Sering Dikira Sama, Apa Beda GERD dengan Sakit Mag?

Oleh dr. M. Dejandra Rasnaya pada 22 Aug 2019, 12:15 WIB
Sama-sama bikin nyeri ulu hati, GERD dengan sakit mag sering dianggap sama. Mari kenali lebih jauh apa perbedaan antara keduanya.
Sering Dikira Sama, Apa Beda GERD dengan Sakit Mag? (9nong/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Karena mirip, masih banyak masyarakat yang belum benar-benar paham apa perbedaan antara GERD dengan sakit mag. Keduanya sama-sama menimbulkan nyeri di ulu hati, tetapi penyebabnya berbeda, begitu juga penanganannya.

Penyakit lambung merupakan salah satu penyakit yang sering dialami. Penyakit lambung yang dimaksud bisa bermacam-macam, dan sering kali dianggap sebagai mag. Padahal jika dibiarkan, penyakit lambung tersebut bisa akibatkan gastroesophageal reflux disease alias GERD.

Apa itu GERD?

GERD adalah penyakit kronis pada sistem pencernaan yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke esofagus (kerongkongan). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya iritasi pada esofagus.

Normalnya pada saat Anda makan, makanan akan masuk ke mulut, dikunyah, lalu ditelan melewati esofagus. Setelah masuk lambung, biasanya makanan akan dikosongkan dan dicerna secara bertahap selama 3-4 jam.

Sebelum masuk lambung, ada pintu yang membatasi esofagus dan lambung, yang disebut sfingter esofagus bawah. Fungsinya adalah untuk mencegah makanan yang sudah masuk ke lambung dan bercampur dengan asam lambung kembali ke esofagus. Namun pada GERD, terjadi kerusakan pada sfingter tersebut, sehingga menyebabkan refluks (naiknya) asam lambung ke esofagus.

Pada penelitian yang dilakukan di RSUP Fatmawati pada tahun 2018, prevalensi GERD mencapai 49 persen dan lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria.

Selain di lambung, asam lambung dapat bersifat iritatif sehingga dapat merusak dinding esofagus dan menyebabkan esofagitis (peradangan di esofagus). Menurut penelitian di RSCM, terdapat 22 persen prevalensi esofagitis dengan menggunakan endoskopi.

Ciri-ciri khas GERD adalah sensasi terbakar atau panas di ulu hati (heartburn), terutama setelah makan dan dapat lebih buruk pada malam hari. Selain itu, lidah terasa pahit, susah menelan, ada rasa asam dan mengganjal di tenggorokan, suara serak, nyeri dada, batuk, hingga sesak.

Ibu hamil dan mereka yang obesitas berisiko mengalami GERD, karena adanya dorongan terhadap lambung—rahim yang membesar pada ibu hamil dan jaringan lemak pada obesitas.

Masih dari penelitian dari RSUP Fatmawati, angka kejadian GERD meningkat sesuai angka indeks massa tubuh (IMT) dan usia. Sebanyak 50 persen terjadi pada perokok aktif atau pasif, 33,3 persen pada peminum kopi rutin, 56,2 persen pada peminum alkohol rutin, dan 57,4 persen pada peminum teh rutin.

Apa beda GERD dan mag?

Istilah sakit mag sebetulnya tak ada dalam literatur medis. Asal-usul kata “mag” berasal dari bahasa Belanda, yang artinya lambung. Banyak orang yang salah paham dan mengira bahwa mag sama dengan GERD. Karena pada kebanyakan kasus, keluhan mag disebabkan oleh gangguan asam lambung dan gerakan lambung.

Istilah medis mag adalah dispepsia. Gejalanya pada lambung berupa mual, begah, kembung, baik disertai nyeri perut atau tidak. Mag lebih sering mencerminkan suatu kumpulan keluhan, bukan penyakit spesifik di pencernaan.

GERD merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan keluhan mag. Mag juga bisa menjadi tanda gastritis (radang lambung) atau tukak lambung (luka di dinding lambung).

Dispepsia biasanya disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur, sehingga asam lambung dapat melukai dinding lambung. Jika hal tersebut ditambah dengan kebiasaan langsung berbaring setelah makan, maka risiko terjadinya GERD akan meningkat.

Penanganan GERD dan mag

Penanganan GERD dan penyakit lambung lainnya hampir mirip. Namun, yang utama adalah perubahan gaya hidup seperti mengatur pola makan, menghindari rokok, kopi, teh, dan alkohol.

Pada penderita GERD, yang disarankan adalah pola makan teratur, tidak melewatkan sarapan, tiga kali makan besar dan diselingi camilan sehat seperti buah, serta mengunyah dengan benar. Selain itu, hindari langsung tidur atau berbaring setelah makan. Berikan jeda selama 3-4 jam.

Selain itu, biasanya dokter akan memberikan obat untuk mengurangi produksi asam lambung seperti antasida. Umumnya, kondisi GERD dapat dikendalikan dengan pengobatan. Namun, pola hidup, khususnya pola makan yang teratur tadi juga harus diterapkan.

Setelah membaca penjelasan di atas, kini Anda telah mengetahui apa saja perbedaan antara GERD dengan sakit mag. Jadi, jangan lagi salah kaprah, ya! Apa pun keluhan lambung yang Anda alami, baiknya periksakan ke dokter. Karena, beda penyebab, beda pula cara menanganinya.

(RN/ RH)