Ucapan Stay Positive Tak Selalu Baik bagi Pasien Penyakit Kronis

Oleh Krishna Mahendra Sudarmo pada 12 Sep 2019, 16:40 WIB
Pasien penyakit kronis pasti sering mendapat ucapan “stay positive”. Meski bermaksud memotivasi, ternyata itu tak selalu baik untuk pasien.
Ucapan Stay Positive Tak Selalu Baik bagi Pasien Penyakit Kronis (Robert-Kneschke/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Saat merawat atau menjenguk pasien dengan penyakit kronis, Anda pasti sering mendengar kalimat "stay positive" yang terucap. Maksud dari ucapan tersebut tentu sebagai bentuk motivasi agar si pasien bisa terus semangat menghadapi penyakitnya hingga sembuh. Namun, ternyata itu tak selalu baik untuk pasien.

Menurut dr. Adeline Jaclyn dari KlikDokter, penyakit kronis sendiri merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Angka kejadiannya pun terus meningkat secara global. Diperkirakan, 79 persen dari kematian akibat penyakit kronis tersebut terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Jenis penyakit kronis yang paling sering terjadi adalah penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Kedua penyakit ini sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, kolesterol, dan kelebihan berat badan," jelas dr. Adeline.

Oleh karena seriusnya masalah kesehatan yang mereka hadapi, maka saat menghadapi pasien dengan penyakit kronis, Anda tentu harus lebih peka dan sensitif dengan kondisi mereka. Mungkin saja mereka justru sudah muak dengan segala ucapan atau dorongan untuk selalu berpikiran positif. Sebab, bisa jadi bukan itu yang mereka butuhkan.

Alasan kalimat “stay positive” tak perlu selalu diucapkan

Dilansir dari Healthline, berikut ini adalah beberapa alasan mengapa ucapan "stay positive" tak selalu menjadi saran yang baik untuk pasien dengan penyakit kronis:

1. Pasien merasa tidak bisa mengeluarkan emosinya

Manusia adalah makhluk yang memiliki emosi dan perasaan yang sangat beragam. Sayangnya, tak semua jenis emosi tersebut dianggap layak untuk ditampilkan, termasuk pada pasien penyakit kronis.

Tuntutan untuk selalu "positif" justru membuat pasien jadi merasa tak bisa mengekspresikan rasa frustasi, kesedihan, kemarahan, atau depresi atas penyakitnya. Sebab, jika melakukannya, mereka takut akan mendapat komentar seperti, "Mungkin akan jadi lebih baik jika Anda bisa mengubah sikap terhadap penyakit tersebut."

Dengan demikian, beban pasien dalam menghadapi penyakitnya justru jadi bertambah. Mereka jadi merasa dituntut untuk selalu menampilkan sikap yang positif, meski itu artinya harus menyembunyikan apa yang mereka rasakan. Ini tentu saja tak baik untuk proses penyembuhan mereka sendiri.

2. Penyakit kronis tak selalu bisa dihadapi dengan senyuman

Budaya positif memang dimaksudkan untuk membantu dan memotivasi, tapi bagi pasien dengan penyakit kronis, itu bisa sangat mengganggu.

Ada momen-momen di mana pasien dengan penyakit kronis hanya bisa menangis atau kesakitan, misalnya saat obat tak berhasil mengatasi rasa sakit mereka. Itu adalah hal yang mungkin tak semua orang berusaha pahami.

Oleh sebab itu, tuntutan untuk selalu bersikap positif atau menghadapi penyakit dengan senyuman justru bisa menghancurkan kepercayaan diri si pasien itu sendiri. Hal yang tentu tak dibutuhkan dalam perjuangannya untuk sembuh.

1 of 2

Selanjutnya

3. Pasien takut dihakimi jika tak bisa bersikap positif

Banyak pasien dengan penyakit kronis yang menganggap jika penyakitnya saja sudah menjauhkannya dari orang lain. Sama sekali tak membantu saat mereka juga merasa jika dorongan untuk selalu positif adalah cara terbaik untuk tak semakin dikucilkan.

Banyak pasien dengan penyakit kronis yang merasa takut untuk mengungkapkan penderitaan yang tengah dialaminya. Jika menunjukkan rasa sakit atau frustasinya, mereka takut kalau orang yang mendengarnya justru akan berbalik menghakimi.

4. Pasien butuh menjadi dirinya sendiri

Ada kalanya, saat pasien dengan penyakit kronis berada di titik terendah, yang mereka inginkan hanya menangis dan menumpahkan segala rasa frustasinya pada orang terdekatnya.

Pada momen seperti ini, mendengarkan keluhannya adalah hal yang paling mereka butuhkan. Cukup dengarkan saja, Anda sama sekali tak perlu untuk menasihati atau mendorong mereka bersikap positif.

Hal tersebut memang tak akan menyembuhkan penyakitnya, tapi membiarkan mereka bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa perlu berubah untuk menjadi lebih positif, justru akan membuat mereka merasa tak sendiri dalam berjuang menghadapi penyakitnya.

Anda memang harus lebih berhati-hati dalam menghadapi pasien dengan penyakit kronis. Ini terutama dalam menjaga perasaannya yang pasti lebih sensitif dibanding saat sehat, sebab apa yang sudah mereka lalui pasti sungguh berat dan belum tentu bisa Anda pahami. Ucapan “stay positive” atau dorongan untuk bersikap positif tak selalu baik bagi mereka. Sesekali, biarkan mereka menunjukkan emosi atas penyakit yang dideritanya.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓
nurzulaihaaffi.yahoo_1567579764197nurzulaihaaffi.yahoo_1567579764197

setuju bngt, kadang semua kata positif itu terdengan seperti "xxxxxxxx" bagi orang sakit