3 Hal yang Bisa Memperburuk Kondisi Gigi Sensitif

Oleh drg. Callista Argentina pada 06 Sep 2019, 14:30 WIB
Kurangnya pengetahuan tentang gigi sensitif membuat semakin banyak orang mengalaminya. Lalu, apa saja hal yang bisa memperburuknya?
3 Hal yang Bisa Memperburuk Kondisi Gigi Sensitif (Freedom Life/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kasus gigi sensitif kini semakin banyak terjadi, tidak hanya di kalangan lanjut usia tapi juga pada dewasa muda. Kurangnya pengetahuan mengenai gigi sensitif turut membuat orang-orang jadi tidak sadar akan hal-hal yang bisa menyebabkannya. Memangnya, apa saja hal-hal yang dapat memperburuk kondisi gigi sensitif?

Gigi sensitif merupakan suatu keadaan ketika bagian dentin yang merupakan jalan masuk menuju saraf gigi kehilangan pelindungnya. Sehingga, paparan terhadap panas dan dingin langsung menyerang gigi.

Dalam artikel yang tertuang di jurnal MedInform, Department of Conservative Dentistry and Oral Pathology, FDM, Medical University of Varna, menunjukkan bahwa penderita gigi sensitif terbanyak adalah orang dewasa berusia 20-40 tahun. Lebih spesifik lagi, yaitu pada usia akhir 30.

Hasil yang cukup mengejutkan, sebab paling banyak justru tidak terjadi pada usia di atas 60 tahun. Padahal, orang-orang berusia di atas 60 tahun umumnya memiliki gigi yang telah mengalami atrisi, yaitu kerusakan karena pemakaian jangka waktu lama.

Begitu juga di Indonesia, di mana 1 dari 3 orang mengalami gigi sensitif. Di antara para penderita gigi sensitif tersebut, 2 dari 5 orang berusia antara 18-35 tahun. Hal tersebut menunjukkan pentingnya untuk merawat gigi sejak usia muda.

Masalah gigi sensitif yang dibiarkan juga dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Menurut sebuah studi yang melibatkan 905 responden berusia 18-65 tahun asal Kanada, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa, 70,4 persen pasien dengan hipersensitivitas dentin menyatakan bahwa mereka mengalami keterbatasan fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terutama dalam menikmati makanan dan minuman favorit mereka.

Kebiasaan-kebiasaan yang memperburuk kondisi gigi sensitif

Fenomena unik tersebut mungkin terjadi karena tanpa sadar Anda sering melakukan kebiasaan yang dapat menyebabkan dan memperburuk gigi sensitif. Berikut adalah beberapa kebiasaan buruk tersebut, serta akibatnya jika kondisi tersebut terus dibiarkan:

  • Menyikat gigi terlalu kencang

Sebenarnya, menyikat gigi itu cukup dengan tenaga yang ringan saja. Lakukan 5-10 kali gosokan per 2-3 gigi. Ingat, tujuan menyikat gigi adalah untuk membersihkan sisa makanan dan plak gigi yang lunak.

Saat menyikat gigi, yang perlu lebih Anda perhatikan adalah bagian sela-sela gigi yang harus terkena bulu sikat. Jadi, pada prinsipnya, menyikat gigi itu cukup dengan tekanan ringan, tapi harus akurat.

Gunakan juga sikat gigi dengan bulu lembut, hindari pasta gigi yang berbutir kasar, dan ganti sikat gigi setiap tiga bulan sekali. Pada penderita gigi sensitif, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter gigi mengenai teknik sikat gigi yang cocok agar gigi sensitif tidak bertambah parah.

Jika kebiasaan menyikat gigi tidak diperbaiki, maka bisa menyebabkan penurunan gusi yang semakin lebar, gigi akan terlihat memanjang, dan terasa ngilu bila terkena bulu sikat, atau bahkan saat berkumur dan minum air putih.

  • Mengonsumsi minuman dan makanan yang asam

Makanan dan minuman asam sebaiknya dihindari karena dapat memperparah gigi sensitif. Apalagi jika dijadikan sebagai camilan sebelum tidur atau di malam hari.

Setelah mengonsumsi minuman bersoda, jeruk nipis, jus lemon, cuka, dan lainnya, sebaiknya jangan langsung menyikat gigi. Setidaknya, tunggu 30-60 menit supaya mineral dalam gigi tidak larut dan terbuang.

Setelah mengonsumsi minuman dan makanan yang asam tersebut, disarankan untuk minum air putih atau susu untuk menetralkan keasamannya. Hindari juga menikmati minuman asam dengan menyeruputnya, lebih baik gunakan sedotan (kertas, bambu, atau logam).

Apabila Anda tidak menghindari kebiasaan ini, maka lama-kelamaan gigi akan keropos dan berlubang karena mengalami erosi gigi akibat zat asam tersebut. Jika sudah begitu, gigi akan lebih cepat ngilu bila terkena makanan atau minuman tersebut.

  • Mengunyah es batu dan membuka kemasan dengan gigi

Kebiasaan mengunyah sesuatu yang dingin dan bertekstur keras dapat menambah risiko terjadinya gigi retak atau patah, sehingga gigi bisa menjadi semakin sensitif. Begitu juga dengan kebiasaan membuka kemasan atau tutup botol dengan gigi.

Hal-hal tersebut dapat membuat enamel gigi menjadi semakin lemah. Jika lapisan enamel sudah lemah, maka akan berisiko mengalami gigi patah. Sementara gigi yang sudah patah, tentu akan terasa sangat ngilu bila digunakan untuk menggigit makanan.

1 of 2

Apa yang harus dilakukan bila gigi sensitif sudah memburuk?

Bila kondisi gigi sensitif sudah semakin memburuk, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan, antara lain:

  • Berkonsultasi ke dokter gigi mengenai riwayat dan kebiasaan-kebiasaan yang dicurigai sebagai pemicu terjadinya gigi sensitif.
  • Membedakan antara rasa ngilu akibat gigi sensitif dengan rasa ngilu akibat penyakit gigi lainnya.
  • Untuk mengatasi keluhan gigi sensitif dengan rasa ngilu ringan sampai sedang, maka bisa dilakukan terapi gigi sensitif di rumah. 
  • Pemberian pasta gigi dengan kandungan tertentu, seperti strontium asetat dan potasium nitrat, dapat mengurangi keluhan gigi sensitif. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam Journal of Dentistry, Shiraz University.

Cara kerja strontium asetat dalam meredakan rasa ngilu akibat gigi senisitif adalah dengan menciptakan oklusi yang cepat dan dalam, serta tahan terhadap asam.

Sementara potasium nitrat, bekerja dengan membaur ke dalam struktur lapisan dentin yang menyerupai pipa (tubulus dentin) berisi cairan dan mengandung ujung serabut saraf gigi. Pada prosesnya, potasium nitrat akan menetralkan saraf dan memblokir transmisi rasa nyeri ke otak, sehingga sensitivitas gigi bisa diredam. 

Setelah terapi gigi sensitif di rumah selama 2-4 minggu, maka kondisi gigi perlu dievaluasi kembali oleh dokter gigi. Jika gigi masih terasa ngilu, maka perlu dilakukan terapi tahap berikutnya, yaitu terapi gigi sensitif yang dilakukan di dokter gigi.

Untuk mengatasi keluhan gigi sensitif yang lebih parah atau hanya melibatkan 1-2 gigi, maka perlu dilakukan tindakan di dokter gigi.

  • Terakhir, jika terapi di atas tidak juga efektif, maka perlu dipertimbangkan untuk melakukan perawatan saraf gigi. Pada tahap ini, saraf gigi sudah dimatikan, sehingga tidak ada lagi rasa ngilu.

Pengetahuan tentang hal-hal yang dapat menyebabkan dan memperburuk kondisi gigi sensitif adalah kunci untuk menghindari gangguan tersebut. Selain itu, jangan lupa juga untuk menjadwalkan pemeriksaan gigi secara rutin setiap enam bulan sekali, sebagai upaya pencegahan kasus gigi sensitif yang parah.

[MS/ RH]

Lanjutkan Membaca ↓