Seluk Beluk Ranitidin, Obat Asam Lambung yang Tercemar NDMA

Oleh dr. M. Dejandra Rasnaya pada 23 Sep 2019, 17:10 WIB
Obat asam lambung yang sering dikonsumsi masyarakat, yaitu ranitidin dikabarkan tercemar NDMA. Yuk, kenali seluk beluk obat ini.
Seluk Beluk Ranitidin, Obat Asam Lambung yang Tercemar NDMA (Antonio-Guillem/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Ranitidin merupakan obat yang sering dipakai untuk mengatasi berbagai penyakit yang berhubungan dengan asam lambung. Baru-baru ini FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat mengumumkan bahwa obat ini tercemar zat pengotor nitrosamine yang disebut N-nitrosodimethylamine (NDMA) dalam jumlah kecil.

NDMA sendiri diketahui bersifat karsinogenik. Zat ini dapat memicu terjadinya kanker pada manusia. Selain itu, NDMA ini juga dikenal sebagai kontaminan lingkungan yang dapat ditemukan pada air dan makanan, termasuk daging, produk susu, dan sayuran.

Seluk beluk ranitidin

Lantas, setelah diketahui mengandung NDMA, apakah ranitidin masih aman dikonsumsi untuk mengatasi gejala asam lambung yang Anda rasakan? Sebelum lompat ke kesimpulan tersebut, Anda perlu mengenali obat ini terlebih dahulu.

Ranitidin merupakan obat yang dipakai untuk mengatasi gejala atau masalah yang terjadi akibat adanya produksi asam yang berlebih di dalam lambung. Obat ini merupakan obat golongan penghambat histamin-2 atau H2 (H2 blocker).

Produksi cairan asam yang terjadi di lambung dilakukan oleh sel yang bernama sel parietal yang terletak di dinding lambung. Terdapat beberapa reseptor yang terletak di sel parietal tersebut yang berperan menghasilkan asam lambung, di ataranya reseptor gastrin, asetilkolin, dan histamin-2.

Ketiga reseptor tersebut akan reaktif terhadap hormon dan neurotransmiter. Dengan demikian, ranitidin yang termasuk golongan penghambat histamin-2 akan berperan menghambat jalur reseptor tersebut, sehingga tidak bereaksi menghasilkan asam lambung dari sel parietal, jadi asam lambung pun akan berkurang.

Asam lambung yang berlebih dapat mengakibatkan beberapa penyakit, seperti mag (dispepsia), gastritis atau peradangan lambung, tukak lambung, tukak duodenum (usus dua belas jari), serta GERD (gastroesophageal reflux disease) atau asam lambung yang mengalir naik ke kerongkongan. Umumnya, penyakit-penyakit ini dapat ditandai dengan keluhan berupa perut terasa penuh, begah, nyeri perut, mulut terasa pahit, ada rasa terbakar pada dada, mual, hingga muntah.

Beberapa penyebab meningkatnya asam lambung adalah pola makan yang tidak teratur, mengonsumsi makanan terlalu banyak, mengonsumsi alkohol dan kopi, obesitas, stres dan gangguan cemas, merokok, mengonsumsi obat anti nyeri secara berlebih, serta infeksi bakteri H. Pylori.

Akan tetapi, selain untuk mengobati penyakit-penyakit di atas, ranitidin juga biasa digunakan dalam persiapan operasi. Sebab, obat ini dapat menghambat produksi asam lambung selama berjalannya operasi.

Ranitidin dikonsumsi melalui oral atau mulut dan bisa juga melalui intravena atau disuntik. Biasanya, obat ini dikonsumsi satu hingga dua kali sehari dan disarankan dalam kondisi sebelum makan atau saat perut kosong. Anda juga akan disarankan untuk memberi jeda waktu jika ingin makan setelah mengonsumsi ranitidin. Obat ini juga bisa Anda kombinasikan dengan obat asam lambung lain, sesuai kebutuhan agar lebih efektif.

Masih tetap aman dikonsumsi

Meskipun telah ditemukan adanya sedikit kandungan NDMA yang bersifat karsinogenik pada ranitidin, sampai saat ini FDA belum menyarankan untuk menghentikan produksi ataupun penggunaan obat ini, termasuk di Indonesia.

Secara umum, ranitidin memang cukup aman dan sedikit ditemukan efek samping pada penggunanya. Kalaupun ada, efek samping yang biasanya muncul meliputi rasa lemas, sakit kepala, dan risiko terkena pneumonia.

Namun, bagi Anda yang mempunyai alergi atau hipersensitivitas terhadap ranitidin, lebih baik jangan mengonsumsi obat ini. Konsultasikan ke dokter agar Anda dapat diberikan obat penyakit asam lambung jenis yang lain.

Untuk Anda yang memiliki riwayat penyakit lambung, ranitidin memang sangat membantu mengatasi masalah tersebut. Dengan beredarnya kabar bahwa obat ini tercemar NDMA yang dapat memicu kanker, ada baiknya Anda kenali terlebih dahulu seluk beluk ranitidin sebelum memutuskan untuk mengonsumsinya. Dan jika Anda memang perlu mengonsumsi obat ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.

[MS/ RVS]