Bayi Tidak Menangis saat Lahir, Apa Penyebabnya?

Oleh Ayu Maharani pada 04 Nov 2019, 10:00 WIB
Umumnya bayi akan menangis saat lahir. Tapi bagaimana bila yang terjadi sebaliknya? Apa penyebabnya?
Bayi Tidak Menangis saat Lahir, Apa Penyebabnya? (Lolostock/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tangisan bayi merupakan hal yang ditunggu-tunggu saat ibu melahirkan. Sayangnya, ada kondisi di mana bayi tidak menangis saat lahir. Kondisi seperti ini tentu menimbulkan rasa cemas. Lalu apa yang menjadi penyebab hal tersebut?

Perlu diketahui, selama di dalam kandungan, bayi bernapas melalui tali pusar yang terhubung dengan tubuh ibu. Ketika dia keluar dari rahim, normalnya bayi akan menangis. Di saat menangis itulah, paru-paru bayi mulai mengembang untuk bernapas. Waktu bernapas mereka dimulai 10 detik pertama setelah dilahirkan.

1 of 5

Penyebab bayi tak menangis saat lahir

Menangis menjadi cara si bayi untuk berusaha mengembangkan paru-parunya dan beradaptasi. Ada tiga kemungkinan penyebabnya bayi tidak menangis saat lahir, yaitu asfiksia neonatorum, lahir prematur, dan keracunan air ketuban. 

  • Asfiksia Neonatorum

Asfiksia neonatorum adalah kondisi di mana bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup selama proses persalinan hingga persalinan selesai. Bayi yang lahir dengan kondisi asfiksia umum tidak menangis kencang, namun hanya merintih. 

Selain itu, gejala-gejala lain yang dapat dikenali, antara lain:

  • Kulit bayi tampak pucat dan kebiruan 
  • Bibir bayi juga kebiruan 
  • Otot-otot di dada terlihat berkontraksi untuk membantu pernapasan 
  • Detak jantung terlalu cepat atau terlalu lambat 
  • Bayi lemas 

Asfiksia neonatorum merupakan kondisi yang serius karena dapat menyebabkan kematian. Kondisi ini juga dapat menyebabkan gangguan perkembangan bayi hingga ia dewasa. 

Penanganan segera perlu dilakukan saat berhadapan dengan asfiksia neonatorum. Bila terlambat ditangani, otak akan kekurangan oksigen (hipoksia) dan bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada otak. 

Beberapa faktor yang diduga bisa menyebabkan asfiksia neonatorum antara lain:

  • Proses persalinan yang terlalu lama
  • Anemia
  • Tekanan darah ibu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah 
  • Penyakit jantung bawaan 
  • Pneumonia
  • Bayi menelan atau menghirup fesesnya sendiri, sehingga masuk ke paru dan mengganggu saluran pernapasan (sindrom aspirasi mekonium)
2 of 5

Selanjutnya

  • Bayi lahir prematur

Tentu ada alasan mengapa kelahiran prematur perlu dicegah. Salah satunya adalah karena adanya risiko terjadi komplikasi berbagai penyakit pada bayi yang lahir prematur. 

Gangguan pada organ paru merupakan salah satu jenis komplikasi yang berisiko terjadi pada bayi dengan kelahiran prematur. Contoh gangguan pada paru yang bisa terjadi adalah penyakit membran hialin. 

Membran hialin merupakan suatu sindrom pada bayi prematur yang terjadi karena paru-paru belum cukup matang dan kadar surfaktan pada tubuh bayi yang tidak mencukupi. 

Surfaktan merupakan zat yang diproduksi pada saluran napas dan berguna untuk membuka kantung udara di paru. Dengan demikian paru dapat mengembang dan oksigen bisa masuk.

Saat dalam kandungan, paru-paru bayi masih kempis dan tidak bisa menerima oksigen. Pada usia 34-35 minggu, paru akan mengalami pematangan, sehingga paru mengembang dan menerima oksigen. Demikian juga dengan surfaktan yang akan mencapai jumlah memadai di usia 35 minggu.

Bila bayi dilahirkan sebelum usia kehamilan 34-35 minggu, ada kemungkinan paru-parunya belum cukup matang dan jumlah surfaktan belum mencukupi. Risiko yang kemudian muncul adalah penyakit membran hialin. 

3 of 5

Selanjutnya (2)

  • Keracunan air ketuban 

Kondisi ini bisa terjadi juga bayi menghirup atau menelan ketuban yang bercampur dengan mekonium; baik sebelum, selama, maupun setelah persalinan. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal disebut aspirasi mekonium.

Mekonium sendiri merupakan feses pertama bayi. Normalnya, bayi akan mengeluarkan feses pertamanya setelah lahir. Namun ada juga yang mengeluarkannya saat masih dalam kandungan.

Bila mekonium masuk ke paru-paru bayi lewat air ketuban yang terhirup, maka bisa terjadi infeksi pada paru, membuat paru-paru bayi mengembang secara tidak normal, hingga membuat bayi sulit bernapas.

4 of 5

Ibu dengan kondisi medis tertentu lebih berisiko

Beberapa penyebab yang telah dijelaskan di atas tidak terjadi dengan sendirinya. Tentu ada faktor risiko yang menyertainya, misalnya kondisi medis ibu. Ada pun kondisi medis dari ibu yang cukup berbahaya bagi bayi antara lain:

  • Preeklamsia

Preeklamsia ditandai dengan peningkatan tekanan darah ibu hamil disertai gangguan beberapa organ, seperti ginjal, hati, dan jantung. 

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, preeklamsia dapat menimbulkan gangguan perkembangan janin, kelahiran prematur, dan berat lahir bayi rendah. 

  • Diabetes gestasional

Sementara itu dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter mengungkapkan, hormon-hormon selama kehamilan menyebabkan tubuh harus memproduksi lebih banyak insulin agar kadar gula darah bisa terkontrol. 

Pada sebagian ibu hamil, tubuh mungkin saja tidak mampu menghasilkan insulin dengan cukup, sehingga terjadilah diabetes gestasional. Ibu hamil yang mengalami kondisi ini akan memberi lebih banyak gula pada janinnya melalui plasenta. 

Karena janin mendapatkan lebih banyak gula, janin lebih rentan berukuran lebih besar dibandingkan seharusnya. Alhasil, persalinan menjadi lebih sulit, berisiko terjadi perdarahan saat melahirkan, dan meningkatkan risiko bayi lahir prematur. 

  • Obat-obatan tertentu

Ibu hamil yang mengonsumsi narkotika, kelebihan kafein dan alkohol, obat herbal yang belum jelas manfaat dan dosisnya, atau bahan yang digunakan dalam obat berbentuk aerosol dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada janin, tak terkecuali sistem pernapasannya. 

Itulah sebabnya penting untuk selalu menjaga kesehatan ibu, agar bayi dalam kandungan pun dalam keadaan sehat. Selain itu, risiko bayi lahir prematur atau mengalami komplikasi saat proses persalinan pun akan lebih rendah.

Untuk itu, ibu hamil perlu menjaga asupan nutrisinya dan menerapkan pola hidup sehat. Jangan lupa untuk selalu memeriksakan kondisi kehamilan ke dokter kandungan secara rutin, agar kondisi ibu dan janin selalu terpantau.

Nah, memang betul tangisan bayi saat lahir menjadi salah satu tanda kondisi kesehatannya. Bila bayi tidak menangis saat lahir, maka perlu diketahui penyebabnya agar penanganan yang tepat bisa diberikan.

(RH)

Lanjutkan Membaca ↓
kalasend3.gmail_1567664867947kalasend3.gmail_1567664867947

Dok,,apakah lahir melebihi hpl bisa beresiko bayi keracunan air ketuban???