9 Gejala Rabies yang Dapat Berujung Kematian

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 28 Sep 2019, 10:00 WIB
Sabtu (28/9) diperingati sebagai Hari Rabies Sedunia. Kenali gejala dari kondisi yang memiliki nama lain penyakit anjing gila ini.
9 Gejala Rabies yang Dapat Berujung Kematian (Piotr Swat/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Rabies adalah salah satu penyakit yang ditularkan oleh binatang. Penting untuk mengenali gejala gangguan kesehatan yang memiliki nama lain penyakit anjing gila ini. Penamaan penyakit anjing gila sendiri disebabkan karena 98 persen penularan berasal dari gigitan anjing yang terinfeksi virus rabies. 

Gangguan kesehatan ini tergolong penyakit yang menyerang sistem saraf pusat. Selain akibat terkena gigitan anjing, Anda juga bisa tertular penyakit ini apabila berkontak dengan kera, kucing atau musang yang terinfeksi virus rabies.

Berdasarkan kasus yang pernah ditemukan, rabies sangat mungkin menyebabkan kematian jika penderita tidak segera mendapat pengobatan. Disebutkan bahwa rabies memiliki tingkat kematian tertinggi dari semua penyakit yang ada di bumi, yakni mencapai hingga 99,9 persen. 

Gejala rabies yang perlu diwaspadai

Pada kebanyakan kasus, tidak ada gejala khas yang menjadi tanda awal dari penyakit anjing gila. Rabies dapat ‘tertidur’ di dalam tubuh orang yang terinfeksi selama 1 hingga 3 bulan. Para ahli kesehatan menyebut keadaan ini sebagai masa inkubasi. 

"Gejala rabies umumnya muncul dalam 3–8 minggu sejak virus rabies masuk ke dalam tubuh. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), rata-rata durasinya adalah 30–90 hari. Meski jarang, masa inkubasi yang memanjang hingga 7–19 tahun juga pernah dilaporkan terjadi," ujar dr. Atika dari KlikDokter.

Melanjutkan, dr. Atika berkata bahwa variasi masa inkubasi virus rabies dipengaruhi oleh letak luka gigitan. Semakin dekat dengan otak, gejala akan lebih cepat muncul. 

“Selain itu, kedalaman luka juga turut memengaruhi cepatnya timbul gejala karena virus yang masuk kemungkinan lebih banyak. Contohnya, orang dengan luka berupa goresan atau lecet akan lebih lama terkena gejala rabies dibandingkan gigitan yang dalam," tegasnya.

Demam merupakan gejala awal rabies. Biasanya Anda juga akan merasa lelah atau lemah, kesemutan, atau merasakan sensasi terbakar di sekitar lokasi luka gigitan. Ketika virus telah menyebar melalui sistem saraf pusat, Anda akan mengalami gejala lain yang lebih parah, yaitu: 

  • Ketidakmampuan untuk tidur (insomnia)
  • Kegelisahan
  • Kebingungan
  • Kelumpuhan ringan atau parsial
  • Hiperaktif
  • Menjadi mudah gelisah
  • Halusinasi
  • Produksi air liur lebih dari biasanya
  • Kesulitan menelan

Pada waktunya, gejala-gejala tersebut akan membuat penderita berada dalam keadaan koma, gagal jantung atau paru-paru. Dan, fase yang paling parah adalah menyebabkan kematian seketika.

Cara mengatasi rabies

Untuk meminimalkan risiko tertular virus rabies, hal yang perlu Anda lakukan adalah segera mencuci luka dengan sabun dan air mengalir apabila telah tergigit oleh binatang, seperti anjing, kera, kucing atau musang.

Tak cukup dengan itu, Anda juga harus segera menemui dokter. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan apakah luka gigitan tersebut benar-benar mengandung virus rabies atau tidak. 

Jika hasilnya positif, dokter akan menyarankan Anda untuk mendapatkan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain tes air liur, darah, cairan tulang belakang, kulit, dan rambut.

Di sela-sela proses pengobatan dan pemeriksaan, dokter akan memberikan perawatan berupa dengan vaksin rabies, yakni profilaksis postexposure (PEP). Vaksin ini selalu berhasil jika diberikan segera setelah terpapar virus rabies. 

Di samping itu, Anda juga akan mendapatkan satu dosis imunoglobulin rabies supaya perjalanan virus di dalam tubuh bisa dihentikan. 

Tips dan trik menghindari rabies

Anda mungkin memiliki gambaran bahwa binatang rabies cenderung bertindak agresif dengan kondisi mulut yang berbusa. Hal tersebut memang bisa dijadikan acuan, namun tidak bersifat mutlak. Pasalnya, menentukan suatu hewan terkena rabies atau tidak bukanlah perkara yang mudah.

Fakta menyebut bahwa sebagian besar binatang yang menderita rabies memiliki sifat yang pemalu. Tentu, sifat tersebut bukanlah sesuatu yang dimiliki hewan liar, bukan? Jadi, Anda mesti waspada apabila menemukan hewan liar yang bertindak demikian.

Nah, supaya pertahanan diri terhadap paparan virus rabies lebih optimal lagi, berikut beberapa aturan yang mesti diperhatikan saat berurusan dengan hewan liar:

  • Jangan pernah memelihara anjing atau kucing liar
  • Jika Anda melihat binatang bertingkah aneh, agresif atau mencoba menggigit tanpa sebab, hubungi pihak yang mengontrol hewan liar daerah setempat
  • Jangan pernah menyentuh binatang buas, sekalipun sudah mati

Mengingat bahwa 28 September adalah Hari Rabies Sedunia, tak ada salahnya bagi Anda untuk membangun kewaspadaan terhadap risiko terjadinya penyakit anjing gila. Jangan sampai Anda atau orang-orang tercinta lengah, sehingga virus rabies berhasil menginfeksi dan merenggut kebahagiaan!

(NB/ RH)