Sembarangan Minum Obat Penurun Kolesterol, Ini Akibatnya

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 10 Sep 2019, 10:00 WIB
Bukannya kolesterol turun, sembarangan minum obat penurun kolesterol malah bisa berakibat buruk pada tubuh.
Sembarangan Minum Obat Penurun Kolesterol, Ini Akibatnya (Wolfgang Zwanzger/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tingginya kolesterol dalam darah memang bisa dikontrol dengan obat penurun kolesterol. Namun jika Anda minum obat ini secara sembarangan, bisa mengakibatkan dampak buruk pada tubuh.

Salah satu obat yang digunakan untuk mengurangi kadar kolesterol dalam darah adalah atorvastatin. Efek samping konsumsi obat tersebut tergolong rendah. Obat golongan statin tersebut berfungsi untuk menurunkan kadar low-density lipoprotein (LDL alias kolesterol jahat) yang diproduksi tubuh. Sehingga, penggunaannya dapat menurunkan risiko penyakit jantung pada seseorang yang memiliki faktor risiko lebih tinggi, seperti serangan jantung, stroke, gagal jantung, serta angina (nyeri dada).

Jika dikonsumsi secara rutin, seseorang dengan risiko penyakit jantung akan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami operasi penyakit jantung ataupun pemasangan ring.

Selain itu, seseorang dengan penyakit jantung koroner juga bisa mendapatkan manfaat konsumsi statin untuk memperbaiki kadar kolesterol (termasuk kolesterol total, HDL atau kolesterol baik, LDL, dan trigliserida),  begitu juga orang-orang dengan diabetes mellitus tipe 2 dan memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Efek samping konsumsi obat penurun kolesterol

Menurut American College of Cardiology, sekitar 85-90 persen individu yang mengonsumsi atorvastatin tidak mengalami efek samping apa pun. Jika memang ada, yang paling dilaporkan adalah nyeri otot dan sendi.

Seperti obat lainnya, konsumsi atorvastatin punya beberapa efek samping yang mungkin bisa terjadi, yaitu:

  • Nyeri otot dan sendi
  • Gangguan pencernaan
  • Diare
  • Mual
  • Infeksi tenggorokan dan saluran pernapasan
  • Sulit tidur
  • Infeksi saluran kemih
  • Nyeri pada lengan dan tungkai.

Nyeri dan kram otot yang dirasakan kemungkinan akan meningkat ketika seseorang baru pertama kali mengonsumsi statin atau ketika dosis ditingkatkan. Efek samping ini lebih dirasakan pada individu di atas usia 65 tahun atau lebih.

Terkadang, dokter menemukan kadar protein hati yang tinggi pada seseorang dengan nyeri otot akibat statin, yakni kreatin fosfokinase. Dosis statin dapat diturunkan dan disesuaikan dengan kadar protein tersebut, atau diganti dengan obat penurun kolesterol lain. Selain fungsi hati, statin juga dapat memengaruhi fungsi ginjal walaupun jarang terjadi.

Suatu kondisi serius yang berkaitan dengan otot disebut dengan rabdomiolisis, yang bisa berujung pada gagal ginjal akut. Jika ini sampai terjadi, statin akan dihentikan oleh dokter. Dokter juga akan mengharuskan pasien untuk mengonsumsi banyak cairan untuk mencegah gagal ginjal. Risiko efek samping rabdomiolisis lebih tinggi pada penderita penyakit ginjal atau mengonsumsi obat lain bersama statin.

Gejala rabdomiolisis antara lain:

  • Kelemahan pada otot
  • Nyeri otot
  • Air kemih yang berwarna seperti teh

Walaupun demikian, hanya kurang dari 10 persen ditemukan mengalami ketiga gejala tersebut secara bersamaan. Diagnosis rabdomiolisis ditegakkan dengan melihat kadar keratin fosfokinasi dalam darah, yaitu jika meningkat lima kali lipat dari batas normal. 

1 of 2

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam konsumsi obat statin

Mengonsumsi obat statin perlu pentunjuk dari dokter agar kondisi Anda tetap terjaga. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pemberian statin, yaitu:

  • Ada atau tidaknya alergi terhadap obat golongan statin.
  • Sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui. Jika kondisi tersebut berbarengan dengan konsumsi statin, dokter akan menggantinya dengan obat golongan lain untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
  • Umumnya, obat golongan statin tidak akan diresepkan untuk Anda yang punya penyakit hati yang serius. Meski begitu, keuntungan yang diberikan obat statin mungkin lebih besar ketimbang risikonya, sehingga seseorang dengan hepatitis atau penyakit hati non alkohol mungkin masih akan diresepkan statin.
  • Tidak minum minuman beralkohol saat sedang mengonsumsi statin.

Selain poin-poin di atas, Anda juga perlu mewaspadai interaksi obat golongan statin dengan obat lainnya yang dapat meningkatkan risiko terjadinya rabdomiolisis.

Selain obat tertentu, pil KB dan jus jeruk bali juga bisa memengaruhi cara kerja statin. Mungkin dibutuhkan penyesuaikan terhadap metode kontrasepsi lain jika memang Anda harus mengonsumsi statin. 

Perhatikan juga konsumsi jus jeruk bali. Konsumsi lebih dari 1,2 liter per hari bisa meningkatkan kadar statin dalam darah. Artinya, risiko terjadinya efek samping dari konsumsi statin semakin meningkat. 

Berdasarkan penjelasan di atas, itulah kenapa minum obat penurun kolesterol tidak boleh sembarangan, harus sesuai dengan instruksi dokter. Tanyakan juga kepada dokter jika ada obat-obatan lainnya yang perlu dikonsumsi bersamaan atau yang tidak boleh dikonsumsi bersama statin.

Apa yang harus dilakukan jika mengalami efek samping konsumsi statin?

Jika Anda mengalami nyeri otot dan sendi setelah mengonsumsi statin, segera laporkan kepada dokter Anda agar bisa dilakukan pemeriksaan fungsi hati, termasuk adanya efek samping lain yang dapat memengaruhi kualitas hidup.

Apabila urine berwarna keruh seperti teh atau bagian putih pada mata berwarna kekuningan, juga segera konsultasikan dengan dokter karena kondisi tersebut bisa menjadi indikasi adanya kegagalan organ hati.

Nantinya, dokter mungkin akan meresepkan obat penurun kolesterol lainnya sebagai alternatif yang lebih aman dengan kerja yang juga efektif.

Mengingat adanya efek samping, sembarangan minum obat penurun kolesterol golongan statin bisa mengakibatkan dampak yang tidak diinginkan pada tubuh. Sebagian orang bisa mengalami mual, diare, dan gangguan pencernaan. Efek samping yang lebih serius adalah rabdomiolisis dan kelainan fungsi hati, meski angka kejadiannya tergolong jarang.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓