Sebabkan Bayi Meninggal, Ini Fakta Seputar Penyakit Kawasaki

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 06 Nov 2019, 17:00 WIB
Seorang bayi meninggal dunia yang disebabkan oleh penyakit Kawasaki. Termasuk kondisi langka, mari kenali penyakit ini lebih dalam.
Sebabkan Bayi Meninggal, Ini Fakta Seputar Penyakit Kawasaki (Oksana-Kuzmina/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Seorang bayi di Singapura dikabarkan meninggal dunia, yang disebabkan oleh penyakit Kawasaki. Kisah ini diungkap oleh sang ayah, yang sebelumnya telah berjuang mati-matian demi bisa menyembuhkan buah hatinya dari penyakit yang tergolong langka tersebut.

Dilansir dari asiaone.com, sang ayah, Jeremy Chew, mengungkapkan bahwa bayinya yang bernama Aiden terdiagnosis penyakit Kawasaki pada tahun 2015. Nahas, nyawa Aiden tak tertolong meski telah diobati dengan berbagai cara.

"Demam terus-menerus dan sering rewel. Gejala awalnya adalah ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening. Bayi saya awalnya dikira mengalami demam biasa oleh pihak rumah sakit,” kata sang ayah menceritakan tentang gejawa awal penyakit Kawasaki yang diderita Aiden.

Setelah 6 bulan berjuang melawan penyakit, Aiden akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal dunia setelah penyakit Kawasaki menyebabkan serangan jantung yang parah.

Mengenal penyakit Kawasaki

Penyakit Kawasaki adalah gangguan kesehatan yang terjadi akibat autoimun. Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter, ini adalah suatu penyakit non spesifik dan tidak memiliki agen infeksius tertentu. Penyakit Kawasaki menyerang selaput lendir, kelenjar getah bening, lapisan pembuluh darah, dan jantung.

"Penyebabnya sampai saat ini tidak diketahui. Namun, para ahli percaya bahwa jenis virus dan bakteri tertentu dapat memicu aktivitas imunitas pada pasien dengan penyakit kawasaki," ujarnya.

Singkatnya, penyakit Kawasaki adalah kondisi yang menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah nadi (arteri) di seluruh tubuh, termasuk arteri koroner. Penyakit ini meliputi kulit (kutan), mulut (mukosa, dan kelenjar getah bening (nodus limfatikus), sehingga sering disebut sebagai sindrom nodus limfatikus mukokutaneus.

Meski tergolong langka, tetapi beberapa kasus penyakit Kawasaki lebih sering terjadi pada anak usia 2-5 tahun dan lebih banyak diderita anak laki-laki. Selain itu, anak-anak keturunan Asia atau Kepulauan Pasifik seperti Jepang atau Korea juga memiliki tingkat penyakit Kawasaki yang lebih tinggi, meski sebetulnya penyakit ini bisa menyerang dari ras mana pun.

Gejala penyakit Kawasaki

Seperti yang dialami Aiden, gejala awal penyakit Kawasaki adalah demam selama berhari-hari. Tidak hanya itu, penyakit ini juga bisa membuat penderitanya mengalami gejala lainnya seperti:

  • Muncul ruam kemerahan di seluruh tubuh
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher
  • Tangan dan kaki merah dan bengkak, diikuti dengan kulit mengelupas
  • Bibir, mulut, atau tenggorokan berwarna merah dan pecah-pecah
  • Lidah berwarna sangat merah
  • Mata merah seperti berdarah
  • Pada beberapa kasus, penderita penyakit Kawasaki juga mengalami keluhan diare, nyeri perut, dan muntah

Bila tidak ditangani dengan benar, misalnya akibat diagnosis yang terlambat, pasien bisa mengalami komplikasi serius seperti:

  • Aneurisma
  • Peradangan di otot, lapisan, katup, dan selaput luar jantung
  • Aritmia
  • Masalah pada beberapa katup jantung

Pengobatan penyakit Kawasaki

Anak yang terkena penyakit Kawasaki umumnya bisa pulih dengan sendirinya, terutama yang terdiagnosis dini. Meski begitu, penyakit ini juga dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah pada jantung, dengan rasio 1 banding 50 kasus.

"Terapi terkini yang dilakukan untuk penyakit Kawasaki adalah pencegahan terhadap gangguan jantung. Sayangnya, hingga saat ini terapi yang bisa dilakukan adalah dengan immunoglobulin intravenous (IVIG) yang harganya sangat mahal," ungkap dr. Resthie.

Karena bisa sebabkan bayi meninggal dunia, Anda perlu mewaspadai penyakit Kawasaki. Perhatikan setiap perubahan atau gejala tak biasa yang dialami si Kecil. Bila Anda tanda yang tak wajar, misalnya adanya gejala yang sudah disebutkan di atas ditambah adanya faktor risiko, sebaiknya segera periksakan anak ke dokter untuk menegakkan diagnosis. Makin dini terdeteksi, maka efektivitas terapi dan kesembuhan pun ikut meningkat.

(NB/RN)