Mengasuh Anak Autis, Apa Pengaruhnya pada Orang Tua?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 04 Sep 2019, 17:00 WIB
Mengasuh anak autis bisa tak mudah. Untuk orang tua, tanpa disadari ini bisa berpengaruh pada kehidupan sosialnya.
Mengasuh Anak Autis, Apa Pengaruhnya pada Orang Tua? (New-Africa/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian orang tahu bahwa mengasuh anak autis bisa menantang. Bahkan untuk orang tua, tanpa disadari kesibukan ekstra tersebut bisa memengaruhi kehidupan sosialnya.

Autisme, lengkapnya adalah gangguan spektrum autisme (ASD), adalah suatu spektrum kelainan pada perkembangan yang dapat menyebabkan masalah pada aspek sosial, komunikasi, dan perilaku seseorang. Istilah spektrum di sini menggambarkan bahwa kelainan ini memiliki rentang luas dalam hal gejala, kemampuan, dan keterbatasan pada penderitanya.

Membesarkan anak dengan autisme bisa mengubah kehidupan orang tua, begitu orang-orang di sekitarnya. Dilansir dari Parents, Dr. Naomi Weishenker, M.D, seorang psikiater asal Amerika Serikat (AS) mengatakan, selama ia menangani anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD), ia tahu betul bahwa orang tua anak-anak tersebut “berjuang” dengan kehidupan sosial, salah satunya adalah pertemanan mereka.

Mengasuh anak dengan autisme butuh waktu, tenaga, dan kadang meliputi fondasi finansial yang kuat agar anak bisa tetap berkembang secara optimal.

"Orang tua yang memiliki anak dengan autisme harus ekstra fokus pada perkembangan anak-anaknya. Karena secara umum, kualitas hidup, kehidupan sosialnya, dan kemampuan belajar anak terhambat. Makanya butuh ekstra perhatian dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga, dalam hal ini orang tua. Pastinya makan waktu, tenaga, dan uang yang lebih banyak," ujar dr. M. Dejandra Rasnaya dari KlikDokter menanggapi.

“Waktunya orang tua tentu lebih dicurahkan kepada anaknya. Ibaratnya seperti pendampingan total,” lanjutnya.

Nah, pendampingan total inilah yang terkadang tanpa disadari memengaruhi kehidupan sosial para orang tua dengan anak autisme. Dilansir dari laman Parents, orang tua yang memiliki anak autis akan banyak kehilangan waktu sosial mereka dengan orang tua lainnya.

Merawat anak dengan autisme pengaruhi kehidupan sosial orang tua

Idealnya, orang tua berteman dengan orang tua lainnya, yang mana anak-anaknya seusia. Pertemanan ini juga termasuk menyaksikan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang, hingga dewasa. Masalahnya, orang tua dengan anak autisme tak hanya memiliki masalah mengenai interaksi dengan anak, tetapi juga memengaruhi hubungan dengan teman-teman dan anggota keluarga.

Banyaknya janji terapi dan konsultasi mungkin berdampak pada kehidupan sosial orang tua. Namun, dikatakan oleh Kate Fiske, Psy.D, profesor psikologi klinis dari Universitas Rutgers, AS, kepada Parents, ada alasan lain kenapa orang tua yang mengasuh anak dengan autisme mungkin gagal membangun hubungan sosial. Alasan yang dimaksud adalah stigma dan ketidakmampuan untuk memahami perbedaan perilaku.

Misalnya, banyak orang tua yang tidak mengerti anak dengan autisme, sehingga kadang menganggap perilaku mereka aneh atau tak pantas. Ada pula orang tua yang merasa terganggu saat seorang anak dengan autisme mengalami tantrum di sebuah acara atau tempat umum.

Alasan lainnya adalah seiring bertambahnya usia anak, masalah baru pun muncul. Beberapa orang tua dengan anak autisme mungkin harus dengan sedih menerima bahwa anak mereka gagal mencapai target perkembangan yang diharapkan, misalnya berteman atau berkencan. Perbincangan dengan orang tua dengan orang tua lainnya dengan anak-anak yang “normal” bisa begitu menyakitkan, apalagi kalau sudah membicarakan prestasi.

Suzanne Buchanan, Psy.D, direktur eksekutif organisasi nonprofit Autism New Jersey menambahkan, “teman-teman mungkin tidak sengaja mengatakan sesuatu yang membuat kesal atau memicu pergolakan emosi.”

1 of 2

Jangan menarik diri dari pergaulan

Naomi sangat menyarankan bagi orang tua yang mengasuh anak dengan autisme untuk tidak menarik diri dari pergaulan. Seperti yang tertulis di Harvard Study of Adult Development, memiliki teman lama atau jangka panjang yang benar-benar mengenal diri Anda bisa meningkatkan suasana hati, melawan rasa sepi, serta dapat meningkatkan kesehatan dan bikin panjang umur.

Mungkin akan sulit bagi anggota keluarga menyesuaikan diri setelah anak terdiagnosis autisme. Namun teman-teman yang bersedia melakukan upaya untuk mendukung keluarga dengan anak autisme bisa mendapat pelajaran berharga, khususnya tentang toleransi dan empati.

Untuk Anda yang tahu seseorang dengan anak autisme, berikut ini adalah tips untuk menjadi teman yang baik.

  • Sediakan waktu untuk mendengarkan.
  • Lebih baik tidak memberi saran jika tidak diminta, yang mungkin saja tidak sesuai dengan kebutuhan keluarga saat itu.
  • Jika orang tua dengan autisme mengutarakan keinginan untuk beristirahat, tawarkan diri Anda untuk membantu pekerjaan rumah. Misalnya mencuci, memasak, dan lain-lain.
  • Jika ada anak lain dalam keluarga, kakak atau adik, tawarkan diri Anda untuk mengantarnya atau menemaninya beraktivitas.
  • Berusaha untuk fleksibel dan pahami ketika teman Anda tersebut tak bisa bersosialisasi karena sibuk mengurus kebutuhan khusus anaknya.

Orang tua yang mengasuh anak autis disarankan untuk membangun hubungan dengan keluarga lain yang juga punya anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian Anda bisa saling berbagi informasi, cerita, berkeluh kesah, bahkan saling memberikan dukungan.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓