Sikap Pesimistis dan Optimistis Bisa Pengaruhi Kualitas Tidur?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 14 Aug 2019, 18:00 WIB
Selain faktor stres atau lingkungan, sikap pesimistis dan optimistis juga dinilai bisa pengaruhi kualitas tidur. Benarkah?
Sikap Pesimistis dan Optimistis Bisa Pengaruhi Kualitas Tidur? (Fizkes/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tidur yang berkualitas ditentukan oleh beragam faktor. Lewat penelitian terbaru, dikatakan juga bahwa sikap pesimistis dan optimistis seseorang bisa memengaruhi kualitas tidur seseorang.

Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan kualitas tidur. Mulai dari membeli matras baru yang nyaman dan sesuai dengan kondisi tubuh, membatasi konsumsi alkohol pada malam hari, olahraga secara rutin, serta suasana kamar tidur sesuai untuk bisa tidur nyenyak.

Menurut sebuah penelitian, mungkin ada cara lainnya yang bisa membantu Anda memperbaiki kualitas tidur, yaitu sikap atau kecenderungan sikap (disposisi) optimis.

Kaitan antara sikap optimis dan kualitas tidur

Penelitian yang diterbitkan baru-baru ini dalam jurnal “Behavioral Medicine” ini menemukan, seorang optimis cenderung mampu tidur lebih baik. Temuan ini didasarkan pada penelitian sebelumnya, yang mengemukakan bahwa optimisme membuat “penganutnya” memiliki kesehatan jantung yang lebih baik.

Tim meneliti 3.548 partisipan berusia 32-51 tahun yang ikut serta dalam studi Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA). Partisipannya adalah ras non Hispanik dan ras Afrika Amerika dewasa yang tinggal di beberapa kawasan Amerika Serikat (AS).

Untuk menilai tingkat optimisme para peserta, tim peneliti meminta mereka untuk merespon beberapa pernyataan dengan menggunakan skala lima poin Likert, yaitu dari “sangat setuju” hingga “sangat tidak setuju”.

Pernyataan positif yang tersedia contohnya, “saya selalu optimis tentang masa depan”, dan yang negatif seperti, “saya hampir tak pernah berharap hal-hal berjalan sesuai rencana”. Skor survei yang dikumpulkan berkisar antara 6-30. Skor 30 adalah paling optimistis.

Sebagai bagian dari studi CARDIA, para peserta melaporkan kualitas tidur mereka sebanyak dua kali dalam rentang waktu 5 tahun. Mereka pun wajib menyebutkan durasi jam tidur mereka biasanya dan gejala insomnia.

Beberapa partisipan juga mengisi Pittsburgh Sleep Quality Index dan Epworth Sleepiness Scale, dan mereka menggunakan monitor aktivitas yang secara objektif mengukur berapa lama mereka tertidur nyenyak, dan berapa lama mereka merasa gelisah.

1 of 2

Para optimis lebih kecil kemungkinannya mengalami insomnia

Penelitian menemukan, partisipan dengan skor optimismenya lebih tinggi, cenderung tidur selama 6-9 jam setiap malam dan 74 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami insomnia.

"Hasil dari penelitian ini mengungkapkan hubungan yang signifikan antara optimisme dan berbagai karakteristik tidur yang dilaporkan sendiri setelah disesuaikan untuk beragam variabel, termasuk karakteristik sosiodemografi, kondisi kesehatan, dan gejala depresi," kata Dr. Rosalba Hernandez, asisten profesor di Universitas Illinois, Urbana-Champaign School of Social Work, AS, penulis utama penelitian seperti dikutip di Medical News Today.

Ia juga mengatakan, kualitas tidur yang buruk adalah masalah kesehatan masyarakat, mengingat itu berkaitan dengan penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit lainnya.

“Optimisme muncul sebagai aset psikologis yang menonjol untuk kelangsungan hidup bebas penyakit serta kesehatan yang lebih baik,” kata Dr. Rosalba.

Meski temuan penelitian bersifat observasional, tim peneliti berspekulasi pada kemungkinan mekanisme yang dapat menjelasankan kaitan antara optimisme dan kualitas tidur.

“Orang-orang yang optimis lebih cenderung terlibat dalam menangani masalah atau situasi penuh tekanan secara lebih positif, mengurangi rasa khawatir sebelum tidur serta selama siklus tidur,” ujar Dr. Rosalba menyimpulkan.

Cara lain untuk mendapatkan tidur yang berkualitas

Para ahli menyarankan setiap orang mendapatkan tidur paling tidak 7-8 jam sehari. Jika kurang, khususnya jika sudah berlangsung lama, gangguan kesehatan bisa terjadi baik fisik maupun mental.

"Tidur kurang dari 7 jam per hari dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, termasuk peningkatan berat badan, tekanan darah, risiko penyakit jantung, penuaan dini, dan gangguan emosional," ujar dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter.

Sayangnya, memang tak semua orang punya kualitas tidur yang sama. Anda termasuk yang sulit tidur atau Anda termasuk orang-orang yang realistis (baca: kurang optimis), lakukan langkah-langkah di bawah ini untuk memperbaiki kualitas tidur.

  • Stop konsumsi kafein pada sore hingga malam hari.
  • Olahraga rutin.
  • Hindari rokok dan alkohol.
  • Atur pola tidur: tidur dan bangun pada waktu yang sama tiap harinya, termasuk saat hari libur.
  • Jangan terlalu lama tidur siang.
  • Buat suasana kamar tidur kondusif, misalnya tidur dalam kondisi gelap atau pakai lampu tidur dengan cahaya minum, atur suhu ruangan, tempat tidur dan selimut nyaman, menyalakan aromaterapi, dan lain-lain.
  • Jangan menggunakan dan jauhkan smartphone atau perangkat elektronik lainnya dari jangkauan, atur ke mode silent.
  • Hindari penggunaan obat tidur, terutama tanpa anjuran dokter.
  • Berpikir positif.

Untuk para optimis, bergembiralah bahwa optimisme mungkin memengaruhi kualitas tidur menjadi lebih baik. Dan untuk Anda yang pesimistis, paling tidak lakukanlah cara-cara di atas demi mendapatkan tidur yang berkualitas, sehingga kesehatan fisik dan mental tetap terjaga.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓
Sherly AnggraeniSherly Anggraeni

Sy msh minum obat hamil sm susu hamil dan madu hamil

Sherly AnggraeniSherly Anggraeni

Sy msh minum obat hamil sm susu hamil dan madu hamil

Sherly AnggraeniSherly Anggraeni

Tgl 31 juli sy test merahnya ada 2 Saya k bidan. Dan jg d srh ke bidan lg tgl 7agustus sy test lg merahnya ada 1 sy jd binggung kok pertama sy test merah nya ada 2 yg sy test lg merahnya ada 1 gimana y