Kenali Beda Reaksi Alergi Sinar Matahari dan Kulit Terbakar Matahari

Oleh Ayu Maharani pada 04 Nov 2019, 11:00 WIB
Paparan sinar matahari bisa sebabkan reaksi alergi dengan kulit terbakar matahari (sunburn). Karena mirip, kenali beda dua kondisi tersebut lebih lanjut.
Kenali Beda Reaksi Alergi Sinar Matahari dan Kulit Terbakar Matahari (Various Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Paparan sinar matahari bisa menyebabkan reaksi alergi dan kulit terbakar matahari atau sunburn. Nah, mengetahui perbedaan antara keduanya sangat penting agar penanganan dan pencegahan pada kulit bisa lebih efektif.

Ya, selain kulit terbakar matahari, paparan sinar matahari juga bisa menyebabkan gangguan kulit lainnya seperti alergi matahari. Reaksi alergi terhadap matahari dialami oleh aktris Korea Selatan yang beberapa waktu lalu mengunjungi Indonesia, Park Shin-hye.

Bintang  melodrama “Stairway to Heaven” ini mengaku bahwa dirinya mengalami reaksi alergi tersebut saat ke Bali. Reaksinya berupa ruam-ruam merah di kulit. 

Akibatnya, aktris kelahiran 18 Februari 1990 ini selalu menggunakan serum khusus untuk meredakan ruam tersebut. Larangan untuk tidak terlalu lama berada di bawah terik sinar matahari juga mesti ia patuhi.

Berkenalan dengan alergi sinar matahari

Alergi sinar matahari atau sun rashes adalah istilah yang menggambarkan adanya kondisi kulit yang sensitif terhadap radiasi ultraviolet yang terdapat dalam sinar matahari (fotosensitivitas). 

Dalam istilah medis, kondisi ini sering disebut sebagai fotodermatosis. Fotodermatosis sendiri terbagi menjadi banyak tipe, tetapi tipe yang paling sering adalah polymorphic light eruption (PLE). Demikian penjelasan dari dr. Sepriani T. Limbong dari KlikDokter.

Reaksi kulit timbul mulai dari beberapa ham hingga beberapa hari setelah paparan sinar matahari. Gejalanya berupa:

  • Bercak kemerahan (eritema) dan disertai rasa gatal.
  • Bercak tersebut akan menetap hingga beberapa hari dan berubah menjadi bengkak dan bentol seperti biduran.
  • Pada beberapa orang, bisa menjadi lenting yang berisi air.

Dari segi lokasi, alergi matahari umumnya terjadi di beberapa area tubuh, terutama yang sering terkena sinar matahari.

“Misalnya leher dan dada bagian atas, lengan atas, punggung tangan, tungkai atas, dan wajah. Reaksi alergi yang dialami akan berkurang secara spontan dan tidak meninggalkan bekas apa pun dalam beberapa hari, dengan catatan penderitanya tidak terpapar sinar matahari lagi,” jelas dr. Sepriani.

Hingga kini penyebab alergi matahari belum pasti. Namun, ditambahkan oleh dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, beberapa orang memang mengalami alergi sinar matahari karena faktor keturunan. Sementara itu, sebagian lagi disebabkan oleh pengobatan, paparan zat kimia, atau tumbuhan tertentu.

“Ras kulit putih (kaukasia) umumnya lebih rentan mengalami alergi sinar matahari dibandingkan ras lainnya. Seseorang yang kulitnya telah terpapar bahan kimia, seperti parfum, disinfektan, dan bahan kandungan tertentu dari tabir surya, lebih rentan mengalami alergi sinar matahari,” ungkap dr. Karin. 

Tak hanya itu, anak yang baru mengonsumsi obat antibiotik tetrasiklin dan golongan sulfa, anti-nyeri ketoprofen, dan anti-jamur griseofulvin memiliki kepekaan terhadap sinar matahari lebih tinggi. 

“Anak yang memiliki penyakit kulit sebelumnya, seperti dermatitis juga lebih rentan kena alergi sinar matahari,” tambahnya. 

1 of 2

Beda alergi matahari dengan kulit terbakar matahari

Sebelum mengetahui perbedaan di antara keduanya, ketahui dulu bahwa sunburn adalah luka bakar yang disebabkan oleh paparan sinar matahari secara berlebihan. 

Ada perbedaan mendasar dari alergi matahari dan terbakar matahari.

“Pada alergi matahari, reaksi terjadi secara spontan akibat sensitivitas tinggi terhadap sinar ultraviolet. Sementara pada kondisi terbakar matahari, reaksi kulit terjadi akibat kerusakan DNA sel kulit,” kata dr. Sepriani menjawab pertanyaan.

Derajat parahnya kerusakan tersebut bergantung pada jenis kulit, intensitas sinar matahari, dan berapa lama seseorang terpapar sinar matahari. 

“Mereka yang berkulit putih dan berjemur dalam waktu kurang dari satu jam akan mengalami keluhan terbakar matahari. Sementara, mereka yang berkulit sawo matang atau cokelat perlu waktu sekitar 90 menit untuk dapat menimbulkan gejala serupa,” kata dr. Sepriani lagi.

Berdasarkan gejalanya, alergi matahari dan terbakar matahari memiliki gejala yang mirip. Awalnya, gejala yang timbul adalah bercak kemerahan. Namun pada alergi matahari, bercak tersebut dapat diikuti biduran dan akan menghilang sempurna ketika tidak terkena sinar matahari lagi.

“Pada kondisi sunburn, penderitanya akan mengalami rasa gatal, nyeri seperti ditusuk atau terbakar, dan beberapa hari kemudian kulit akan tampak pecah-pecah dan kehitaman sebagai respons tubuh terhadap kerusakan sel akibat sinar matahari.

Lengkapnya, gejala sunburn adalah:

  • Kulit menjadi merah kecokelatan.
  • Terasa hangat dan perih saat disentuh.
  • Gatal. 
  • Pada kasus yang agak parah, sunburn menimbulkan gejala bengkak, melepuh, demam, sakit kepala, hingga kram otot. 

Butuh pemeriksaan oleh dokter untuk membedakan keduanya dan mendapatkan diagnosis yang tepat.

Cara mencegah alergi matahari dan kulit terbakar matahari

Pada dasarnya cara mencegah keduanya sama, yaitu dengan:

  • Hindari berada di luar ruangan antara pukul 10 pagi hingga jam 2 siang. Pada jam-jam itulah sinar matahari sedang sangat kuat. 
  • Lindungi kulit dengan tabir surya, baju berlengan panjang, dan topi. 
  • Gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30. Ulangi penggunaannya tiap jam, terutama saat berenang atau berkeringat.
  • Jika sudah telanjur gatal, oleskan krim anti-gatal dengan kandungan hidrokortison atau minum obat alergi (antihistamin). Ruam kemerahan akan hilang sempurna dalam beberapa hari ke depan.

Jangan lagi salah membedakan antara reaksi alergi matahari dengan kulit terbakar matahari, ya! Segera periksakan diri ke dokter spesialis kulit jika mengalami gejala-gejala di atas, supaya bisa mendapatkan diagnosis pasti.

(RN/ RH)

Lanjutkan Membaca ↓