Anak Menggigit Binatang Sampai Mati, Gejala Gangguan Mental Apa?

Oleh Tamara Anastasia pada 22 Aug 2019, 17:01 WIB
Seorang anak di Cianjur didapati gemar menggigit dan menyiksa binatang sampai mati. Jenis gangguan mental apa yang dialaminya?
Anak Menggigit Binatang Sampai Mati, Gejala Gangguan Mental Apa? (PhotoSunny/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Baru-baru ini warganet dikejutkan dengan kabar seorang anak berusia 11 tahun asal Cianjur yang gemar menggigit binatang sampai mati. Anak dengan inisial RMY ini juga diketahui gemar menyiksa binatang yang ditemuinya. Bahkan, menurut laporan, ia menyiksa kodok yang masih hidup dengan mencekik, menarik tubuhnya hingga putus, dan akhirnya mati. Melihat kasus ini, apakah anak tersebut bisa dikatakan mengalami gangguan mental

Berdasarkan penuturan dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, anak yang gemar menggigit binatang hingga mati memang bisa dikatakan memiliki gangguan mental. Akan tetapi, jenis gangguan mental yang spesifik menggambarkan perilaku tersebut masih belum pasti karena perlu pemeriksaan lebih lanjut oleh tim dokter maupun tim psikiater. 

“Kalau masih bayi lalu suka menggigit binatang seperti bulu kucing atau anjing, itu tergolong normal. Tapi, kalau sudah mulai beranjak besar, binatang yang seharusnya disayang malah disiksa atau dibunuh, itu bisa dikatakan bahwa anak memiliki kondisi gangguan mental.  Tapi jenisnya gangguan mental seperti apa, itu perlu diteliti lebih lanjut,” tutur dr. Dyan Mega.

Meski masih membutuhkan pemeriksaan lebih dalam, dr. Dyan Mega menduga bahwa anak tersebut mungkin saja mengalami gangguan perilaku sadistis.

“Jika kasusnya seperti itu, sang anak mungkin mengidap gangguan perilaku sadistis. Pengidap gangguan perilaku ini biasanya memiliki rasa empati yang rendah dan memiliki kesenangan atau kepuasan sendiri ketika menyakiti binatang maupun manusia,” ujar dr. Dyan Mega.

Pemicu perilaku sadis pada anak

Hingga saat ini belum ada penyebab pasti mengapa seseorang bisa berperilaku sadis. Kendati begitu, dr. Dyan Mega mengatakan bahwa anak yang berperilaku sadis mungkin pernah mengalami trauma hebat akibat menerima kekerasan dari orang di sekitarnya. 

 “Segala sesuatu pasti muncul karena ada faktornya. Kalau dalam kasus ini, mungkin si anak pernah merasakan kekerasan secara fisik maupun mental, yang pada akhirnya membuat dia jadi menyakiti binatang,”

“Atau, bisa juga karena dia pernah melihat orang lain menyakiti binatang, jadi dia ikut-ikutan menyakiti binatang yang sekiranya enak untuk dijadikan sasaran,” tambah dr. Dyan Mega.

Mengatasi gangguan perilaku sadistis

Gangguan perilaku sadistis bisa diobati. Namun, pengobatannya perlu proses yang sangat panjang dan membutuhkan kesabaran yang ekstra. Ini karena perilaku manusia bukanlah suatu hal yang mudah untuk diubah. Apalagi, dalam kasus ini, sang anak sudah mulai menyiksa binatang sejak usia 6 tahun.

Terkait perilaku sadistis itu, dr. Dyan Mega menyarankan untuk membawa anak dengan perilaku tersebut untuk mengikuti kelas terapi psikolog. Selain itu, dukungan serta bantuan dari orang tua juga sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan sang anak sembuh dari perilaku sadistis. 

“Kalau orang tuanya hanya pasrah dan tidak berbuat apa-apa, percuma juga dibawa ke psikiater. Intinya, psikiater juga orang tua harus bekerja sama dalam menunjang keberhasilan anak agar terlepas dari perilaku sadisitis,” pungkas dr. Dyan Mega. 

Mengetahui ada anak yang gemar membunuh, menyiksa dan menggigit binatang sampai mati, diharapkan agar kasus ini segera ditangani oleh pihak yang lebih ahli. Pasalnya, jika tidak segera ditindak dengan saksama, gangguan mental berupa perilaku sadistis bisa dibawa sang anak hingga dewasa.

(NB/ RVS)