Tantri Kotak Kena Toksoplasmosis, Penyakit Apa Itu?

Oleh Nur Budhi pada 28 Aug 2019, 16:40 WIB
Vokalis grup band Kotak, Tantri dikabarkan mengalami penyakit toksoplasmosis. Kenali gangguan kesehatan ini dan lakukan tindakan pencegahan.
Tantri Kotak Kena Toksoplasmosis, Penyakit Apa Itu? (tantrisyalindri/Instagram)

Klikdokter.com, Jakarta Sedang menjalani kehamilan kedua, Tantri Syalindri Ichlasari atau lebih dikenal dengan panggilan Tantri Kotak dikabarkan positif mengalami toksoplasmosis. Mengutip laman liputan6.com, kabar ini beredar lewat unggahan Tantri di akun instagram pribadinya.

Toksoplasmosis itu sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa Toksoplasma gondii. Menurut data yang ada, kondisi ini mengenai hingga 95 persen populasi yang ada di dunia.

Dikatakan dr. Atika dari KlikDokter, toksoplasmosis adalah kondisi yang ditakuti karena bisa menyebabkan terjadinya kebutaan, kejang, gangguan mental, dan gangguan pertumbuhan otak janin.

“Infeksi toksoplasma atau toksoplasmosis juga bisa menyebabkan terjadinya peradangan otak bila terjadi pada orang dengan sistem imun rendah, termasuk ibu hamil. Gejalanya bisa berupa kejang, nyeri kepala, mual, muntah dan demam,” kata dr. Atika.

Lebih lanjut, dr. Atika mengatakan bahwa seseorang bisa mengalami toksoplasmosis akibat beberapa hal berikut:

1. Konsumsi makanan mentah

Mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi parasit toksoplasma. Risiko terjadi penyakit bisa meningkat bila Anda tidak mengolah makanan dengan higienis atau mengonsumsinya setengah matang.

2. Memelihara kucing

Memelihara kucing tanpa memperhatikan kebersihan. Kucing dapat terinfeksi toksoplasma jika memangsa hewan pengerat atau burung yang terinfeksi. Setelah terinfeksi, kucing akan mengeluarkan feses mengandung oosit yang dapat mengontaminasi tanah di lingkungan sekitar rumah Anda.

3. Ditularkan melalui ibu yang terinfeksi saat hamil

Ibu hamil yang sebelumya telah terinfeksi toksoplasma dapat menularkan kondisinya pada janin dalam kandungan. Ibu hamil yang terinfeksi bisa saja tidak mengalami gejala yang berarti. Namun pada janin, toksoplasma bisa menimbulkan masalah yang sangat serius.

Mencegah toksoplasmosis pada ibu hamil

Bagi Anda yang sedang hamil atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya toksoplasmosis adalah:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum mengolah dan menyentuh makanan yang hendak dikonsumsi.
  • Cuci daging, buah, dan sayuran dengan saksama agar kontaminan berbahaya yang menempel bisa dihilangkan sepenuhnya.
  • Hanya konsumsi makanan yang matang sempurna. Hindari yang masih mentah atau setengah matang.
  • Gunakan sarung tangan dan alas kaki yang memadai saat melakukan aktivitas yang berkontak langsung dengan tanah, misalnya berkebun.
  • Bila memelihara kucing, bersihkan liter box secara rutin setiap hari. Bila Anda adalah wanita hamil atau orang yang rentan dengan toksoplasmosis, mintalah orang lain untuk melakukan pekerjaan ini.

Apabila toksoplasma sudah terjadi, ibu hamil tidak perlu cemas berlebihan. Sebab, dr. Atika mengatakan bahwa saat ini pengobatan untuk penyakit tersebut sudah tersedia dan bisa ditemukan dengan mudah.

“Ibu hamil yang mengalami toksoplasma bisa ditangani menggunakan obat-obatan untuk mencegah janin terkena kondisi yang sama. Meski sudah diobati, ibu dan janin tetap harus dipantau secara rutin setiap bulan,” ungkap dr. Atika.

Namun, apabila ibu hamil membiarkan infeksi toksoplasma yang dialami tanpa pengobatan, risiko terjadinya keguguran atau kematian janin bisa sangat tinggi.

“Jikapun bayi berhasil bertahan hidup, toksoplasmosis yang dialaminya bisa menyebabkan kejang, pembesaran limpa pada hati, mata dan kulit kuning, infeksi mata yang parah, fungsi pendengaran kurang, dan gangguan psikotik,” pungkas dr. Atika.

Toksoplasmosis seperti dialami Tantri Kotak sangat berbahaya jika tidak diobati dengan segera, apalagi bila penyakit tersebut terjadi pada ibu hamil. Oleh karena itu, jika Anda mencurigai adanya penyakit ini, segera periksakan diri ke dokter. Semakin cepat dideteksi dan diobati, kemungkinan untuk sembuh akan semakin tinggi.

(NB/ RVS)