Sering Minum Obat Kuat Rentan Kena Hipertensi?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 29 Aug 2019, 17:20 WIB
Untuk meningkatkan performa seks, beberapa pria minum obat kuat. Jika konsumsinya sering, benarkah rentan kena hipertensi?
Sering Minum Obat Kuat Rentan Kena Hipertensi? (Africa-Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Obat kuat sering menjadi jalan pintas bagi para pria untuk meningkatkan performa seks dalam waktu singkat. Tapi ada pendapat yang mengatakan bahwa jika sering minum obat kuat justru rentan kena hipertensi. Benarkah pendapat ini?

Pria dengan disfungsi ereksi sering kali percaya bahwa menenggak obat kuat bisa mendongkrak, bahkan “menyelamatkan” kehidupan seks bersama pasangan. Obat kuat konon diciptakan untuk membantu para pria yang bermasalah dengan disfungsi ereksi.

Konsumsi obat-obatan yang terlalu sering atau berlebihan, apalagi yang tidak di bawah pengawasan dokter, bisa mendatangkan efek samping. Mungkin Anda yang mengonsumsi obat kuat pernah bertanya-tanya, apakah sering meminumnya bisa mendatangkan efek samping tertentu, semisal hipertensi?

Benarkah obat kuat picu hipertensi?

Penggunaan obat-obatan tertentu memang bisa menyebabkan hipertensi pada seseorang. Akan tetapi, menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, sejauh ini obat kuat belum terbukti dapat menyebabkan hipertensi.

Masih kata dr. Sepriani, mungkin beberapa orang bisa mengalami hipertensi karena obat kuat, tetapi sebetulnya hubungannya tidak langsung. Hingga detik ini, penyebab hipertensi paling sering adalah akibat konsumsi garam (natrium).

"Tergantung jenis obat kuatnya. Kalau obat kuatnya seperti viagra, bisa memengaruhi pembuluh darah, tapi tidak langsung membuat hipertensi. Biasanya kalau mengonsumsi obat kuat jenis viagra, penggunanya bisa mengalami gangguan pembuluh darah lain,” jelas dr. Sepriani.

Selain asupan garam yang terlalu tinggi, dr. Sepriani mengatakan penyebab hipertensi lainnya adalah gangguan ginjal dan gangguan metabolik seperti diabetes.

Sebaliknya, obat hipertensi bisa picu disfungsi ereksi

Dikatakan oleh dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter, hipertensi atau tekanan darah tinggi memang diketahui merupakan salah satu penyebab disfungsi ereksi, yaitu ketidakmampuan pria mempertahankan ereksi yang cukup untuk mencapai kepuasan seksual.

“Pada keadaan hipertensi, peningkatan tekanan darah yang berkepanjangan menyebabkan perubahan struktur dan fungsi dari arteri penis. Ditambah lagi dengan pengobatan obat hipertensi yang bergolongan diuretik dan beta-blockers, yang memiliki efek samping disfungsi ereksi,” ungkapnya.

Apabila Anda mengalami efek samping disfungsi ereksi akibat konsumsi obat hipertensi, utarakan keluhan tersebut kepada dokter Anda. Nantinya, dokter akan mengganti obat dengan golongan lain yang punya efek samping lebih kecil terhadap fungsi seksual.

1 of 2

Efek samping dari obat kuat

Seperti yang dikatakan oleh dr. Sepriani, meski obat kuat tidak menyebabkan hipertensi, tetapi tetap ada efek samping yang perlu Anda waspadai, yaitu:

  • Sakit kepala
  • Gangguan pencernaan
  • Penglihatan ganda
  • Gangguan penglihatan, misalnya pandangan sesaat jadi kebiruan
  • Gangguan pendengaran
  • Berkeringat
  • Jantung berdebar kencang tidak beraturan (palpitasi)
  • Xerostomia (mulut kering)
  • Insomnia
  • Meningkatkan risiko serangan jantung
  • Meningkatkan risiko stroke
  • Penurunan berat badan.

Selain itu, untuk mereka yang sudah berusia lanjut atau yang berpenyakit jantung dan mengonsumsi obat nitrat, efek sampingnya bisa berupa penurunan tensi darah secara drastis hingga mengancam nyawa.

Mengatasi disfungsi ereksi

Daripada terus-terusan minum obat kuat untuk meningkatkan performa seks, sebaiknya disfungsi ereksi segera diatasi. Lakukan langkah-langkah sederhana ini:

  • Aktif secara fisik

Disarankan oleh dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, juga dari KlikDokter, lakukan latihan fisik berupa jalan kaki, jogging, bersepeda, atau berenang. Sebuah studi dari Harvard membuktikan bahwa rutin berjalan kaki selama 30 menit setiap hari akan menurunkan risiko terjadinya disfungsi ereksi sebesar 41 persen.

“Selain itu, melakukan latihan fisik dengan teratur juga terbukti meningkatkan performa seks pria yang mengalami disfungsi ereksi atau impotensi,” ujarnya.

  • Atur asupan makanan

Makanan yang tinggi serat dan protein, serta rendah lemak terbukti dapat menurunkan risiko disfungsi ereksi. Pria lanjut usia yang memiliki kebiasaan makan buah, sayur, dan ikan terbukti memiliki risiko lebih rendah mengalami gangguan seksual tersebut.

  • Hindari dan kendalikan diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi

Penyakit diabetes dengan gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah. Salah satunya adalah gangguan aliran pembuluh darah di penis.

“Akibatnya, penis tidak mampu ereksi dengan baik. Selain itu, diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi dapat menyebabkan terjadinya stroke. Adanya kerusakan di otak akibat stroke juga dapat menyebabkan penis tak mampu ereksi,” ungkap dr. Resthie.

Oleh karena itu, cegah disfungsi ereksi dengan menghindari atau mengendalikan diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.

  • Jaga lingkar pinggang di bawah 100 cm

Studi menunjukkan bahwa pria dengan ukuran lingkar pinggang di atas 100 cm lebih berisiko mengalami disfungsi ereksi. Kelebihan lemak juga akan mengganggu kerja hormon seks pria, sehingga penis lebih sulit menegang saat bercinta.

  • Lakukan senam kegel

Studi membuktikan bahwa senam kegel yang dilakukan dua kali sehari selama tiga bulan dapat mengatasi keluhan disfungsi ereksi.

  • Hindari paparan asap rokok dan alkohol

Merokok, terpapar asap rokok, dan kebiasaan minum minuman beralkohol bisa menyebabkan gangguan aliran darah. Kata dr. Resthie, bila aliran darah ke penis terganggu, disfungsi ereksi pun akan dengan mudah terjadi.

Sering minum obat kuat memang tidak seketika membuat seorang pria rentan kena hipertensi. Meski begitu, daripada terus-terusan minum obat kuat yang ada efek sampingnya, lebih baik tangani disfungsi ereksi segera. Jika tips di atas tidak mempan, langkah paling bijak adalah berkonsultasi dengan ahli urologi agar segera bisa ditangani sesuai penyebabnya.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓