikir tentang dampak kopi pada kesehatan si Kecil?
Apakah Balita Boleh Minum Kopi? (Ann-in-the-uk/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian orang tua ada yang membolehkan balita minum kopi. Beberapa kalangan bahkan percaya bahwa minum kopi bisa membantu mengatasi kejang pada anak. Tapi sebenarnya, amankah membiarkan balita minum kopi?

Kopi dan balita

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Human Lactation pada tahun 2015, sekitar 15 persen balita mengonsumsi rata-rata 110 ml kopi setiap harinya.

Kemudian pada penelitian yang dilakukan oleh the Boston Medical Center di Amerika Serikat ini, dilaporkan bahwa 2.5 persen balita usia 1 tahun sudah minum kopi. Dan jumlahnya semakin meningkat seiring bertambahnya usia anak.  Penyebabnya diduga karena "kemudahan" balita untuk mendapatkan kopi.

Anak balita yang minum kopi sering kali berawal dari melihat dan kemudian meniru orang tuanya yang minum kopi. Selain itu, tempat penyimpanan kopi yang mudah dijangkau juga membuat balita menjadi penasaran untuk mencicip.

Pada tahun 2014, the American Academy of Pediatrics juga menemukan tingkat konsumsi kafein yang meningkat di kalangan anak. Perlu diingat, kafein, tidak hanya didapat dari kopi tetapi juga dari minuman bersoda dan minuman berenergi.

Selain itu, teh juga mengandung kafein yang banyak dikonsumsi oleh anak-anak mulai dari usia 1-2 tahun. The American Academy of Pediatrics memang tidak secara spesifik menetapkan aturan baku mengenai batas konsumsi kafein pada anak.

Namun, anak-anak di bawah 12 tahun dianjurkan tidak mengonsumsi kafein dalam bentuk apapun, termasuk kopi, teh, minuman bersoda atau minuman berenergi.

Dampak minum kopi pada balita

Beberapa studi menyebutkan bahwa konsumsi kafein pada anak atau balita dapat menyebabkan timbulnya berbagai dampak negatif seperti:

  • Diabetes
  • Depresi
  • Gangguan tidur
  • Obesitas
  • Peningkatan denyut jantung
  • Peningkatan tekanan darah
  • Kecemasan
  • Penyalahgunaan NAPZA
  • Gangguan lambung
  • Diare
  • Sulit fokus
  • Dehidrasi
  • Sering berkemih.

Pada balita terutama yang berusia 2 tahun, konsumsi kopi atau teh di antara jadwal makan dapat meningkatkan risiko obesitas hingga 3 kali lipat. Kondisi ini dapat terjadi ketika balita menginjak usia taman kanak-kanak.

Dosis kafein yang sangat berlebih bahkan bisa menyebabkan kejang dan henti jantung hingga kematian. Anak-anak, terutama balita akan lebih berisiko mengalami dampak negatif bagi kesehatan anak.

Karena indeks masa tubuh yang lebih rendah dari orang dewasa dan tubuh anak belum dapat melakukan metabolisme terhadap kafein secara sempurna seperti orang dewasa.

The American Academy of Pediatrics menganjurkan agar anak sebaiknya menunggu hingga usia 12 tahun untuk minum kopi dan juga minuman berkafein lainnya. Selain itu, sebaiknya batasi juga konsumsi kafein jangan lebih dari 100 mg setiap harinya. Perhatikan juga label pada makanan atau minuman yang dikonsumsi balita, hindari produk yang mengandung kafein.

Minum seteguk kopi memang tidak akan langsung berdampak negatif pada balita. Namun, jika balita sering minum kopi atau teh setiap hari – dan berlangsung terus menerus – tentu dapat berdampak negatif bagi kesehatannya. Jadi sebaiknya jangan pernah memberikan kopi pada balita Anda, ya.

[NP/ RVS]