6 Cara Mencegah Keinginan Bunuh Diri pada Remaja

Oleh Tamara Anastasia pada 09 Sep 2019, 17:00 WIB
Bunuh diri adalah fenomena global. Remaja juga rentan melakukannya. Adakah cara untuk mencegah keinginan bunuh diri pada remaja?
6 Cara Mencegah Keinginan Bunuh Diri pada Remaja (Aleshyn_Andrei/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kondisi kesehatan mental anak dan remaja kian memprihatinkan, yang ditandai dengan meningkatnya percobaan bunuh diri. Orang tua dan orang-orang terdekat perlu tahu cara mencegah keinginan bunuh diri pada remaja.

Angka kejadian bunuh diri remaja di Indonesia

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian kejadian bunuh diri di Indonesia (berbagai umur) tahun 2016 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2000. Per 100 ribu populasi, pada tahun 2000 angka kematian bunuh diri adalah 3,9, pada tahun 2005 turun menjadi 3,8, lalu tahun 2010 menjadi 3,6, dan tahun 2015 turun lagi menjadi 3,4 hingga tahun 2016 bertahan di angka yang sama.

Walau ada kecenderungan penurunan, tetapi angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia masih tergolong tinggi. Ini bisa dilihat dari perbandingan dengan angka kematian bunuh diri pada tingkat regional dan global. Pada tahun 2016, per 100 ribu populasi, angka kematian bunuh diri di wilayah Asia Tenggara adalah 13,2, sedangkan di tingkat global adalah 10,6.

Juga data dari WHO tahun 2016, tren kasus bunuh diri di kalangan remaja dan dewasa muda (15-29 tahun) cukup tinggi dibandingkan dengan orang dewasa.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pernah melakukan survei pada siswa SMP dan SMA (usia 13-18 tahun). Hasilnya menunjukkan sebanyak 5,14 persen siswa pernah memikirkan untuk bunuh diri dan sekitar 2,39 persen mengaku pernah melakukan percobaan bunuh diri (Kemenkes, 2015). Angka ini mengonfirmasi tingginya angka bunuh diri di Indonesia di usia remaja dan dewasa muda (15-29 tahun).

Cara mencegah keinginan bunuh diri pada remaja

Bunuh diri adalah masalah global yang masih banyak disepelekan. Mengingat angka kejadian bunuh diri di kalangan remaja cukup mengkhawatirkan, upaya pencegahan bunuh diri harus dilakukan secara saksama dan melibatkan banyak pihak dengan berbagai pendekatan.

Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), menyatakan bahwa penyebab kelompok usia remaja dan dewasa muda dalam perkembangannya rentan dalam menghadapi masalah pribadi, lingkungan yang berhubungan dengan identitas diri, kemandirian, situasi dan kondisi di rumah, lingkungan sosial, serta hak dan kewajiban yang dibebankan oleh orang tua mereka.

Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah percobaan bunuh diri antara lain:

1. Jangan biarkan anak mengalami depresi atau kecemasan

Jika anak tidak seceria biasanya dan Anda curiga ada yang tak beres, jangan tunggu sampai ia bercerita. Tanyakan langsung apa yang membuat mereka berubah atau yang mereka hadapi.

Menurut dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter, salah satu tugas terpenting orang tua adalah mengetahui masalah apa saja yang dihadapi anak.

“Bukan bermaksud kepo atau mau ikut campur urusan anak, tapi jika masalah dihadapi anak sampai membuatnya stres atau depresi, maka orang tua perlu tahu dan membantu mengatasinya. Beri anak perhatian agar mereka mau terbuka dengan Anda,” ujar dr. Devia.

1 of 3

Selanjutnya

2. Dengarkan Anak meski ia tidak bercerita

Sebuah penelitian menunjukan bahwa komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak adalah satu dari banyak penyebab anak memutuskan untuk bunuh diri.

Ketika anak tidak mendapatkan perhatian atau tak bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang tuanya, ia akan merasa sendirian. Untuk itu, orang tua perlu mendengarkan apa pun yang keluar dari mulut anak. Pastikan mereka tahu bahwa orang tuanya akan selalu ada dalam kondisi apa pun.

3. Jangan abaikan ancaman bunuh diri yang dilontarkan anak

Remaja yang mencoba bunuh diri sering kali memberikan “sinyal” yang sayangnya tidak disadari orang tua atau orang-orang di sekitarnya.

Jika Anda melihat coretan atau mendengar anak mengatakan hal-hal seperti seperti “aku ingin mati”, “aku bosan hidup”, “aku sudah tak peduli lagi pada hidup”, dan lain-lain, jangan mengabaikannya.

Tanpa marah-marah atau menghakimi, tanyakan anak apa maksud dari pernyataan atau perkataannya tersebut. Tanyakan juga masalah apa yang sedang ia hadapi. Katakan pada anak bahwa Anda tak akan pernah meninggalkannya dalam kondisi apa pun. Perkataan dan tindakan yang menenangkan bisa membuatnya lebih aman dan terbuka.

4. Ajak anak untuk olahraga rutin

Aktivitas fisik yang sederhana seperti berjalan santai atau meditasi mampu meredam stres psikis atau depresi yang dialami oleh anak.

“Olahraga akan melepaskan hormon endorfin, yang dipercaya mampu memperbaiki mood anak. Endorfin juga menurunkan jumlah kortisol (hormon depresi) dalam tubuhnya,” jelas dr. Devia.

Selain itu, olahraga bisa mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dialami dan menjadikan pelakunya merasa lebih baik. Para ahli merekomendasikan aktivitas fisik selama 150 menit dalam seminggu.

5. Bercerita pada anak

Tidak hanya anak, tapi orang tua juga perlu bercerita dengan buah hatinya. Biarkan anak Anda tahu bahwa dirinya tidak sendirian ketika sedang sedih, marah, maupun sedang merasa cemas. Katakan bahwa semua orang pasti pernah mengalami momen sulit, termasuk diri Anda. Ceritakan juga bagaimana cara Anda mengatasinya.

“Saat anak mendengar cerita Anda, perlahan ia akan ikut terbuka dan menceritakan masalah yang dihadapinya. Ini adalah cara terbaik agar anak mau membuka dirinya dengan Anda,” demikian kata dr. Devia.

6. Minta bantuan profesional

Jika perilaku anak remaja sudah mengkhawatirkan, jangan tunggu untuk menghubungi psikolog atau psikiater. Kemungkinan untuk mengatasinya dibutuhkan konseling atau terapi.

2 of 3

Kenali faktor risiko bunuh diri pada remaja

Melewati masa remaja, “terjebak” di antara masa anak-anak dan dewasa, bisa tak mudah. Ada tekanan untuk bisa menyesuaikan diri secara sosial, berprestasi secara akademik, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Masa remaja juga merupakan masa identitas seksual dan hubungan, serta kebutuhan akan kebebasan yang sering kali berkonflik dengan aturan dan ekspektasi yang diatur orang-orang di sekitarnya.

Usia muda dengan masalah mental – misalnya kecemasan, depresi, gangguan bipolar, atau punya masalah insomnia – memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan pikiran tentang bunuh diri. Remaja yang mengalami kejadian traumatis atau perubahan besar dalam kehidupannya (misalnya konflik atau perpisahan orang tua, pindah ke kota atau negara lain, keterpurukan finansial) dan mereka yang menjadi korban perundungan (bullying) juga rentan memiliki pikiran bunuh diri.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri pada remaja antara lain:

  • Gangguan psikologis seperti depresi, gangguan bipolar, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.
  • Perasaan tertekan, mudah marah, dan gelisah.
  • Perasaan putus asa dan merasa diri tak berharga yang sering menyertai depresi.
  • Pernah melakukan tindakan percobaan bunuh diri.
  • Riwayat keluarga akan depresi atau bunuh diri.
  • Mengalami pelecehan secara emosional, fisik, atau seksual.
  • Kurangnya dukungan, hubungan dengan orang tua atau pertemanan yang buruk, serta perasaan isolasi sosial.
  • Orientasi biseksual atau homoseksual di dalam lingkungan keluarga atau komunitas yang tidak mendukung.
  • Hidup di lingkungan yang punya stigma terkait pencarian layanan kesehatan mental.
  • Hambatan dalam mengakses informasi seputar kesehatan mental.

Tanda-tanda yang harus diwaspadai

Tak semua orang menunjukkan tanda-tanda yang sama saat berpikir tentang bunuh diri. Namun, beberapa tanda di bawah ini harus diwaspadai.

  • Perubahan kepribadian: kesedihan, menarik diri, lekas marah, kecemasan, kelelahan, dan kebingungan.
  • Perubahan perilaku: hubungan sosial yang memburuk dan mengurangi keterlibatan dalam aktivitas positif.
  • Gangguan tidur: insomnia, tidur terlalu lama, dan mimpi buruk.
  • Perubahan pola makan: nafsu makan turun, berat badan turun, atau makan berlebihan.
  • Takut kehilangan kendali: perilaku tak bisa ditebak atau menyakiti diri atau orang lain.
  • Perubahan fisik atau tak lagi memedulikan kebersihan diri.
  • Nilainya di sekolah tiba-tiba anjlok.
  • Melontarkan sesuatu yang berkaitan dengan bunuh diri atau kematian.
  • Mencari tahu tentang metode bunuh diri dan – atau – mencari cara untuk mendapatkan senjata.
  • Berbicara tentang rasa putus asa atau tak ada lagi alasan untuk tetap melanjutkan hidup.
  • Perilaku berisiko seperti berkendara ugal-ugalan atau seks tanpa pengaman.

Memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia tiap tanggal 10 September, mengetahui faktor risiko dan tanda-tandanya bisa menjadi salah satu cara bagi orang tua untuk mencegah keinginan bunuh diri pada remaja. Setelahnya, lanjutkan dengan tindakan dengan berbagai pendekatan, termasuk membawa anak remaja Anda ke psikolog untuk berkonsultasi.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓