Antara Pria dan Wanita, Siapa Lebih Rentan Terserang PTSD?

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 13 Sep 2019, 08:00 WIB
PTSD tidak memilih siapa yang jadi korbannya. Namun, di antara pria dan wanita, siapa yang lebih rentan terserang?
Antara Pria dan Wanita, Siapa Lebih Rentan Terserang PTSD? (PopTika/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca trauma, merupakan sebuah gangguan yang berkembang pada seseorang yang pernah mengalami suatu pengalaman mengejutkan, mengerikan, atau berbahaya. Gangguan ini bisa menyerang siapa pun, tidak peduli kelas sosial atau jenis kelamin. Namun, di antara pria dan wanita, siapa yang lebih rentan terserang PTSD?

PTSD bisa membuat para pengidapnya terus merasakan takut atau stres, bahkan jauh setelah kejadian yang membuatnya trauma berlangsung dan sudah tidak lagi berada dalam bahaya.

Apa saja gejala PTSD?

Seseorang akan didiagnosis menderita PTSD jika mengalami beberapa gejala selama minimal satu bulan, sehingga telah mengganggu fungsi dan aktivitasnya sehari-hari. Beberapa gejala tersebut adalah:

  • Gejala mengalami kembali pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti trauma yang terjadi masih berlangsung, termasuk mimpi buruk, kilas balik, dan pikiran mengerikan.
  • Menghindari banyak hal yang bisa mengingatkan kembali akan trauma yang dialami, seperti menghindari orang, tempat, atau benda tertentu yang mirip dengan unsur trauma tersebut.
  • Gejala rangsang dan reaktivitas yang meliputi kecemasan berlebih, mudah marah, gelisah, selalu dalam kondisi sangat waspada karena selalu merasakan adanya ancaman, serta kesulitan tidur.
  • Gejala kognisi dan suasana hati yang meliputi pikiran, perasaan, atau penilaian negatif terhadap trauma yang dialami. Selain itu, ada juga rasa bersalah berlebih atau menyalahkan diri sendiri tanpa sebab, serta merasakan kesulitan mengingat berbagai aspek dari trauma.

Lalu, penderita trauma juga memandang diri sendiri secara negatif dan tidak lagi menemukan kesenangan dengan hal yang sebelumnya disenangi.

Seperti apa perbedaan PTSD pada pria dan wanita?

Terdapat perbedaan gejala atau perilaku pada pria dan wanita yang mengalami PTSD. Pada pria, sebagian besar lebih cenderung menggunakan zat yang merugikan tubuh dan memiliki ciri mudah marah serta menjadi impulsif. Sedangkan pada wanita, mereka lebih sering mematikan rasa tersebut dan melakukan banyak penghindaran akan trauma yang dirasa.

Wanita cenderung memiliki suasana hati negatif dan gangguan kecemasan. Meski demikian, secara keseluruhan, baik pada pria maupun wanita, gejala mana pun bisa terjadi.

Munculnya gejala-gejala di atas masih bisa dianggap wajar apabila kejadian traumatis, seperti tindak kekerasan atau kecelakaan lalu lintas yang parah, masih belum lama terjadi. 

Namun, jika gejala telah berlangsung lebih dari satu bulan, orang itu mungkin mengalami PTSD dan harus segera mencari bantuan psikolog atau psikiater. Sebab, jika tidak, beberapa gejala PTSD dapat berlangsung selama beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun setelah kejadian.

Pria biasanya lebih rentan mengalami trauma akibat perkelahian, kecelakaan, bencana alam, serta bencana akibat manusia. Di sisi lain, wanita lebih rentan mengalami trauma akibat pelecehan atau kekerasan seksual, serta kekerasan dalam rumah tangga.

Antara pria dan wanita, siapa yang lebih rentan terserang PTSD?

Seperti dilansir dari Psychology Today, prevalensi atau angka kejadian PTSD dalam kehidupan pria adalah 5-6 persen. Sedangkan pada wanita, didapatkan angka sebesar 10-12 persen. Artinya, kemungkinan kejadian PTSD pada wanita dua kali lipat lebih tinggi dibanding pada pria.

Selain itu, PTSD pada wanita cenderung bertahan lebih lama. Secara rata-rata, wanita mengalaminya selama empat tahun, sementara pada pria adalah satu tahun. Wanita juga lebih rentan mengalami PTSD kronis dibanding pria.

Salah satu yang mungkin menyebabkan hal tersebut adalah wanita mengalami lebih banyak kejadian traumatis dibanding pria. Akan tetapi, hasil penelitian justru melaporkan bahwa wanita menyatakan mengalami satu pertiga kali trauma lebih sedikit dibanding pria. 

Hasil ini cukup mengejutkan dan menunjukkan bahwa ada suatu tipe trauma atau respons wanita terhadapnya yang menyebabkan wanita lebih berisiko mengalami PTSD.

Tapi yang pasti, ketika seseorang terserang PTSD, baik pria maupun wanita, keluarga dan kerabat dekatnya wajib untuk memberikan dukungan, serta mengarahkannya agar bisa mendapat bantuan dari psikolog atau psikiater. Dengan kenyamanan yang bisa diberikan lingkungan sekitarnya, maka penderita PTSD bisa lebih cepat pulih.

[MS/ RVS]