Waspadai Depresi akibat Kabut Asap Makin Pekat

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 25 Sep 2019, 08:30 WIB
Kadang depresi diakibatkan oleh hal-hal tak terduga. Bisakah depresi dipicu oleh kondisi kabut asap yang makin pekat?
Waspadai Depresi akibat Kabut Asap Makin Pekat (Foto: M. Syukur/Liputan6.com)

Klikdokter.com, Jakarta Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra dan Kalimantan makin pekat. Bukan hanya mengakibatkan gangguan fisik, penduduk di sekitar juga perlu mewaspadai depresi akibat kabut asap.

Kabut asap yang melanda Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat saat ini diakibatkan oleh karhutla, terutama kebakaran lahan gambut.

Saking sudah parah, Provinsi Riau menetapkan status darurat pencemaran udara pada hari Senin (23/9) lalu, karena kabut asap akibat karhutla sudah sangat memprihatinkan. 

Selain kesehatan paru-paru atau kondisi fisik lainnya, kondisi mental juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Salah satu yang mesti diwaspadai dari paparan kabut asap pekat adalah depresi.

Mewaspadai ancaman kesehatan di tengah kepungan kabut asap pekat 

Jika Anda rajin meng-update kondisi kabut asap, situasinya sudah dalam tahap mengkhawatirkan dan udara yang dihirup penduduk masuk dalam kategori tidak sehat.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla hingga bulan September mencapai 919.516 orang. Penderitanya tersebar di enam provinsi yang terdampak karhutla.

Ada beberapa penelitian yang mengaitkan kabut asap dan dampaknya pada kesehatan.

  1. Dampak kabut asap pada kesehatan fisik

    Bahaya paparan kabut asap bisa memengaruhi organ-organ vital ini:

    • Paru-paru

    Studi medis telah menemukan hubungan yang erat antara kabut asap akibat kebakaran dan asma.

    Menurut sebuah ulasan literatur tahun 2016 dalam jurnal “Environmental Health Perspectives”, tercatat ada lebih banyak kunjungan ke dokter, ruang gawat darurat, serta ruang inap untuk asma yang terkait dengan paparan asap.

    Meski begitu, ada pula beberapa studi yang tidak menemukan perubahan akut yang signifikan pada fungsi paru-paru pada orang-orang dengan asma, yang berkaitan dengan kandungan partikel kabut asap. Namun, peneliti menemukan penurunan signifikan pada fungsi paru pada orang-orang yang tidak memiliki asma.

    Selain itu, semakin banyak bukti yang menghubungkan asap akibat kebakaran dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), yaitu kondisi paru yang mencakup emfisema dan bronkitis kronis.

    Ada juga studi yang menghubungkan asap kebakaran dan pneumonia, begitu juga bronkitis. Studi tahun 2011 menunjukkan peningkatan kunjungan ke ruang gawat darurat akibat paparan asap dari kebakaran gambut di North Carolina, Amerika Serikat.

    • Jantung

    Peringatan kesehatan tentang asap akibat kebakaran juga berlaku pada penderita penyakit jantung, yang mana usia lebih tua mungkin terpengaruh.

    Studi kardiovaskular seputar asap api yang ada belum menghasilkan hasil konsisten.

    Ada penelitian di Australia yang mengaitkan kasus henti jantung (cardiac arrest) di luar area rumah sakit dan PM 2.5. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa partikel udara yang lebih kecil dari 2.5 (dianggap sebagai partikel udara paling berbahaya bagi manusia lantaran sangat mudah memasuki sistem pernapasan). 

    Ditemukan pula kaitan antara rawat inap dan kasus infark miokard akut (serangan jantung), yaitu kondisi akibat obstruksi arteri koroner, yang menyuplai jantung dengan darah.

    Meski begitu, ada juga studi yang belum menemukan hubungan antara asap kebakaran dan gagal jantung di departemen gawat darurat.

  1. Dampak kabut asap pada kesehatan mental

Dilansir dari laman Global News Canada, koneksi antara asap kebakaran dan kesehatan mental kurang tergambar jelas lewat penelitian medis. Bukti gangguan psikologis tercatat, tetapi paparan asap belum tentu diidentifikasi sebagai penyebab.

Pada musim panas tahun 2017, penduduk Vancouver, Kanada, terpapar kabut asap akibat kebakaran di British Columbia, Kanada, dan negara bagian Washington, AS. 

Pada waktu itu, Chris Calsten, ahli respirasi dari Vancouver General Hospital mengatakan bahwa bukti yang menunjukkan bahwa partikel udara PM 2.5 bisa memasuki otak dan menyebabkan inflamasi di saraf alias “neuro-inflamasi”.

Inflamasi tersebut dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan kognitif. Selain itu, mungkin juga ada efek pada kesehatan mental akibat kabut yang berefek mengaburkan pandangan.

“Hijau dan biru, contohnya, adalah warna-warna positif yang dihubungkan dengan efek kesehatan positif. Tak bisa melihat warna-warna tersebut akibat kabut asap bisa memengaruhi suasana hati,” kata Chris.

1 of 2

Kabut asap bisa sebabkan depresi?

Sebagai contoh, ada sebuah studi menarik di Yunani tahun 2011 di jurnal “European Psychiatry”. 

Studi tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang menderita kehilangan akibat kebakaran hutan mencetak skor yang secara signifikan lebih tinggi pada gejala somatis, depresi, kecemasan, permusuhan, kecemasan fobia, paranoia, mengalami gejala lainnya, serta lebih tertekan.

Meski demikian, studi tersebut tidak secara spesifik meneliti asap dan studi itu sendiri belum definitif.

Dari KlikDokter, dr. Dyan Mega Inderawati ikut bersuara. Menurutnya, depresi juga bisa mengancam orang-orang yang terpapar kabut asap setiap harinya.

Penyebabnya bisa akibat sakit fisik yang tak kunjung sembuh dan/atau karena kondisi kabut asap tak juga mereda.

“Depresinya itu bisa karena keadaan lingkungan yang membuat seseorang stres berat atau akibat sakit yang tak sembuh-sembuh. Misalnya karena kabut asap, seseorang mengalami batuk berkepanjangan. Itu bisa membuatnya depresi,” kata dr. Dyan menjelaskan.

Depresi akibat kabut asap tersebut bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak sampai lanjut usia yang terpapar asap. Siapa yang paling rentan pun bergantung pada kondisinya.

"Kalau stres karena kabut asap yang dipicu sakit fisik, paling adalah rentan anak-anak dan lansia, sedangkan usia produktif kemungkinannya lebih kecil.

“Ada pula pekerja, itu berarti orang dewasa yang stres karena produktivitasnya terganggu akibat kabut asap. Semua golongan rentan stres akibat kabut asap, tergantung pemicunya apa,” jelas dr. Dyan.

Bukan hanya kesehatan fisik, kesehatan mental juga perlu diperhatikan sebagai akibat dari kabut asap karhutla di beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Salah satunya adalah depresi. Semoga saja penanganan kabut asap bisa dimaksimalkan, sehingga kabut asap bisa segera hilang dan penduduk sekitar bisa menghirup udara yang layak.

(RN/RH)

Lanjutkan Membaca ↓