Minum Pil KB Malah Kena Stroke, Kok Bisa?

Oleh Ayu Maharani pada 07 Aug 2019, 14:40 WIB
Pil KB memang memiliki efek samping. Tapi, kalau minum pil KB malah kena stroke, apakah efek samping seperti itu normal terjadi?
Minum Pil KB Malah Kena Stroke, Kok Bisa? (Makistock/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Selama ini pil KB dan stroke adalah dua hal yang tidak saling berhubungan. Pasalnya, efek samping pil KB yang dikenal lebih kepada peningkatan berat badan atau jerawatan. Namun ternyata, ada sebuah kasus di mana seorang wanita berusia 23 tahun usai minum pil KB malah kena  stroke.

Dilansir metro.co.uk, seorang wanita ternama Hannah McGrath – kini usianya 27 tahun – sempat dilaporkan mengalami stroke setelah mengonsumsi pil KB selama 6–8 minggu. Saat kasus mengerikan itu terjadi, Hannah masih 23 tahun. Awalnya ia hanya merasa sakit kepala seperti migrain, namun lama-kelamaan mengalami tangan kiri sering berkedut hingga tubuh sulit bergerak.

Setelah mendapatkan pemeriksaan MRI, Hannah ternyata mengalami pembekuan darah di otak sehingga ia terkena serangan stroke hingga dua kali. Usianya yang masih terbilang muda untuk mengalami stroke akhirnya membuat wanita tersebut menjalani serangkaian pemeriksaan lain untuk memeriksa penyebab pasti kondisinya saat itu.

Setelah mendapat pemeriksaan yang cukup intensif, tim medis mengatakan bahwa pil KB adalah yang bertanggung jawab atas segala yang dialami Hannah saat usianya masih 23 tahun.

Stroke akibat pil KB generasi lama

Mengomentari kasus tersebut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter mengatakan bahwa mungkin saja hal itu terjadi, apalagi bila yang dikonsumsi adalah pil KB generasi lama.

“Pil KB adalah pil yang berisi hormon dan dibedakan menjadi dua generasi, yakni generasi lama dan baru. Untuk pil KB generasi lama, efek samping yang bisa timbul meliputi kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, dan penggumpalan darah yang dapat berujung pada stroke,” jelasnya. 

Lantas, bagaimana dengan pil KB generasi baru? Anda tidak perlu khawatir, karena pil KB generasi baru mengandung kadar hormon yang lebih rendah sehingga risiko terjadinya efek samping juga sangat minim.

“Meski begitu, bukan berarti Anda bisa mengonsumsi pil KB generasi baru secara sembarangan. Anda tetap wajib berkonsultasi terlebih dulu pada dokter sebelum memilih dan mengonsumsi pil KB,” dr. Karin menyarankan.

Menurut dr. Karin sebelum dokter memberikan pil KB yang tepat, biasanya  riwayat kesehatan si pasien akan diperiksa terlebih dahulu. Sebab, pil KB generasi baru tetap bisa menyebabkan efek samping merugikan apabila “bertabrakan” dengan kondisi medis tertentu.

“Intinya, masyarakat perlu menyadari bahwa konsumsi pil KB untuk tujuan apapun itu tidak boleh dilakukan sembarangan karena dapat berakibat fatal,” pungkas dr. Karin.

Efek samping pil KB yang mungkin terjadi

Bukan cuma bisa menimbulkan penggumpalan darah, bikin jerawatan maupun berat badan bertambah, pil KB juga bisa menyebabkan terjadinya efek samping di bawah ini:

  • Muncul flek antara siklus haid. Kondisi ini terjadi karena rahim sedang beradaptasi pada dinding endometrium yang lebih tipis dan tubuh sedang beradaptasi pada perubahan hormon. 
  • Nyeri kepala. Setiap jenis dan dosis pil KB dapat memberikan gejala nyeri kepala yang berbeda-beda. Sebagai pencegahan, penggunaan pil KB dengan dosis yang rendah dapat membantu mengurangi terjadinya nyeri kepala. 
  • Gangguan haid. Pil KB dapat menyebabkan Anda telat haid. 
  • Perubahan cairan vagina. Cairan vagina untuk “pelumas” dapat bertambah banyak atau justru menurun setelah konsumsi pil KB. 
  • Nyeri payudara. Ukuran payudara dapat menjadi lebih besar (bengkak), bahkan menyebabkan rasa nyeri. 

Belajar dari kasus yang menimpa Hannah McGrath yang minum pil KB lalu kena stroke, Anda sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter sebelum minum pil KB jenis apapun. Karena jika pil KB dikonsumsi sembarangan sangat berisiko untuk menimbulkan gangguan kesehatan.

(NB/ RVS)