Sadar Sedang Bermimpi (Lucid Dream), Apa yang Terjadi pada Otak?

Oleh Ayu Maharani pada 01 Oct 2019, 16:00 WIB
Pernahkah Anda sadar bahwa sedang bermimpi dan berusaha mengendalikannya (lucid dream)? Jika ya, ternyata ini yang terjadi pada otak Anda.
Sadar Sedang Bermimpi (Lucid Dream), Apa yang Terjadi pada Otak? (Yuganov-Konstantin/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Anda mungkin sudah biasa dengan kata mimpi. Tapi bagaimana dengan mimpi sadar (lucid dream)? Istilah ini mungkin masih asing di telinga Anda. Namun, meski namanya asing, kondisi tersebut sebenarnya kerap dialami oleh sebagian orang.

Lucid dream adalah keadaan di mana Anda sadar bahwa sedang bermimpi di dalam tidur dan dapat mengendalikan atau mengatur ‘jalan cerita’ mimpi tersebut. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada otak saat kondisi ini?

Dipengaruhi oleh kondisi neurotisme

Dilansir dari Medical News Today, keadaan lucid dream atau mimpi sadar dialami setidaknya sekali seumur hidup oleh 50 persen populasi.

Kesimpulan itu didapat dari sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Imagination, Cognition and Personality: Consciousness in Theory, Research, and Clinical Practice. Para peneliti memperkirakan bahwa 51 persen individu telah mengalami mimpi sadar setidaknya sekali dalam hidup mereka, sedangkan 20 persen lainnya mengalaminya sebulan sekali.

Studi yang sama juga mencatat bahwa orang lebih cenderung mengalami mimpi sadar di masa kecil mereka, yaitu di usia sekitar 3 dan 4 tahun.

Akan tetapi, kemungkinan besar frekuensi mimpi sadar akan mulai menurun pada masa awal remaja. Bahkan, peneliti mengatakan, mimpi sadar akan sangat jarang terjadi setelah Anda berusia 25 tahun.

Para peneliti dari Universities of Mannheim and Heidelberg, Jerman tersebut juga menyelidiki apakah kepribadian dapat membantu memprediksi seseorang untuk mengalami mimpi sadar.

Hasilnya, ternyata neurotisme, yakni faktor kepribadian dan suasana hati seperti cemas dan depresi, memiliki hubungan kuat dengan frekuensi terjadinya mimpi sadar. Seperti  mimpi pada umumnya, mimpi sadar biasanya terjadi selama fase tidur rapid eye movement (REM), yakni fase tidur yang sudah ‘dalam’ dan lelap.

Nah, orang yang memiliki neurotisme, seperti cemas berlebih dan depresi atau kondisi narkolepsi, ternyata memiliki kemungkinan lebih besar untuk memainkan peran dan mengaktifkan kesadaran yang biasanya dinonaktifkan selama tidur.

Apa yang terjadi di otak ketika seseorang mengalami lucid dream?

Selama Anda mengalami mimpi sadar dan dapat mengendalikannya, ternyata ada peningkatan aktivitas di korteks prefrontal dorsolateral, korteks prefrontal frontopolar bilateral, precuneus, lobulus parietal inferior, serta gyrus supramarginal.

Bingung dengan istilah-istilah di atas? Tenang, itu semua adalah area otak yang terkait dengan fungsi kognitif yang lebih tinggi. Dalam hal ini termasuk perhatian, ingatan, perencanaan, serta kesadaran diri.

Para peneliti juga menemukan, selama Anda mengalami mimpi sadar, "tingkat penentuan nasib sendiri” di dalam mimpi mirip dengan apa yang dialami saat Anda terjaga.

Kendati demikian, di dalam mimpi sadar, tak semua aspek dapat Anda kendalikan. Sehingga, pada sebagian orang yang mimpi sadar, tapi gagal mengendalikannya, mimpinya justru berubah jadi mimpi buruk.

Mimpi sadar ada gunanya atau justru mengganggu?

Mimpi sadar dianggap punya manfaat untuk orang yang pernah mengalami trauma mendalam ataupun depresi. Dengan memberikan kendali di dalam mimpi, para ahli psikologi berusaha untuk meningkatkan kepercayaan diri si pasien.

Di dalam mimpi sadar, si pasien bisa melakukan berbagai hal yang belum bisa atau tidak mungkin dilakukan di dunia nyata. Sebagai contoh, beberapa terapis akan memicu mimpi sadar pada orang yang lumpuh supaya di dalam mimpinya si pasien dapat merasakan bergerak dan berjalan dengan bebas.

Meski tampak dapat memberi manfaat, mimpi saat tidur dapat mengurangi kualitas istirahat itu sendiri. Menurut dr. Nabila Viera Yovita dari KlikDokter, orang yang bermimpi akan mudah terbangun (bisa juga terbangun dalam keadaan jantung berdebar) dan akan membutuhkan waktu lama untuk bisa kembali tidur.

Tak cuma itu, tubuh seseorang yang sering bermimpi di dalam tidurnya akan lesu. Akibatnya, mereka akan lebih mudah kelelahan dan mengantuk saat beraktivitas keesokan harinya.

Hingga saat ini, kondisi lucid dream atau mimpi sadar memang masih menjadi topik yang menarik bagi para peneliti. Bila Anda termasuk orang yang terganggu dengan mimpi, termasuk mimpi sadar, maka berusahalah untuk bisa tidur dengan pikiran tenang. Semakin banyak yang dipikirkan sebelum tidur (stres), semakin besar juga risiko mengalami mimpi yang bisa membuat kualitas istirahat jadi buruk.

[MS/ RH]