Hati-Hati, Deretan Obat Herbal Ini Bisa Picu Penyakit Hati

Oleh Ayu Maharani pada 30 Oct 2019, 13:30 WIB
Banyak masyarakat yang lebih memilih obat herbal ketimbang obat resep dokter. Hati-hati, pasalnya ada obat herbal yang bisa picu penyakit hati.
Hati-Hati, Deretan Obat Herbal Ini Bisa Picu Penyakit Hati (Dagmara_K/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Mungkin karena klaim alami, obat herbalnya punya tempat khusus di hati masyarakat.  Padahal, efektivitasnya masih banyak diragukan. Bahkan, ada beberapa jenis obat herbal yang bisa picu penyakit hati.

Bila Anda salah satu penggemar obat herbal, coba baca lagi kemasan obat, apakah terdapat bahan-bahan di bawah ini. Pasalnya, ancamannya tak main-main, yaitu penyakit hati.

  • Greater celandine

Bahan herbal ini berwujud tanaman hijau berdaun mirip selendri, dengan bunga berwarna kuning. Tanaman greater celandine hanya berbunga saat peralihan musim semi ke musim panas (Mei hingga September). 

Tanaman ini banyak digunakan sebagai pengobatan empedu, batu ginjal, mag, serta obat penenang. Namun tak banyak yang tahu, bahan tersebut memiliki efek samping terhadap kesehatan hati.

Selama dua tahun, peneliti memantau pasien yang mendapatkan pengobatan masalah lambung dengan greater celandine. Beberapa pasien ternyata mengalami hepatitis kolestatik setelah mengonsumsi bahan herbal tersebut. 

  • Pennyroyal

Tanaman berdaun hijau dengan sekumpulan bunga kecil berwarna ungu ini berasal dari tanaman Mentha pulegium

Selain banyak dimanfaatkan menjadi minyak esensial pengharum sabun, bahan herbal tersebut juga banyak dipakai untuk membantu mengatasi sakit perut, perut kembung, dan mengurangi gejala menstruasi. 

Kendati begitu, rupanya pennyroyal tidak bersahabat dengan organ hati. Jika dikonsumsi terlalu sering, pennyroyal justru dapat merusak fungsi hati. 

  • Chaparral

Bunga dari bahan herbal yang satu ini berwarna kuning dan mengandung banyak antioksidan asam nordihydroguaiaretic (NDGA). Antioksidan tersebut dipercaya mampu mengatasi berbagai infeksi bakteri dan virus, tak terkecuali HIV. 

Namun, dalam laporan yang dikeluarkan oleh National Institute of Health, peneliti mencurigai bahwa kandungan NDGA ini juga bersifat racun untuk organ hati—bisa menyebabkan gagal hati akut dan sirosis.

Menurut dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BMedSc(Hons), dari KlikDokter, penyebab tersering dari sirosis adalah alkohol dan hepatitis kronis. “Sedangkan, penyebab lainnya adalah peradangan jangka panjang, racun, infeksi, dan penyakit jantung. Sebanyak 30-20 persen kasusnya bahkan tidak diketahui apa penyebabnya,” tutur dr. Jesslyn. 

  • Kava kava

Di Amerika Serikat, beberapa populasi muda kerap mengonsumsi daun kava kava yang dicampur dengan koktail, sehingga jadilah minuman kavatail. Efek dari minuman tersebut adalah mati rasa di bagian lidah dan bibir serta meningkatkan sensasi relaks.

Jika dijadikan obat herbal, fungsi dari daun kava kava yaitu untuk mengobati gangguan cemas sekaligus meningkatkan kualitas tidur. Akan tetapi, ada penelitian dari Eropa yang melaporkan bahwa kava kava dapat merusak sel-sel hati, bahkan bisa menyebabkan kematian. 

Pada tahun 2007, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, hanya kava kava yang sudah dicampur dengan etanol dan aseton yang bisa menyebabkan kerusakan liver. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apakah kava kava ini memang lebih banyak manfaat positifnya ketimbang dampak negatifnya.

1 of 2

Hal lainnya yang mesti diwaspadai

Juga dari KlikDokter, dr. Alvin Nursalim, SpPD, mengatakan, penggunaan obat herbal juga menyebabkan efek samping jika digunakan bersamaan dengan obat kimia konvensional. 

“Salah satu efek samping yang pernah ditemukan adalah interaksi bunga Echinacea dengan steroid anabolik. Itu bisa menyebabkan kerusakan hati (hepatotoksisitas),” jelasnya turut menambahkan.

Obat herbal biasanya menggunakan tanaman utuh tanpa penyaringan khusus untuk mendapatkan bahan aktifnya. Praktisi pengobatan herbal meyakini bahwa penggunaan tanaman secara utuh akan mengurangi efek racun (efek samping) dari penggunaan obat tersebut. Namun, sepertinya itu tidak berlaku untuk bahan-bahan herbal yang disebutkan di atas.

Walaupun obat herbal sudah ada sejak zaman dahulu, tetapi penelitian ilmiah yang mempelajari keamanan dari pengobatan herbal masih terbatas. Pengaturan peredaran obat herbal juga tidak diatur seketat pengobatan medis. Karena itu, profil keamanan obat herbal masih belum terjamin. 

Selain itu, sampai saat ini belum ada standar yang jelas untuk sediaan obat herbal. Derajat kandungan bahan aktif pada obat herbal dan dosis yang disarankan juga belum ada.

Berhati-hatilah jika ingin mengonsumsi obat herbal, karena beberapa di antaranya disebut-sebut bisa picu penyakit hati. Paling amannya, konsultasikan dengan dokter, apalagi jika Anda memiliki kondisi medis tertentu atau sedang minum obat resep dokter. Takutnya, adanya potensi interaksi dan efek samping malah bisa membuat kondisi memburuk atau memunculkan masalah baru.

(RN)

Lanjutkan Membaca ↓