Hati-hati Serangan Depresi di Balik Obesitas

Oleh dr. Dyah Novita Anggraini pada 10 Oct 2019, 17:00 WIB
Obesitas selain memicu gangguan kesehatan secara fisik, juga dapat memicu gangguan psikis seperti depresi. Berikut penjelasannya.
Hati-hati Serangan Depresi di Balik Obesitas (Creativa-Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Obesitas merupakan suatu kondisi di mana terdapat penumpukan lemak yang berlebihan, sehingga membuat berat badan di atas normal. Di negara–negara berkembang, angka kejadian obesitas semakin meningkat setiap tahun, termasuk Indonesia. Bahkan, kondisi ini juga memicu depresi.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, di Indonesia terjadi peningkatan persentase penderita obesitas sentral pada dewasa dengan usia lebih dari 15 tahun, meningkat menjadi 31 persen dibandingkan dengan persentase di tahun 2013 sebanyak 26,6 persen.

Antara depresi dan obesitas

Selain dampak kesehatan pada tubuh, terdapat beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa terdapat kaitan antara gangguan depresi akibat obesitas.

Penelitian yang dilakukan di University of South Australia dan University of Exeter di United Kingdom memberikan hasil adanya bukti yang kuat bahwa obesitas menyebabkan gangguan depresi.

Penelitian ini menggunakan data genetik untuk membuktikan hubungan antara obesitas dan gangguan depresi, walaupun penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk membuktikan hal ini lebih lanjut.

Keterikatan antara obesitas dan gangguan depresi juga dapat dipengaruhi oleh pandangan negatif masyarakat terhadap penderita obesitas.

Pada umumnya, penderita obesitas sudah merasa kurang percaya diri akan ukuran tubuhnya, ditambah cibiran orang lain yang sering kali mengucilkan, menjauhi atau bahkan menghina ukuran tubuh, yang dapat memicu stres berat hingga depresi.

Cara menurunkan risiko depresi akibat obesitas

Seseorang dikatakan obesitas jika memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25. Jika Anda saat ini memiliki indeks massa tubuh yang termasuk kategori obesitas, ada beberapa cara untuk menurunkan risiko terjadinya depresi di masa yang akan datang.

  • Rutin melakukan olahraga

Olahraga rutin setiap hari dengan durasi minimal 30 menit sehari dapat membantu menurunkan berat badan, sekaligus menurunkan risiko terjadinya stres maupun depresi.

Karena saat melakukan olahraga, terjadi peningkatan hormon endorfin yang merupakan hormon pencegah stres di dalam tubuh.

  • Menjaga pola makan

Jika Anda ingin mulai menurunkan berat badan, pola makan harus mulai dijaga dengan mengurangi asupan tinggi lemak dan perbanyak asupan serat setiap harinya. 

  • Meminta bantuan dari orang terdekat

Depresi yang terjadi akibat obesitas dapat muncul akibat beban pikiran yang dialaminya dan disimpan sendiri. Untuk mengurangi beban pikiran yang ada, akan jauh lebih baik Anda menceritakan kepada orang terdekat ataupun keluarga.

Dukungan dari mereka dapat membantu meringankan beban yang ada dalam diri Anda.

  • Konsultasi lanjut ke dokter

Apabila beberapa langkah di atas tidak membantu mengatasi masalah Anda, konsultasikan lebih lanjut ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan diberikan terapi yang optimal.

Orang yang mengalami obesitas perlu didukung agar menjadi lebih sehat. Jika Anda memiliki teman atau kerabat yang mengalami gangguan obesitas, jangan menghakimi mereka. Dukung mereka untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan menjalankan pola makan yang sehat.

Apabila kesehatan mentalnya terjaga, maka semangat penderita obesitas untuk menjalankan hidup sehat juga akan mudah terjadi.

[NP/ RH]