Anak Tidur Ngorok, Perlukah Waspada?

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 12 Sep 2019, 12:00 WIB
Anak sering ngorok saat tidur? Waspadai gejala ini dengan mengenali fator-faktor pemicunya.
Anak Tidur Ngorok, Perlukah Waspada? (Ermolaev Alexander/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Anak ngorok saat tidur bukanlah kebiasaan yang sulit dijumpai. Faktanya, 1 dari 10 anak di bawah usia 10 tahun mengorok dengan rutin. Frekuensi ini dapat berkurang seiring bertambahnya usia. Meski kebiasaan ini terlihat sepele, pada beberapa kasus mengorok bisa menjadi penanda suatu kondisi yang lebih serius. 

Salah satu yang harus diwaspadai orang tua adalah pediatric obstructive sleep apnea (OSA) atau henti dan mulainya napas secara berulang saat tidur pada anak. Kondisi ini disebabkan oleh otot pada daerah tenggorokan secara berulang membuka dan menutup saluran pernapasan ketika tidur, dan menyebabkan anak ngorok

OSA dapat menyebabkan gangguan tidur, gangguan kemampuan kognitif, bahkan kematian. Jadi, kapan Anda harus waspada terhadap kebiasaan ngorok pada anak saat tidur? Berikut beberapa faktor yang dapat perhatikan sebelum mendatangi dokter anak.

  1. Ngorok sangat kuat

Mengorok adalah gejala paling sering yang ditemukan pada OSA, dan ditemukan dalam 90% kasus. Namun, tidak semua ngorok disebabkan oleh hal yang sama. Perhatikan pola ngorok anak Anda. Jika suara yang dihasilkan dimulai dengan seperti terengah-engah, sesak napas, atau disertai dengan meronta di tempat tidur, hal ini dapat menandakan adanya kondisi serius. 

  1. Anak punya berat badan berlebih bahkan obesitas

Obesitas pada anak merupakan faktor terbesar untuk mengalami OSA. Centers for Disease Control melakukan studi selama 20 tahun terkait obesitas pada anak usia 6-17 tahun. Mereka menemukan bahwa anak yang pulang dari rumah sakit pasca rawat akibat sleep apnea meningkat hingga 436% dalam kurun waktu tersebut. 

Selain obesitas, penyebab lain yang sering ditemukan menyebabkan gangguan tidur pada anak adalah pembesaran pada amandel dan adenoid.

  1. Anak masih mengompol di malam hari

Salah satu gejala OSA adalah meningkatnya risiko untuk mengompol di malam hari. Salah satu penjelasan yang masuk akal adalah anak yang mengalami pernapasan yang tidak normal akibat gangguan tidur akan memproduksi lebih banyak keringat dan air seni dibandingkan mereka yang tidak. Karena itulah, mereka cenderung mengompol. 

OSA juga berdampak pada respons terjaga pada anak, tekanan pada kandung kemih, serta pengeluaran hormon untuk berkemih. Hal-hal ini berkontribusi terhadap ngompol di malam hari.

  1. Meningkatnya masalah berkaitan dengan tingkah laku

Ketika gejala ngorok dan lainnya ditemukan di malam hari, ada beberapa tanda yang mungkin lebih jelas dilihat di siang hari. Tidur yang terganggu pada malam hari dapat mengganggu rutinitas di siang hari. Pada anak-anak, hal tersebut bahkan bisa memunculkan kegelisahan kronis. 

Gangguan tidur yang berkaitan dengan OSA dapat membuat anak merasa tidak seperti dirinya sendiri. Gangguan suasana hati, perilaku yang mengganggu orang lain, dan sulit berkonsentrasi dapat menjadi indikasi adanya gangguan tidur, terutama jika dibarengi dengan gejala lain. Misalnya, sulit mempelajari hal baru, sulit mengalami peningkatan berat badan, serta menjadi hiperaktif.

Kebanyakan kasus anak sering ngorok saat tidur memang tidak perlu dicemaskan. Namun begitu, bila gejala OSA di atas terjadi pada anak, Anda layak waspada. Konsultasikan segera kepada dokter anak. Anda mungkin akan dirujuk agar anak Anda menjalani sleep study atau pengamatan saat tidur dengan polisomnografi, demi mendapatkan diagnosis yang lebih akurat terkait gangguan tidur anak.

[HNS/ RVS]