Kerokan Bisa Picu Stroke, Mitos atau Fakta?

Oleh dr. Dyan Mega Inderawati pada 28 Oct 2019, 14:15 WIB
Ada rumor yang beredar mengatakan bahwa kerokan disebut-sebut bisa picu stroke. Ini mitos atau fakta? Kupas tuntas di sini.
Kerokan Bisa Picu Stroke, Mitos atau Fakta? (Foto: Liputan6)

Klikdokter.com, Jakarta Berada di posisi tiga besar sebagai penyakit paling mematikan di dunia, tak heran jika stroke adalah momok menakutkan bagi semua orang. Rumor pun banyak beredar, yang salahnya satunya menyebut kerokan bisa picu stroke. Ini hanya mitos atau memang didukung fakta medis?

Sayangnya, hingga detik ini tidak ada satu pun penelitian atau studi ilmiah yang membuktikan hubungan antara kerokan dengan stroke. Dengan kata lain, kabar bahwa stroke bisa dipicu oleh kerokan hanyalah isapan jempol semata.

Apa saja faktor risiko stroke?

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami serangan stroke di kemudian hari. Namun sekali lagi, kerokan bukan salah satunya. Faktor risiko tersebut ada yang bisa diubah dan ada yang tidak.

Faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah, meliputi:

  • Usia: orang-orang yang berusia di atas 55 tahun akan lebih berisiko terserang stroke dibandingkan dengan mereka yang berusia lebih muda.
  • Jenis kelamin: wanita lebih berisiko terserang stroke dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini berhubungan dengan perubahan hormon saat hamil atau penggunaan kontrasepsi yang mengandung hormon.
  • Riwayat stroke: seseorang yang pernah terkena stroke di masa lalu berpotensi untuk mengalami serangan serupa di masa mendatang.

Meski faktor risiko di atas tak dapat diubah, tetapi jangan langsung pasrah pada kodrat, karena masih ada faktor lainnya yang dapat dimodisikasi untuk menurunkan risiko terjadinya stroke.

Artiya, meski Anda sudah berusia di atas 55 tahun, berjenis kelamin wanita, dan punya riwayat stroke di masa lalu tetap bisa sehat bila gaya hidup dan kondisi tubuh selalu terjaga.

Faktor risiko stroke yang bisa diubah adalah dengan menghindari:

  • Hipertensi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi menjadi faktor risiko utama stroke, apalagi jika tidak terkontrol. Bila tekanan darah terukur berada di atas nilai normal, yaitu 120/80 mmHg, maka perubahan gaya hidup dan kontrol dengan obat-obatan harus dilakukan untuk mencegah timbulnya komplikasi, termasuk stroke.

  • Obesitas

Selain hipertensi, berat badan berlebih yang berada pada kategori obesitas juga dapat meningkatkan risiko stroke. Oleh sebab itu, menjaga berat badan tetap ideal adalah syarat mutlak dalam meminimalkan risiko stroke di masa mendatang.

  • Diabetes

Pada penderita diabetes, kontrol gula darah secara ketat menjadi salah satu syarat untuk menghindari serangan stroke. Sebab, kadar gula darah yang tidak stabil mampu mengundang berbagai macam komplikasi, termasuk kerusakan pembuluh darah besar yang bisa berujung pada stroke.

  • Kolesterol tinggi

Pembuluh darah dapat semakin sempit, bahkan hingga tersumbat total, akibat timbunan kolesterol di dindingnya. Sehingga, itu dapat mengganggu aliran darah ke berbagai organ penting, termasuk otak. Terhentinya aliran darah ke otak inilah yang menyebabkan terjadinya stroke yang dapat mematikan.

  • Merokok

Berbagai senyawa kimia yang ada pada rokok dapat merusak dinding pembuluh darah. Kerusakan ini dapat menyebabkan sumbatan atau pecahnya pembuluh darah yang berujung pada stroke. Jadi, hentikan kebiasaan merokok dan jauhi asapnya sekarang juga.

  • Terlalu banyak duduk

Tidak aktif bergerak dan terlalu banyak duduk dalam aktivitas sehari-hari ternyata bisa melipatgandakan risiko stroke. Hindari hal ini dengan tetap aktif dan berolahraga secara rutin, setidaknya 30 menit per hari.

Menyambut Hari Stroke Sedunia yang diperingati tiap tanggal 29 Oktober, mari luruskan rumor seputar stroke, salah satunya bahwa kerokan bisa picu stroke. Itu hanya mitos belaka tanda dukungan fakta medis. Ketahui dan sebarkan juga bahwa hidup sehat dan kontrol rutin bila ada kondisi kesehatan tertentu adalah kunci untuk meminimalkan risiko stroke di kemudian hari. 

[MS/RN]