Anak Punya Teman Khayalan, Orang Tua Juga Perlu ‘Berkenalan’

Oleh Ayu Maharani pada 07 Nov 2019, 13:30 WIB
Jangan terlalu khawatir jika anak punya teman khayalan. Ini yang perlu orang tua lakukan agar anak semakin kreatif dan tetap memahami dunia nyata.
Anak Punya Teman Khayalan, Orang Tua Juga Perlu ‘Berkenalan’ (Cait Eire/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Terkadang, anak kecil punya teman khayalan. Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, 37 persen anak berusia di atas 7 tahun memiliki teman khayalan atau imajiner. Namun, adanya stigma terhadap kondisi tersebut membuat orang tua kerap langsung menolak atau menyangkal saat si Kecil menceritakan teman khayalannya.

Mengapa anak bisa sampai punya teman khayalan?

Selama ini, ada anggapan bahwa anak yang punya teman khayalan adalah anak yang kesepian dan memiliki masalah sosial. Dulu, teman khayalan memang dianggap sebagai alarm tanda masalah psikologis.

Karena memiliki masalah sosial, anak pun menciptakan teman versinya sendiri untuk menghilangkan rasa sepi itu. Begitulah anggapan yang ada. Namun, saat ini sudah ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa itu adalah anggapan yang salah.

Penyebab anak memiliki teman khayalan hingga kini memang belum diketahui secara pasti. Bentuk teman imajiner ini pun bermacam-macam –bisa berupa hewan, manusia, atau makhluk fantasi lainnya. Biasanya, karakter si teman ini akan jauh lebih ceria dan berani, sehingga itu bisa membuat hidup si Kecil lebih seru. 

“Berdasarkan hasil survei, biasanya anak yang memiliki teman khayalan adalah anak tertua, anak tunggal, dan anak yang tidak terlalu banyak menonton televisi. Sebab, mereka memiliki waktu atau kesempatan yang lebih banyak untuk ‘menciptakan’ teman imajiner,” tambah dr. Reza. 

Tapi yang perlu ditekankan, memiliki teman khayalan tak berarti anak dalam masalah. Berbagai hasil penelitian mengungkapkan, anak yang memiliki teman imajiner akan lebih mudah beradaptasi dan mengatasi pengalaman traumatik selama masa kecil. 

Anak yang memiliki teman khayalan juga lebih mudah menghadapi rasa takut, lebih mudah mengeksplorasi ide, memiliki daya imajinasi yang lebih tinggi, serta memiliki rasa kepedulian yang lebih baik. 

Mengapa orang tua perlu berkenalan dengan teman khayalan anak?

Wajar bila orang tua memiliki rasa khawatir jika anak memiliki teman khayalan. Pasalnya, selalu ada dua sisi mata uang dari fenomena tersebut. 

Anak bisa jadi lebih baik (kreatif, berani mengeksplorasi, mandiri, dan lain-lain), atau justru menjadi manipulatif saat melakukan kesalahan (menuduh teman khayalan yang menyuruhnya).

Tapi yang terpenting, sebagai orang tua bersikaplah tenang saat menghadapinya. Tunjukkan rasa ketertarikan Anda terhadap teman imajinernya. Dengan demikian, si Kecil akan merasa percaya diri karena dipercaya. Memberi anak kepercayaan akan membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang jujur. 

Tak hanya itu, ‘mengenal’ teman khayalannya akan menjauhkan si Kecil dari perilaku manipulatif. Bahkan, bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak. 

Contohnya, ketika si Kecil memecahkan suatu benda di rumah dan melemparkan kesalahannya pada sang teman khayalan. Anda bisa mengatakan bahwa teman khayalannya itu bukan anak yang nakal. Begitu juga dengan anak Anda. 

Jadi, jika tidak sengaja memecahkan barang, maka yang harus dilakukan adalah meminta maaf. Bukannya menyalahkan orang lain. Kemudian Anda bisa meminta anak Anda untuk membantu merapikan. 

Tak perlu langsung memarahi. Hal itu justru akan membuat si Kecil merasa bahwa temannya jauh lebih menyenangkan ketimbang Anda. Ke depannya, anak akan menjadi kurang dekat dengan orang tuanya sendiri. 

Teman khayalan tidak akan berlangsung selamanya. Ada waktu di mana semua imajinasi itu hilang. Jika sudah terbiasa masuk ke dalam dunia khayal si Kecil, orang tua akan jadi tempat pertamanya untuk berkomunikasi saat masa-masa itu usai. Si anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan keluarga. 

(RH)