Mengenal Gangguan Pendengaran Tuli Kongenital

Oleh dr. Muhammad Iqbal Ramadhan pada 26 Sep 2019, 15:20 WIB
Gangguan pendengaran tuli kongenital bisa sangat mengganggu. Yuk, cari tahu lebih banyak tentang penyakit ini.
Mengenal Gangguan Pendengaran Tuli Kongenital (Pathdoc/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Gangguan pendengaran atau awam menyebutnya tuli bisa dialami siapa saja, termasuk anak-anak, bahkan bayi. Pada bayi, salah satu gangguan pendengaran yang bisa terjadi adalah tuli kongenital. Apa itu? Mari kenali lebih jauh!

Tuli adalah kondisi tak bisa mendengar suara secara sebagian atau sepenuhnya, pada satu atau kedua telinga. Gangguan seperti ini tentu bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Penuaan dan paparan suara kronis adalah faktor yang berkontribusi pada ketulian. Faktor lainnya, seperti kotoran telinga berlebih, juga dapat menghambat telinga dari menghantarkan suara sebagaimana mestinya.

Klasifikasi gangguan pendengaran

Gangguan pendengaran dapat dikategorikan berdasarkan bagian dari sistem pendengaran yang terpengaruh.

  • Ketika sistem saraf terpengaruh, akan terjadi gangguan pendengaran sensorineural atau disebut juga tuli saraf.
  • Ketika bagian-bagian telinga yang bertanggung jawab untuk mentransmisikan suara ke saraf dipengaruhi, kondisi ini dinamakan gangguan pendengaran konduktif.
  • Kondisi yang memengaruhi koklea, saraf kranial kedelapan, sumsum tulang belakang, atau otak menyebabkan gangguan pendengaran sensorineural, contohnya termasuk:
    • Penyakit Meniere
    • Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan (misalnya paparan musik atau mesin yang terlalu lama atau kencang)
    • Gangguan pendengaran karena penuaan (presbikukis),
    • Cedera saraf akibat sifilis
    • Gangguan pendengaran karena penyebab yang tidak diketahui (gangguan pendengaran idiopatik)
    • Tumor saraf
    • Toksisitas obat (seperti aspirin dan aminoglikosida)

Kondisi yang memengaruhi saluran telinga, gendang telinga (membran timpani), dan telinga tengah mengarah pada gangguan pendengaran konduktif. Contohnya meliputi:

  • Kotoran telinga yang menyumbat saluran telinga,
  • Otitis media
  • Otosklerosis
1 of 2

Tuli kongenital: penyebab, gejala, dan penanganan

Gangguan pendengaran tuli kongenital merupakan jenis tuli bawaan yang dimiliki sejak lahir. Kehilangan pendengaran ini terjadi saat lahir atau beberapa saat setelah kelahiran, disebabkan oleh faktor genetik atau lainnya (non genetik) yang memengaruhi janin saat dalam kandungan.

Faktor non genetik yang dimaksud adalah penyakit seperti virus rubela yang mungkin menyerang ibu selama kehamilan. Secara garis besar kelainan tuli kongenital meliputi:

  • Kelainan daun  telinga (mikrotia atau anotia) yang bervariasi  derajatnya
  • Kelainan liang  telinga (atresia liang telinga)
  • Kelainan telinga  tengah, yaitu tidak  terbentuknya tulang pendengaran, rangkaian tulang terputus atau terfiksasi
  • Kelainan telinga dalam (gangguan koklea)

Gejala tuli kongenital umumnya berupa:

  • Mendengar pusat suara yang seperti teredam
  • Kesulitan mendengar saat suasana berisik atau dalam keramaian
  • Kesulitan mendengar huruf konsonan
  • Sering meminta orang lain untuk mengulang bicara, lebih jelas, dan lebih kencang
  • Sering mengeraskan volume suara saat menonton atau mendengarkan sesuatu
  • Enggan berkomunikasi
  • Menghindari beberapa situasi sosial
  • Beberapa suara terdengar terlalu keras
  • Kesulitan mengikuti pembicaraan saat dua orang atau lebih berbicara
  • Merasa pusing atau tidak seimbang (sering terjadi dengan penyakit Meniere dan neuroma akustik)
  • Merasa ada tekanan di telinga (akibat akumulasi cairan di belakang gendang telinga)
  • Telinga berdenging (tinitus)

Pada bayi, biasanya gejalanya sang bayi tidak mengalami refleks moro atau kaget jika ada suara, serta tidak mengejapkan mata atau mengerutkan wajah saat ada suara. Selain itu, bayi juga mengalami delayed speech atau keterlambatan bicara sesuai usianya.

Terapi tuli kongenital bergantung pada penyebab dan derajat keparahan gangguan pendengaran yang dialami. Beberapa cara penanganannya antara lain:

  • Mengeluarkan kotoran telinga. Dokter akan mengeluarkannya dengan menyemprotkan minyak, kemudian membilasnya, menyeka, atau menyedot kotoran.
  • Operasi, mungkin diperlukan jika ada cedera telinga traumatis atau infeksi berulang.
  • Bantuan pendengaran. Jika tuli disebabkan oleh kerusakan di telinga dalam, alat bantu pendengaran dapat membantu dengan cara memperkuat suara agar lebih mudah didengar.
  • Implan koklea. Jika gangguan pendengaran yang cukup serius, implan koklea dapat menjadi pilihan karena dapat membantu mengatasi bagian telinga yang tidak bekerja.

Secara garis besar, itulah gambaran tentang gangguan pendengaran tuli kongenital yang perlu Anda ketahui. Apabila anak menampakkan gejala-gejala di atas, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

[NP/RN]

Lanjutkan Membaca ↓