Mengupas Fakta Vitiligo, si Bercak Putih pada Kulit

Oleh Ayu Maharani pada 20 Nov 2019, 16:20 WIB
Kurang informasi soal vitiligo bikin masyarakat percaya mitos kemunculan bercak putih ini. Klinik Pramudia pun berusaha untuk meluruskannya.
Mengupas Fakta Vitiligo, si Bercak Putih pada Kulit (Ayu-Maharani/Klikdokter)

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda mendangar istilah vitiligo? Gangguan kulit ini mungkin pernah Anda jumpai tanpa dikenali. Vitiligo adalah gangguan kulit dengan gejala bercak-bercak putih di beberapa bagian tubuh, sehingga membuat si penderita memiliki kulit yang bercorak. 

Bagi Anda yang pernah menyaksikan America’s Next Top Model, ada seorang model bernama Chantelle Whitney Brown-Young alias Winnie Harlow yang memiliki kulit vitiligo. Meski sempat mendapat cibiran karena keunikan kondisi kulitnya, toh perempuan kelahiran 27 Juli 1994 itu kini tetap eksis di dunia modelling. 

Mengenal Vitiligo

Bercak putih vitiligo pada dasarnya tidak memberikan kesakitan fisik pada penderitanya. Namun, keluhan ini bisa menurunkan kualitas hidup dengan cara menghilangkan kepercayaan diri. Apalagi, di Indonesia, mayoritas penduduknya memiliki kulit sawo matang sehingga bercak putih vitiligo akan sangat kontras terlihat. 

Tak cuma itu, hingga saat ini masih sedikit pula informasi tepercaya mengenai vitiligo yang bisa dijadikan acuan oleh masyarakat. Sehingga, berkembanglah mitos-mitos salah kaprah yang pada akhirnya menyesatkan, seperti vitiligo adalah penyakit menular, bisa hilang dengan cara dikelupas atau dianggap berhubungan dengan gangguan mental. 

Berangkat dari masalah itu, Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin Pramudia menyelenggarakan seminar media yang bertajuk “Vitiligo, Munculnya si Putih yang Tidak Diharapkan: Dapatkah Vitiligo Sembuh?” pada hari Rabu (20/11) di Restoran Aroma Sedap, Menteng, Jakarta Pusat. 

Tujuan diadakannya seminar ini adalah agar media, termasuk KlikDokter, bisa membantu menyebarluaskan informasi yang lebih tepat kepada masyarakat terkait fakta dan mitos vitiligo. 

Adapun tiga pembicara yang hadir, antara lain: dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, selaku CEO Klinik Pramudia, dr. Dian Pratiwi, SpKK, FINSDV, FAADV sebagai salah satu dokter di klinik tersebut, serta dr. Ronny Handoko, SpKK selaku Spesialis Kulit dan Kelamin senior di klinik yang berada di area Jakarta Barat itu. 

Dalam kesempatannya, dr. Dian menjelaskan mengenai vitiligo kepada awak media. Dikatakan bahwa pada kondisi normal, warna kulit, rambut dan mata ditentukan oleh suatu pigmen yang disebut melanin. Nah, pada kondisi vitiligo, sel-sel yang membentuk melanin (melanosit) berhenti berfungsi atau mati. 

Penyebab terhentinya produksi melanosit dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti genetik atau keturunan, penyakit autoimun, stres oksidatif hingga paparan sinar matahari atau bahan kimia. Mereka yang mengalami kondisi tersebut juga akan memiliki dua warna kulit. Satu yang lebih gelap (warna kulit asli) dan satu lagi lebih pucat seperti warna susu (akibat vitiligo). 

“Bercak putih vitiligo memang tidak menimbulkan gatal, perih dan lainnya. Tetapi orang yang memilikinya berisiko mengalami depresi lima kali lipat lebih besar ketimbang orang dengan kulit normal,” kata dr. Dian.

“Itulah mengapa, diperlukan pengetahuan yang cukup, khususnya tentang mitos yang semestinya tidak perlu dipercaya dan terapi apa yang bisa dijalani agar penderita vitiligo punya harapan lebih besar,” sambungnya. 

Adapun mitos menyesatkan seputar vitiligo, di antaranya:

  • Vitiligo menular dan Anda harus menjauhi penderitanya. Ini tidak benar, karena vitiligo tidak menular. Namun, ada risiko bahwa anak yang dilahirkan akan mengalami vitiligo juga (faktor keturunan).
  • Penderita vitiligo memiliki kecacatan fisik lain sekaligus gangguan mental. Ini juga tidak benar. Hampir semua penderita vitiligo hidup normal.
  • Karena sama-sama “putih”, vitiligo sama dengan albino. Ini tidak tepat, sebab vitiligo dan albino adalah dua hal berbeda. Orang albino tetap memiliki melanosit, sedangkan orang vitiligo tidak. 

Terapi untuk Vitiligo

Di kesempatan yang sama, dr. Ronny menjelaskan bahwa terdapat beberapa metode terapi yang semakin berkembang dalam mengatasi Vitiligo. Misalnya:

  • Terapi Topical Corticosteroid (TCS) 
  • Topical Calcineurin Inhibitor (TCI)
  • Terapi Sinar PUVA dan UVB-NB
  • Terapi Kombinasi UVA dan UVB-NB
  • Terapi Kamuflase Kulit
  • Terapi Depigmentasi

“Pada anak-anak, perlu dilakukan pengobatan secara dini agar penyakit tidak meluas, tidak muncul lesi baru dan keberhasilan pengobatan lebih baik. Sedangkan pada orang dewasa, metode pengobatan TCI sedikit lebih efektif daripada TCS. Pengobatan vitiligo bisa dikatakan sebagai pengobatan jangka panjang,” ujar dr. Ronny. 

Jika ditanya bisa sembuh atau tidak, dr. Ronny menjawab: harapan itu selalu ada. Pada dasarnya, selain mengurangi bercak, terapi yang diberikan dokter bertujuan untuk mencegah timbulnya lesi baru (meluas).

“Bila si pasien selalu optimis dan tetap percaya diri dalam arti psikologisnya baik dan stabil, pengobatan yang dijalankan juga akan lebih optimal,” tutur dr. Rony.

Menutup sesi, dr. Anthony mengatakan bahwa pasien vitiligo perlu memupuk sikap positif dan kerja sama yang baik dengan dokter agar pengobatan bisa sepenuhnya efektif.

“Kalau tiba-tiba pasien menghilang di tengah rangkaian pengobatan, tentu perbaikan kondisi kulit serta peningkatan kualitas hidup sulit diwujudkan,” pungkasnya. 

Informasi tentang bercak putih vitiligo sekaligus pengobatan yang diperlukan sebaiknya hanya didapatkan dari dokter spesialis kulit dan kelamin serta klinik tepercaya. Hindari pula melakukan pengobatan alternatif yang belum terbukti khasiatnya. Tetaplah percaya diri dengan apapun kondisi kulit Anda, karena setiap orang punya cara masing-masing dalam mengekspresikan keindahannya. 

(NB/RPA)