Mandi Saat Berkeringat, Boleh atau Tidak?

Oleh Ayu Maharani pada 30 Aug 2019, 13:00 WIB
Katanya, mandi saat berkeringat itu tidak boleh dilakukan karena dapat memicu timbulnya panu. Benarkah anggapan tersebut?
Mandi Saat Berkeringat, Boleh atau Tidak? (Dean Drobot/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Saat habis olahraga dan berkeringat, Anda pasti ingin kembali menyegarkan tubuh dengan mandi. Tapi. tunggu dulu. Mandi saat berkeringat dipercaya bisa membuat kulit bermasalah. Bahkan katanya, bisa menyebabkan panu. Kira-kira, benar atau tidak, ya, pendapat itu?

Menurut dr. Melyawati Hermawan, SpKK dari KlikDokter, panu disebabkan oleh jamur Pityriasis versicolor. Panu kerap dialami oleh mereka yang berusia produktif, misalnya remaja dan dewasa muda, khususnya yang tinggal di daerah beriklim panas dan lembap.

Jamur penyebab panu memang sangat menyukai minyak yang ada di permukaan kulit. Oleh karena itu, jika kulit sering berkeringat dan dibiarkan lembap, jamur akan tumbuh subur. Lalu, itu akan menyebabkan kelainan pada kulit. 

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, kalau keringat yang dibiarkan lembap memicu tumbuhnya jamur, apakah tandanya Anda boleh mandi saat berkeringat?

Sesuaikan dengan kondisi Anda

Ternyata, tidak ada jawaban pasti untuk kasus ini. Pasalnya, dr. Melyawati menganjurkan untuk menyesuaikan saja dengan kenyamanan, waktu, serta jenis kulit.

“Bila Anda memang ingin mandi saat berkeringat, Anda juga tahu bahwa kulit Anda berminyak, dan kulit memang akan terasa lebih nyaman setelah mandi, silakan lakukan,” jelasnya.

Meski mandi terbukti ampuh mengangkat keringat, minyak, dan kotoran yang ada di permukaan kulit, tetapi mandi pada dasarnya akan mengurangi kelembapan kulit.

Seperti yang sudah diketahui, keringat dapat membuat tingkat kelembapan kulit menjadi terlalu tinggi. Dengan mandi, justru dapat mengurangi kelembapan berlebih akibat keringat dan menurunkan risiko tumbuhnya jamur penyebab panu.

“Akan tetapi, bila Anda enggan mandi saat berkeringat, sebaiknya keringkan keringat yang ada di tubuh terlebih dahulu dengan handuk kecil dan berikan bedak tabur secukupnya agar kulit tidak terlalu lembap,” tambahnya. 

Jadi, timbulnya panu bukan disebabkan kondisi mandi saat berkeringat, melainkan karena kebiasaan membiarkan keringat terlalu lama berada di kulit tanpa mengeringkannya dengan handuk atau mengganti baju.

Keringkan keringat sebelum mandi

Sebenarnya, kepercayaan untuk tidak mandi saat berkeringat tidak cuma dipicu kekhawatiran soal panu. Saat Anda habis melakukan aktivitas yang melelahkan atau terkena cuaca panas, suhu tubuh tentu akan meningkat. Demi menormalkan kembali suhu yang terlalu tinggi, tubuh akhirnya mengeluarkan keringat. 

Keluarnya keringat secara tidak langsung bisa mendinginkan kembali suhu tubuh. Itulah mengapa, tubuh masih terasa panas, meski Anda sudah berkeringat. 

Jika dalam kondisi seperti itu, kemudian Anda langsung mengguyur tubuh dengan air, khususnya air dingin, menurut Stacy Sims, PhD, seorang ahli fisiologi di San Fransisco, hal tersebut akan mempersempit pembuluh darah dan justru memicu suhu tubuh untuk terus naik. 

Kesimpulannya, dari segi kondisi kulit, mandi saat berkeringat sah-sah saja untuk dilakukan. Pasalnya, mandi akan mengurangi kelembapan kulit yang berlebih sekaligus menghilangkan kuman. Jika Anda mendiamkan keringat dalam waktu lama tanpa mengeringkannya, hal yang selanjutnya timbul adalah infeksi jamur yang berujung pada timbulnya bercak-bercak putih. 

Lalu, bagaimana dengan masalah pembuluh darah dan suhu tubuh? Mungkin, ada baiknya Anda mengambil jalan tengahnya saja. Ketika Anda berkeringat deras dan tubuh masih terasa panas, istirahatlah sebentar sambil mengeringkan keringat. Tapi ingat, jangan terlalu lama.

Setelah agak rileks dan suhu tubuh Anda juga sudah mulai menurun usai olahraga dan berkeringat, mandilah dengan air bersuhu normal - tidak terlalu dingin atau panas. Dengan begitu, Anda tidak perlu lagi memusingkan soal mandi saat berkeringat karena dengan cara ini munculnya panu maupun gangguan suhu tubuh bisa dicegah sejak awal.

[MS/ RVS]