Dampak Buruk BAB Sembarangan bagi Kesehatan

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 09 Oct 2019, 17:15 WIB
Akibat tak punya septic tank, beberapa warga Grogol, Jakarta Barat, BAB sembarangan. Perilaku tersebut bisa sebabkan dampak buruk bagi kesehatan.
Dampak Buruk BAB Sembarangan bagi Kesehatan (All-themes/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Belum lama ini, warga Jakarta dihebohkan dengan perilaku buang air besar (BAB) sembarangan beberapa warga Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Mayoritas warga yang mengontrak di daerah setempat mengaku tidak punya jamban atau septic tank, sehingga kotoran yang mereka keluarkan langsung menuju ke kali atau sungai. Padahal, BAB sembarangan bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Menurut Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, masalah BAB sembarangan memang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Meski demikian, ia berharap kasus ini bisa segera selesai dengan penyediaan sanitasi yang baik.

“Ya, itu memang masih menjadi PR kita di Jakarta,” kata Anies kepada wartawan di kediamannya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, seperti dikutip dari Detik.

Anies juga mengatakan, jajarannya sedang berupa mengatasi persoalan tersebut. Pihak ibu-ibu pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) juga tengah mengidentifikasi kampung mana saja di wilayah Jakarta yang belum memiliki jamban sehat.

Bahaya BAB sembarangan bagi kesehatan 

Tidak hanya menyebabkan kali berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau tidak sedap, BAB sembarangan juga bisa membahayakan kesehatan. Dikatakan dr. Adeline Jaclyn dari KlikDokter, masalah paling nyata akibat perilaku BAB sembarangan adalah infeksi saluran pencernaan.

"Kotoran dari BAB yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan infeksi saluran pencernaan. Kontaminasi bisa terjadi melalui lalat yang sebelumnya hinggap di kotoran, kemudian menempel di makanan, dan makanan tersebut berakhir di meja makan Anda," ujar dr. Adeline.

Akibat konsumsi makanan yang terkontaminasi, dr. Adeline mengatakan ada risiko tinggi untuk mengalami penyakit tifus maupun diare.

  • Tifus

Tifus, atau awam lebih mengenalnya sebagai tipes, adalah penyakit yang terjadi akibat infeksi bakteri Salmonella typhii. Bakteri tersebut dapat menyusup masuk ke tubuh lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Tifus menimbulkan gejala demam, nyeri sendi dan otot, perut kembung dan begah, mual dan muntah, sulit buang air besar, serta batuk-batuk. Penyakit dengan istilah medis demam tifoid ini perlu segera diobati agar tidak menimbulkan komplikasi.

Menurut dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, salah satu komplikasi yang sering terjadi akibat tifus adalah perdarahan akibat robeknya saluran pencernaan.

"Jika sudah terjadi perdarahan di saluran pencernaan, penderita bisa mengalami muntah darah, tinja berwarna hitam, kulit pucat, lemas, hingga sesak napas. Selain itu, robeknya saluran pencernaan dapat memicu nyeri perut yang hebat, mual, hingga muntah," katanya.

  • Diare

Sanitasi yang buruk atau mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi dapat menyebabkan terjadinya diare. Seseorang dikatakan diare saat dirinya mengalami buang air besar cair, dengan frekuensi lebih dari tiga kali dalam satu hari.

Diare tidak bisa dianggap sepele, karena dapat menyebabkan dehidrasi, yang kalau parah bisa berujung pada kematian. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami diare, apalagi selama berhari-hari atau minggu, perlu berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter agar bisa mendapatkan pengobatan paling tepat. Dengan ini, risiko dehidrasi dan berbagai komplikasi lainnya bisa dicegah.

BAB sembarangan seperti yang dilakukan warga Grogol Petamburan, Jakarta Barat dapat berdampak buruk tak hanya pada pelaku, tetapi juga orang lain yang tinggal di lingkungan sekitar. Penekanannya bukan hanya pada perilaku masyarakat tersebut, tetapi pemerintah kota setempat juga wajib menyediakan sanitasi yang layak. Bila perlu tingkatkan juga kesadaran tentang perilaku hidup bersih dan sehat.

(NB/RN)