Stimulasi dan Pola Asuh untuk Membangun Anak Generasi Platinum

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 04 Sep 2019, 15:50 WIB
Membangun anak generasi platinum bisa dilakukan dengan berbagai cara termasuk lewat stimulasi dan pola asuh yang tepat.
Stimulasi dan Pola Asuh untuk Membangun Anak Generasi Platinum (Sunny Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Anak-anak masa kini berpeluang untuk tumbuh dan berkembang menjadi generasi platinum. Disebut anak generasi platinum berarti akan menjadi manusia yang berkualitas, produktif, dan piawai memanfaatkan teknologi. Semua hal itu bisa diwujudkan oleh orang tua lewat stimulasi dan pola asuh yang tepat.

Anak generasi platinum adalah mereka yang lahir pada awal abad ke-21, yaitu setelah tahun 2000. Di mana, di era tersebut, anak-anak akan tumbuh bersamaan dengan kemajuan teknologi. Apabila anak mampu memanfaatkan teknologi dan kecanggihan yang ada di sekitarnya dengan optimal, mereka akan memiliki daya saing yang lebih baik saat “menghadapi” di dunia. 

Nah, peran orang tua adalah membimbing anak agar mereka benar-benar mampu mengendalikan teknologi yang ada di sekitarnya. Dengan bimbingan yang tepat, anak tidak akan tersesat pada lembah kegelapan yang ada di balik kecanggihan setiap teknologi.

Hal yang perlu orang tua lakukan 

Supaya anak bisa tumbuh menjadi generasi platinum yang siap menghadapi kehidupan di masa mendatang, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan stimulasi yang tepat.

Menurut dr. Muliaman Mansyur, stimulasi yang dimaksud adalah berupa interaksi antara orang tua dan anak. 

"Interaksi antara orang tua dengan anak berefek positif dalam perkembangan emosional, kemampuan belajar, serta perkembangan kognitif si Kecil. Sedangkan,  kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan dan keterlambatan tumbuh kembang anak," ujar dr. Muliaman.

Bentuk interaksi yang bisa dilakukan oleh orang tua dengan anak, misalnya memberikan sentuhan lembut, memeluk, berbicara, dan mendengarkan anak saat ia menyampaikan pendapat. 

Setelah memberikan stimulasi yang tepat, yang perlu dilakukan pada langkah selanjutnya adalah pola asuh yang sesuai. Secara umum, ada empat jenis pola asuh orang tua kepada anak. 

  1. Pola asuh otoriter

Ciri dari jenis pola asuh ini mudah dikenali, karena biasanya berurusan dengan peraturan ekstra ketat yang wajib diikuti oleh anak. Pola asuh otoriter menuntut anak untuk selalu manut pada orang tua tanpa kompromi. Selain itu, orang tua yang menerapkan pola asuh ini juga tidak mempertimbangkan pendapat dan perasaan anak, serta memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak.

"Hubungan orang tua dan anak dalam jenis pola asuh ini cenderung dingin dan berjarak. Selain itu, lebih banyak menggunakan hukuman ketimbang strategi disiplin. Hasilnya, sering kali bertolak belakang dengan keinginan orang tua," ungkap dr. Muliaman.

  1. Pola asuh permisif

Permisif atau serba boleh. Pada pola asuh jenis ini, orang tua bersikap sangat santai, bebas, dan mencoba menjadi teman bagi anaknya. 

Ciri-ciri pola asuh permisif adalah orang tua hanya memiliki sedikit aturan, tetap memenuhi kebutuhan anak, dan menganggap anak lebih tahu yang terbaik untuk dirinya. Lalu, orang tua juga biasanya jarang memberikan hukuman, lebih banyak menuruti kemauan anak ketimbang memberikan panduan.

"Karena jarang diberikan batasan dan petunjuk mengenai pilihan yang baik, anak akhirnya cenderung lebih egois, impulsif, sulit diatur, dan kurang disiplin," kata dr. Muliaman.

1 of 2

Selanjutnya

  1. Pola asuh pengabaian (neglected)

Pada jenis pola asuh ini, orang tua sangat abai dengan kebutuhan anak. Beberapa ciri umum dari pola asuh ini adalah tidak adanya aturan dan hukuman. Anak diharapkan untuk belajar dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Jarang ada komunikasi antara anak dan orang tua.

  1. Pola asuh demokratis

Ini adalah kombinasi antara tips permisif dan otoriter. Cirinya, hubungan positif dan hangat antara orang tua dan anak. Ada aturan tegas, disertai penjelasan di balik aturan tersebut. Orang tua dengan tipe pola asuh demokratis menerapkan aturan dan memberikan konsekuensi, dengan tetap mempertimbangkan pendapat dan perasaan anak. 

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh demokratis cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan yang lebih baik. Mereka juga menjadi pribadi bertanggung jawab, yang tidak ragu mengungkapkan pendapat mereka. 

"Jadi, sebaiknya pilih pola asuh demokratis," saran dr. Muliaman.

Mengenali dan mengembangkan potensi anak

Sebagai orang tua, Anda perlu tahu betul cara mengenali dan mengembangkan potensi anak agar mereka benar-benar mampu tumbuh dan berkembang menjadi generasi platinum. Oleh karena itu, jika Anda menemukan kendala di tengah prosesnya, dr. Muliaman menyarankan Anda untuk berkonsultasi ke psikolog anak atau dokter tumbuh kembang anak.

Satu hal yang perlu selalu diingat, setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Ini artinya, laju tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda. Begitu juga dengan stimulasi dan pola asuh yang mesti Anda terapkan guna mencetak anak generasi platinum. Karenanya, jika Anda kesulitan untuk mengetahui mana yang terbaik bagi si Kecil, jangan sungkan bertanya langsung pada psikolog anak, dokter spesialis anak, atau pakar tumbuh kembang anak.

(NB/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓