Kenali Gejala Intoleransi Laktosa pada Anak

Oleh Tamara Anastasia pada 23 Sep 2019, 17:20 WIB
Intoleransi laktosa pada anak bisa menimbulkan gejala yang bisa menganggu tumbuh kembang si Kecil. Kenali dan atasi sebelum terlambat!
Kenali Gejala Intoleransi Laktosa pada Anak (TY-Lim/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sakit perut adalah salah satu gangguan kesehatan yang juga bisa terjadi pada anak. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, tak terkecuali akibat konsumsi susu sapi. Dilihat dari kacamata medis, sakit perut yang terjadi setelah konsumsi susu sapi adalah indikasi dari adanya intoleransi laktosa.

Menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, intoleransi laktosa adalah suatu keadaan di mana tubuh tidak mampu mencerna laktosa (gula pada susu sapi) dalam jumlah banyak. Keadaan ini terjadi akibat kurangnya enzim laktase, yang bertugas mencerna laktosa.

“Tidak hanya anak, intoleransi laktosa sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja. Orang-orang di Afrika, Amerika, Asia dan Meksiko lebih mungkin untuk mengalami kondisi ini,” tutur dr. Karin.

Gejala intoleransi laktosa

Karena disebabkan oleh kurangnya enzim laktase yang ada di saluran cerna, intoleransi laktosa hanya menimbulkan gejala yang menyerang organ pencernaan.

“Jika Anak mengalami gejala gejala perut terasa kembung, mual, timbul ruam gatal, pertumbuhan maupun perkembangan melambat, dan diare berbuih setelah minum susu sapi, maka bisa dipastikan bahwa ia mengalami intoleransi laktosa,” kata dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter.

Dilihat sekilas, gejala intoleransi laktosa mirip dengan alergi susu. Namun jika ditelusuri lebih lanjut, kedua kondisi tersebut benar-benar berbeda. Pada intolerasi laktosa, penyebab utamanya adalah kurangnya enzim laktase pada tubuh akibat peran faktor genetik. Sedangkan pada alergi susu, penyebabnya adalah sistem imun tubuh yang mengenali protein pada susu sebagai musuh yang harus diberantas.

“Karena disebabkan oleh enzim yang ada pada saluran cerna, gejala intoleransi laktosa hanya terbatas pada sistem pencernaan saja. Beda halnya dengan alergi susu sapi, yang bisa menimbulkan gejala di berbagai organ tubuh, mulai dari saluran pencernaan, sistem metabolisme tubuh, kulit, bahkan pernapasan,” kata dr. Dyan Mega.

“Gejala alergi susu pada anak akan jauh lebih parah, karena bisa menyebabkan batuk, pilek, sesak menggigil, bahkan sampai kehilangan kesadaran dan mengancam keselamatan. Untuk itu, anak yang alergi susu, benar-benar wajib menjauhi semua produk olahan susu, termasuk keju dan yoghurt,” tambah dr. Dyan Mega. 

Susu untuk anak dengan intoleransi laktosa

Menurut dr. Dyan Mega, anak yang mengalami intoleransi laktosa masih bisa menikmati susu maupun produk olahan susu. Asalkan, semua produk susu tersebut hanya mengandung sedikit atau bebas laktosa sama sekali.

“Untuk melengkapi kekurangan tersebut, anak bisa mendapatkan asupan kalsium dari makanan lain. Ikan sarden, salmon, kacang-kacangan, sayuran hijau dan produk oalahan kedelai seperti tahu dan tempe adalah beberapa contoh makanan tinggi kalsium yang bisa diberikan sebagai alternatif,” tutur dr. Dyan Mega.

Intoleransi laktosa pada anak memang tidak separah alergi susu. Akan tetapi, kondisi tersebut tetap perlu dicarikan solusi agar tidak sampai mengganggu proses tumbuh kembang. Atas dasar itu, jika orang tua mendapati si Kecil mengalami kram atau sakit perut setelah minum susu sapi, sebaiknya segera periksakan lebih lanjut ke dokter. Jika terbukti mengalami intoleransi laktosa, si Kecil bisa segera mendapatkan asupan alternatif untuk menggantikan susu sapi dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Dengan ini, anak bisa tetap bertumbuh dan berkembang dengan optimal.

(NB/ RVS)

Muti ChatunMuti Chatun

gak.doyan mkn padhal.udh sya kish sirup pensfu mkn

Muti ChatunMuti Chatun

hlo.dok knpa y anak sya bdan kurs aj gka gemuk