Bagi Kulit lebih Berbahaya Polusi Udara atau Paparan Sinar Matahari?

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 15 Aug 2019, 13:00 WIB
Sehari-hari, banyak orang yang terpapar dengan polusi udara dan sinar matahari. Manakah yang paling berbahaya untuk kesehatan kulit Anda?
Bagi Kulit lebih Berbahaya Polusi Udara atau Paparan Sinar Matahari? (Antonio Guillem/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kulit merupakan salah satu bagian tubuh yang sangat menjadi perhatian. Kesehatan kulit, terutama pada wajah, sangat memengaruhi penampilan seseorang. Dua hal yang bisa berdampak pada kulit adalah polusi udara dan paparan sinar matahari. Tapi, manakah yang paling berbahaya di antara keduanya?

Banyak hal baik yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit, misalnya banyak minum, konsumsi sayur dan buah, serta penggunaan produk perawatan kulit. Di sisi lain, terdapat pula faktor-faktor yang membahayakan kulit, misalnya saja polusi udara dan paparan sinar matahari.

Dampak sinar matahari terhadap kesehatan kulit

Sinar matahari mengandung radiasi sinar ultraviolet (UV), yang berpotensi menimbulkan efek buruk pada kulit. Terdapat tiga jenis sinar ultraviolet, yaitu UVA, UVB, dan UVC. Sinar UVA umumnya dapat menembus lapisan dalam kulit.

Paparan sinar UVA berpotensi menimbulkan tanda-tanda penuaan (photoaging) pada kulit, misalnya saja timbul keriput dan pigmentasi kulit. Paparan UVA, jika ditambah dengan polusi udara akan membuat tanda-tanda penuaan tersebut lebih tampak jelas.

Paparan UVB umumnya menembus sel-sel di permukaan kulit, tepatnya pada epidermis. Gejala terbakar sinar matahari (sunburn), diakibatkan paparan UVB. 

Namun, baik UVB maupun UVA juga berisiko menyebabkan munculnya berbagai jenis kanker kulit, misalnya saja malignant melanoma, basal cell carcinoma (BCC), atau squamous cell carcinoma (SCC).  

Sementara, UVC umumnya diserap lapisan ozon dan oksigen pada atmosfer bumi. Sehingga, manusia jarang terpapar dengan UVC.

Polusi udara dan kesehatan kulit

Menurut WHO, polusi udara adalah kontaminasi lingkungan (baik dalam maupun luar ruangan) dengan zat kimia, fisik, maupun biologis yang dapat mengubah ciri-ciri dasar dari atmosfer. Berbagai zat digolongkan sebagai polutan, yang dapat menimbulkan polusi udara.

Salah satunya adalah PAH (polycyclic aromatic hydrocarbon) yang berasal dari pembakaran kayu dan asap kendaraan (terutama dengan mesin diesel). PAH dikaitkan dengan penampakan penuaan pada kulit dan pigmentasi kulit. Selain itu, PAH juga dihubungkan dengan kemunculan kanker kulit, terutama apabila terdapat juga paparan dengan UVA.

Polutan lainnya, ozon (O3) dihubungkan dengan berbagai masalah pada kulit, seperti urtikaria atau biduran, eksem, dermatitis kontak, dan berbagai ruam. Paparan dengan ozon ini juga dapat memperburuk jerawat pada kulit, karena menghasilkan zat yang apabila teroksidasi rentan menyumbat pori-pori kulit.

Ozon juga dapat menimbulkan keriput dan berbagai gejala penuaan kulit lainnya. Di sisi lain, kadar  ozon yang tinggi dapat membantu mengurangi radiasi UVB hingga 50 persen.

Polusi yang didapatkan dari jalan raya umumnya mengandung nitrogen oksida (NOx) dan karbon monoksida (CO). Bahan tersebut dikaitkan dengan kondisi dermatitis atopik dan eksim  pada kulit. Polutan lainnya, partikel polusi, dikaitkan dengan kemunculan keriput dan flek (age spot) pada wajah.

Tidak hanya di luar ruangan, sumber polusi pun dapat muncul di dalam ruangan, misalnya saja zat VOC (volatile organic compounds) yang ditemukan pada pelarut cat, pelitur dan asap rokok. Bahan ini dikaitkan dengan gejala eksim serta dermatitis atopik.

Selain itu, pada studi yang menggunakan hewan, VOC bersama dengan NOx dan sinar matahari dapat menimbulkan lesi pra-kanker pada kulit tikus.

Mana yang lebih berbahaya?

Jadi, antara polusi udara atau paparan sinar matahari, sulit dibedakan mana yang lebih berbahaya. Karena keduanya berpotensi menimbulkan gejala penuaan dan juga kanker kulit. Namun, polusi udara juga bisa menimbulkan gejala eksem dan dermatitis atopik.

Sebaiknya, usahakanlah untuk melindungi kulit dari paparan keduanya. Misalnya dengan penggunaan tabir surya, menghindari area tinggi polusi (jalan raya, sekitar pabrik, area bebas rokok), penggunaan antioksidan dalam produk perawatan kulit (misalnya vitamin C dan E), atau penggunaan air purifier di dalam ruangan.

Jadi jelaslah bahwa antara paparan sinar matahari dan polusi udara, keduanya sama-sama menimbulkan dampak pada kesehatan kulit. Oleh sebab itu, sebisa mungkin hindari keduanya. Jangan lupa juga untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

[NP/ RVS]