Vaksin MMR Sebabkan Autisme, Mitos atau Fakta?

Oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong pada 04 Oct 2019, 10:00 WIB
Kabar bahwa vaksin MMR yang disebut-sebut bisa sebabkan autisme adalah mitos belaka. Kupas tuntas faktanya di sini.
Vaksin MMR Sebabkan Autisme, Mitos atau Fakta? (Adriaticfoto/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kesadaran akan pentingnya imunisasi terus meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan angka cakupan imunisasi yang semakin tinggi. Sayangnya, rumor atau mitos seputar vaksin masih banyak beredar, bikin banyak orang tua ragu untuk membawa si Kecil mendapatkan vaksin. Salah satunya adalah kabar tentang vaksin MMR yang bisa sebabkan autisme. Faktanya, itu cuma mitos belaka!

Vaksin MMR vs autisme: bukan polemik baru

Polemik seputar vaksin MMR dan autisme ini bukanlah hal baru. Kabar sudah terdengar sejak tahun 1998, setelah seorang dokter bernama Andrew Wakefield mempublikasikan hasil penelitiannya. 

Dalam penelitiannya, dokter berkebangsaan Inggris tersebut menyebutkan bahwa vaksin MMR (measles atau campak, mumps atau gondongan, dan rubela atau campak jerman) dapat menyebabkan autisme. Temuan tersebut kemurian menarik perhatian publik sekaligus menebar ketakutan akan vaksin pada orang tua, bahkan di kalangan medis.

Bertahun-tahun hingga dua dekade setelah penelitian itu dipublikasikan, beragam penelitian dilakukan oleh para pakar dari berbagai negara untuk mematahkan hasil penelitian Wakefield. 

Penelitian Wakefield telah dibuktikan memiliki banyak kelemahan. Dari segi metode, responden dalam penelitian tersebut tidak cukup banyak untuk dapat membuktikan efek vaksin MMR terhadap autisme. 

Selain itu, terdapat beberapa perubahan data dalam rekam medis pasien untuk mendukung asumsi peneliti. Terakhir, Wakefield juga diketahui memiliki konflik internal dengan salah satu perusahaan pembuat vaksin MMR, sehingga penelitian ini dianggap menjadi bagian dari perlawanannya terhadap perusahaan tersebut. Karena poin-poin tersebut, Wakefield dipandang telah melanggar kode etik dokter dan bersikap tidak jujur terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya, izin praktiknya dicabut.

Vaksin MMR dan autisme terbukti tidak berhubungan

Dari berbagai penelitian pasca penelitian Wakefield, vaksin dan MMR terbukti tidak berhubungan. 

Ada sebuah penelitian di Denmark yang melibatkan lebih dari 650.000 anak untuk mengetahui efek vaksin MMR terhadap autisme. Hasilnya, risiko autisme tidak meningkat pada anak yang mendapatkan vaksinasi MMR, bahkan bila anak memiliki faktor risiko autisme, seperti riwayat autisme, dalam keluarga.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun menekankan hal yang serupa, bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dengan gangguan spektrum autistik.

Melihat fakta-fakta tersebut, sebagai orang tua, jadilah bijak dan jangan ragu untuk membawa anak untuk mendapatkan vaksin MMR jika memang sudah terjadwal atau sudah sesuai dengan usianya. Ingat, faktanya adalah vaksin MMR tidak berhubungan dengan autisme.

Meski demikian, orang juga perlu tahu bahwa ada beberapa reaksi yang mungkin terjadi setelah vaksinasi, yaitu:

  • Bengkak dan kemerahan di area suntikan 
  • Pembesaran kelenjar getah bening di sekitar lokasi penyuntikan
  • Demam
  • Bentol dan gatal di bekas suntikan

Reaksi-reaksi di atas termasuk dalam gejala kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). KIPI adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan, terjadi setelah pemberian imunisasi, dan belum tentu memiliki hubungan kausalitas dengan vaksin. Gejala biasanya terjadi selama beberapa hari pasca imunisasi dan bisa berkurang dengan sendirinya.

Bila anak mengalami demam, orang tua dapat memberikan obat penurun suhu tubuh dengan bahan aktif parasetamol. Bila terjadi bengkak, cukup lakukan kompres hangat di daerah yang bengkak untuk menguranginya. Dengan tindakan tersebut, KIPI yang ringan akan membaik. 

Namun bila anak mengalami gejala yang lebih berat, seperti demam tinggi, diikuti kejang, sesak napas, atau nyeri otot dan tulang hingga anak sulit bergerak, periksakan ke dokter anak karena bisa jadi ia mengalami reaksi KIPI yang berat dan perlu penanganan segera. Kendati demikian, reaksi berat seperti ini jarang ditemui. Kalaupun terjadi, dokter mampu menanganinya hingga tuntas.

Kabar bahwa vaksin MMR bisa sebabkan autisme sudah terbukti mitos, bukan fakta, sehingga jangan dipercaya. Ingatkan juga orang-orang di sekitar tentang kebenarannya. Jangan sampai anak tidak mendapatkan haknya untuk mendapat perlindungan kesehatan hanya karena kabar yang tak jelas fakta medisnya. Bagaimanapun juga, imunisasi adalah pilihan terbaik dan menguntungkan bagi anak.

(RN)