Polusi Udara Bisa Menurunkan Kecerdasan Anak?

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 14 Aug 2019, 14:50 WIB
Polusi udara yang meluas dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Tapi, apakah ini juga berdampak pada kecerdasan anak?
Polusi Udara Bisa Menurunkan Kecerdasan Anak? (Hung Chung Chih/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Polusi udara dapat ditemukan di mana saja. Umumnya, polusi udara diukur dari adanya zat-zat tertentu dalam udara. Ada yang beranggapan hal ini bisa menurunkan kecerdasan anak.

Beberapa zat polutan yang diketahui memiliki dampak buruk bagi kesehatan manusia antara lain adalah ozon, karbon monoksida (CO), polusi partikel (campuran dari partikel padat dan cair yang bisa ditemukan dalam udara), sulfur dioksida (SO2), timbal, dan nitrogen oksida (NOx).

Sumber polusi udara dapat berasal dari luar ruangan maupun dalam ruangan. Sumber polusi yang berasal dari luar ruangan misalnya saja adalah asap kendaraan bermotor, pembangkit listrik, penyulingan minyak, kebakaran hutan,  atau pabrik pemroses bahan metal.

Di sisi lain, sumber polusi dalam ruangan bisa berasal dari asap rokok, emisi kompor dapur, bahan kimia pembentuk plastik, pestisida, dan lain sebagainya.

Dampak polusi udara pada anak

Anak-anak dianggap lebih rentan terhadap efek buruk polusi karena umumnya mereka bernapas lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Sehingga, mereka menghirup dan menyerap lebih banyak polutan.

Selain itu, tinggi tubuh anak juga berpengaruh, mengingat beberapa jenis polutan memiliki konsentrasi yang tinggi di area tanah. Anak yang lebih pendek daripada orang dewasa menjadi lebih mudah terpapar dengan polusi ini. 

Di sisi lain, efek buruk polusi pada anak-anak tidak bisa disamakan dengan efek buruk polusi pada orang dewasa. Hal ini dipertimbangkan mengingat anak masih dalam tahapan tumbuh dan berkembang.

Untuk otak misalnya, perkembangan akan terjadi sangat pesat pada 1000 hari pertama kehidupan anak, yakni sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Padahal, menurut WHO sekitar 93 persen anak di bawah usia 15 tahun menghirup udara dengan polusi yang cukup untuk menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Paparan dengan polusi udara, baik sejak dalam kandungan ataupun setelah anak lahir, dapat memengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf anak.

Menurut UNICEF, paparan dengan polusi berpotensi merusak sawar darah otak yaitu suatu membran tipis yang berfungsi melindungi otak dari berbagai zat beracun. Akibatnya bisa menimbulkan peradangan pada sel saraf.

Selain itu, beberapa jenis polutan berukuran sangat kecil, sehingga dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh. Misalnya saja magnetite yang sangat beracun bagi otak karena beraliran magnet serta membantu menimbulkan stres oksidatif yang turut berperan pada timbulnya penyakit neurodegeneratif.

Polutan lainnya, seperti PAH (polycyclic aromatic hydrocarbon), turut berperan menimbulkan kerusakan white matter pada otak. Padahal, white matter otak mengandung serabut saraf yang membantu komunikasi antar sel saraf di bagian otak yang berbeda.

Akibatnya, anak yang terpapar polusi udara dapat memiliki fungsi kognitif yang lebih buruk seperti penurunan pada IQ, memori, juga nilai pada anak sekolah.

Beberapa studi sudah membuktikan anak yang tinggal atau bersekolah di lokasi dengan polusi tinggi akibat jalan raya memiliki nilai lebih buruk pada tes untuk menilai kemampuan kognitifnya. Studi lain menemukan paparan polusi pada kehamilan menimbulkan keterlambatan perkembangan anak saat berusia tiga tahun.

Tidak hanya memengaruhi fungsi kognitif dan kecerdasan, polusi udara dapat juga menimbulkan gangguan perilaku pada anak. Misalnya saja spektrum autisme dan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), gangguan cemas dan depresi.

Studi oleh Children’s Hospital of Los Angeles menemukan paparan dengan polusi udara, khususnya PAH, pada kehamilan berdampak pada gejala ADHD, kecemasan, dan depresi pada anak. 

Sebagai orang tua, penting untuk melindungi anak dari dampak buruk polusi udara. Misalnya saja dengan mengurangi paparan anak dengan polusi udara dengan menghindari aktivitas luar ruangan saat kualitas udara sedang buruk, menghindari aktivitas di dekat area tinggi polusi seperti jalan raya atau pabrik.

Faktanya, polusi udara memang dapat memengaruhi perkembangan otak dan kecerdasan anak. Untuk itu, bantu anak memiliki kesehatan yang baik, sehingga tubuhnya mampu melawan efek buruk dari polusi udara. Dengan demikian, tumbuh kembang anak pun optimal.

[NP/ RVS]