Kurang Tidur Sebabkan Emosi Berlebihan, Fakta atau Mitos?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 30 Oct 2019, 17:00 WIB
Biasanya, kurang tidur bisa sebabkan seseorang esok harinya uring-uringan atau emosi berlebih karena masih mengantuk. Apakah didukung fakta medis?
Kurang Tidur Sebabkan Emosi Berlebihan, Fakta atau Mitos? (Luis-Molinero/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Dua orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan terlibat adu jotos karena salah satunya merasa emosi lantaran tidak diizinkan tidur siang. Apa iya kurang tidur bisa sebabkan emosi berlebihan seperti sampai-sampai terjadi aksi fisik seperti itu?

Cerita berawal saat salah satu PNS, Jumaintan hendak tidur siang di gudang kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros. Akan tetapi, ia ditegur oleh rekannya, Mahmud karena gudang itu akan dikunci. Teguran yang didapatkannya ternyata membuat Jumaintan langsung naik pitam dan menyerang Mahmud.

Menurut pengakuan Mahmud, Jumaintan langsung meninju perutnya. Setelah itu, terjadilah adu jotos yang di antara keduanya. Perilaku Jumaintan yang memukul rekannya sendiri akibat ingin tidur menjadi pertanyaan besar: apakah orang yang mengantuk akibat kurang tidur memang bisa menunjukkan emosi atau bertindak secara berlebihan?

Mengantuk bikin mudah emosi?

Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan bahwa kurang tidur bisa memengaruhi suasana hati. Ternyata, menurut dr. Seruni Mentari Putri dari KlikDokter, hal tersebut bukan isapan jempol belaka.

Menurutnya, mengantuk karena kurang tidur atau tidak tidur memang bisa membuat suasana hati jadi berantakan. Pada akhirnya, hal tersebut bisa membuat seseorang mengalami buncahan emosi yang berlebihan.

"Ini berhubungan dengan hormon serotonin atau hormon kesenangan. Kalau Anda tidur, hormon bahagia dalam tubuh akan meningkat. Tapi jika tidak tidur, baik selama 24, 48, atau 72 jam, hormon serotonin bisa menurun. Akhirnya, orang yang kurang atau tidak tidur menjadi lebih cranky, mudah emosi, dan pusing," ungkap dr. Seruni.

Dikatakan oleh dr. Seruni, hal tersebut bisa terjadi karena otak yang kurang istirahat. Nah, otak yang kurang isitrahat tidak bisa beregenerasi dengan sempurna, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan hormon.

"Ibaratnya tubuh dan otak itu seperti ponsel yang baterainya perlu diisi ulang untuk mengembalikan kekuatan. Pada manusia, tidur adalah proses ‘isi ulang’ untuk regenerasi sel dan saraf di otak. Kalau kurang atau tidak tidur, proses tersebut akan kacau, sehingga menyebabkan hormon tidak seimbang dan jadi mudah uring-uringan," seperti dijelaskan oleh dr. Seruni.

Pernyataan yang sama juga dituliskan sebuah penelitian yang dipublikasikan di “Journal of Experimental Psychology”. Peneliti yang terlibat, Zlatan Krisan, PhD, mengatakan bahwa orang-orang yang kurang waktu tidur menunjukkan adanya peningkatan amarah dan tingkat stres. Seiring dengan berjalannya waktu, hal tersebut bisa menyebabkan kesulitan beradaptasi terhadap situasi tertentu.

Contohnya, ada beberapa situasi atau kondisi yang bisa ditangani secara baik ketika seseorang mendapatkan waktu tidur yang cukup. Akan tetapi, bagi mereka yang kurang tidur, situasi tersebut bisa saja sulit ditaklukkan. Dengan kata lain, situasi yang seharusnya mudah bisa menjadi sulit apabila seseorang dalam kondisi kurang tidur. Pada akhirnya, itu bisa memunculkan perasaan frustasi dan amarah.

Kurang tidur juga bisa meningkatkan emosi negatif lainnya

Tak berhenti di situ, kurang tidur dan kualitas tidur yang buruk juga telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan fisik, mental, maupun emosional. Dalam jangka pendek, kurang tidur dapat meningkatkan emosi negatif seperti ansietas, kegelisahan, dan perasaan sedih.

Selain itu, kurang tidur juga dapat menurunkan berbagai emosi positif seperti kebahagiaan, antusiasme dan rasa gembira.

Kesimpulannya, mengantuk akibat kurang tidur memang bisa sebabkan emosi berlebihan, yaitu berdampak pada kemampuan dalam mengontrol suasana hati dan emosi. Oleh karena itu, agar suasana hati serta daya fokus tetap terjaga, upayakan untuk selalu mendapatkan waktu tidur yang cukup, yaitu selama 7-8 jam setiap harinya.

(NB/RN)