Bolehkah Penderita Diabetes Suntik Botox?

Oleh dr. Alberta Jesslyn Gunardi. BMedSc Hons pada 21 Aug 2019, 16:00 WIB
Suntik botox biasanya dilakukan untuk membuat wajah tampak lebih muda. Apakah penderita diabetes juga boleh melakukan suntik botox?
Bolehkah Penderita Diabetes Suntik Botox? (Olena-Yakobchuk/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Botox dikenal masyarakat umum sebagai salah satu cara untuk merawat kecantikan kulit. Sebab, suntik botox dapat mengurangi kerutan dan keriput, sehingga wajah tampak lebih muda. Tapi ternyata, fungsi suntik botox bukan hanya untuk kecantikan, lo. Penderita diabetes juga dapat menggunakan suntik botox untuk meredakan nyeri.

Botox atau botulinum toxin dihasilkan oleh bakteri anaerob Clostridium botulinum. Bakteri ini biasanya ditemukan pada tanah dan air. Prosedur botox selain dimanfaatkan untuk menunjang kecantikan juga ternyata berguna bagi kesehatan.

Manfaat suntik botox

Dalam dunia estetika, botox dimanfaatkan untuk menyamarkan kerutan dan keriput. Suntik botox pada dosis kecil diberikan pada otot wajah seperti pada otot dahi.

Hasilnya adalah ketika seseorang mengangkat alisnya, dahinya tidak akan berkontraksi, sehingga tidak terbentuk adanya kerutan atau keriput pada dahi. Sehingga, orang tersebut terlihat lebih muda. Selain untuk estetika terdapat kegunaan lain botox, seperti:

  • Menangani keluhan buang air kecil seperti ngompol, sering BAK, tidak bisa menahan BAK, dan sebagainya yang disebabkan oleh kandung kemih yang terlalu aktif.
  • Mencegah nyeri kepala pada penderita kronik migrain yang mengalami gejala lima belas hari atau lebih setiap bulannya, dengan nyeri kepala selama empat jam atau lebih per hari.
  • Mengobati otot yang semakin kaku seperti pada pergelangan kaki, jari kaki, siku, pergelangan tangan dan jari tangan pada penderita kekakuan pada tungkai atas dan bawah.
  • Mengobati posisi kepala yang tidak normal dan nyeri leher.
  • Mengobati masalah otot mata atau spasme kelopak mata yang tidak normal pada penderita usia diatas 12 tahun.
  • Mengurangi gejala ketiak berkeringat pada penderita hiperhidrosis yang parah.

Prosedur suntik botox pada penderita diabetes

Karena botox dapat mengurangi rasa nyeri, beberapa penelitian sudah dilakukan untuk mencari tahu penggunaan botox pada nyeri penderita diabetes neuropati. Penelitian menemukan bahwa terdapat perbaikan rasa nyeri pada penderita yang diberikan botox.

Diabetes neuropati adalah salah satu komplikasi dari diabetes. Penderita biasanya memiliki gejala nyeri kaki yang kronis. Hal ini disebabkan oleh kerusakan ujung saraf akibat gula darah yang naik dan turun secara drastis. Komplikasi ini biasanya tidak membaik dengan obat antinyeri biasa.

Tapi hati-hati, penggunaan botox untuk kosmetik dan pengobatan dapat memberikan efek samping, seperti:

  • Mulut kering
  • Nyeri pada tempat suntikan
  • Lelah
  • Nyeri kepala
  • Nyeri leher
  • Keluhan pada mata seperti penglihatan ganda, penglihatan kabur, penglihatan berkurang, bengkak pada kelopak mata, mata kering
  • Infeksi saluran kemih
  • Nyeri saat berkemih
  • Reaksi alergi.

Efek samping suntik botox

Meski prosedur suntik botox diperbolehkan untuk dilakukan, terdapat dua efek samping yang berbahaya dan mengancam jiwa, yaitu:

  • Masalah menelan, berbicara dan bernapas. Keluhan ini dapat terjadi dalam beberapa jam, hari bahkan minggu setelah diberi botox. Jika sudah parah dapat berakibat fatal karena mengganggu pernapasan seseorang.
  • Penyebaran efek racun yang disebut botulisme. Gejala botulisme seperti kelemahan otot seluruh tubuh, penglihatan ganda, penglihatan kabur dan kelopak mata yang turun, suara yang serak atau hilangnya suara.

Selain itu, gejala lainnya adalah bicara tidak jelas, hilangnya kontrol untuk buang air kecil, hingga kesulitan menelan dan bernapas. Keluhan ini dapat terjadi dalam beberapa jam, hari bahkan minggu setelah diberi botox.

Botox dapat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri pada penderita diabetes neuropati. Untuk mendapatkan manfaat suntik botox baik untuk estetika atau pengobatan, Anda harus menjalani prosedur ini yang dilakukan oleh dokter ahli.

[NP/ RVS]