Amankah Ibu Hamil Minum Aspirin?

Oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti pada 29 Aug 2019, 11:00 WIB
Ibu hamil tak boleh sembarang makan obat-obatan. Bagaimana bila ibu hamil minum aspirin?
Amankah Ibu Hamil Minum Aspirin? (Africa Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Saat sedang hamil, konsumsi obat-obatan tentu harus menjadi perhatian, meskipun obat-obatan tersebut umum dan dijual dengan bebas. Lantas, bagaimana dengan aspirin? Amankah jika ibu hamil minum aspirin?

Kegunaan dan efek samping aspirin

Aspirin atau acetosal adalah salah satu jenis OAINS atau obat antiinflamasi nonsteroid yang kerap dimanfaatkan untuk membantu mengurangi rasa nyeri dan menurunkan demam. Obat ini mengandung bahan aktif asam asetilsalisilat, yang selain memiliki efek antiinflamasi, juga merupakan obat antiplatelet yang dapat membantu mencegah terjadinya penggumpalan darah.

Selain fungsinya sebagai obat antiinflamasi, aspirin sering kali diberikan sebagai salah satu terapi pada pasien-pasien yang butuh efek mengencerkan darah. Misalnya saja untuk pasien jantung koroner, serangan jantung, dan juga stroke. 

Fungsi lain dari aspirin inilah yang belum banyak diketahui khalayak umum, dan memengaruhi klasifikasi penggunaannya pada sebagian kelompok. Salah satunya pada ibu hamil.

Aspirin pada ibu hamil

Sebenarnya, aspirin mendapat kategori C dan D pada penggunaan untuk ibu hamil. Kategori C untuk kehamilan di bawah trimester ketiga, di mana aspirin dapat diberikan jika besar manfaat diharapkan melebihi risikonya terhadap janin Anda.

Sementara itu, kategori D untuk kehamilan trimester ketiga, di mana risiko bahaya akibat penggunaannya bisa bersifat menetap terutama pada janin, atau tidak bisa kembali membaik dengan sendirinya.

Mengingat pembagian kategori ini, ibu hamil yang berniat memilih aspirin sebagai terapi untuk keluhan nyeri, radang, atau demamnya sebaiknya berkonsultasi dahulu kepada dokter spesialis kandungan yang merawat. 

Ibu hamil sebaiknya memang tidak mengonsumsi obat selain daripada yang diresepkan oleh dokter selama kehamilan. Hal ini untuk mencegah timbulnya efek samping yang tidak diinginkan, yang bisa membahayakan ibu dan janin.

Risiko konsumsi aspirin pada ibu hamil

Konsumsi aspirin selama kehamilan dapat menyebabkan sejumlah gangguan pada perkembangan janin Anda. Salah satunya adalah meningkatkan risiko abrupsi plasenta – atau lepasnya plasenta.

Konsumsi aspirin pada trimester akhir kehamilan juga berisiko menyebabkan persalinan memanjang atau mundur. Selain itu, risiko janin mengalami gangguan jantung dan paru setelah lahir juga akan meningkat. Konsumsi aspirin yang tidak terpantau juga berisiko menyebabkan perdarahan selama dan sesudah persalinan.

Meski begitu, ada beberapa kasus di mana aspirin justru diberikan oleh dokter pada ibu hamil. Kondisi ini misalnya jika sang ibu memiliki gangguan pembekuan darah yang berisiko dapat menganggu aliran darah menuju ke plasenta.

Pada kondisi ini, aspirin dalam dosis tertentu dapat diberikan untuk mencegah terjadinya keguguran akibat aliran darah yang terhambat tersebut. Tentu pemberian obat ini harus selalu dalam pemantauan dokter kandungan Anda.

Aspirin juga dapat diberikan pada kondisi seperti preeklampsia. Pada kondisi ini, terjadi kelainan pada plasenta yang dapat menyebabkan berbagai gejala selama kehamilan, seperti tekanan darah yang tinggi, mual dan muntah hebat, pembengkakan tungkai, serta gangguan ginjal.

Tanpa rekomendasi dan pantauan dokter, tidak disarankan ibu hamil minum aspirin untuk mengatasi gejala radang selama kehamilan. Daripada mengonsumsi obat, Anda dapat mencoba berbagai tips non-medikamentosa (tanpa obat-obatan) terlebih dahulu. Misalnya, mengonsumsi teh hangat dengan madu, memperbanyak asupan cairan, dan banyak beristirahat. Namun, jika demam tak kunjung turun, segeralah berkonsultasi dengan dokter yang merawat kehamilan Anda.

[HNS/ RVS]