Berapa Lama Masa Inkubasi Difteri?

Oleh dr. Reza Fahlevi pada 25 Nov 2019, 14:40 WIB
Walau gejalanya seperti meriang, namun penyakit difteri bisa membahayakan nyawa. Cari tahu lama masa inkubasi difteri hingga pencegahannya di sini.
Berapa Lama Masa Inkubasi Difteri? (TY-Lim/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit difteri merupakan salah satu penyakit yang mematikan. Seperti halnya penyakit infeksi lainnya, penyakit Difteri memiliki masa inkubasi. Masa inkubasi adalah periode mulai dari masuknya kuman ke dalam tubuh hingga menimbulkan gejala. Lalu, berapa lama masa inkubasi difteri?

Menurut berbagai literatur kedokteran, dikatakan bahwa masa inkubasi difteri berkisar antara 1-10 hari, sebagian besar antara 2-5 hari.

Pada masa inkubasi, kuman masih dalam tahap memperbanyak diri terlebih dahulu sehingga belum muncul gejala. Kalaupun ada gejala yang muncul, biasanya tidak spesifik (prodromal). Contohnya meriang, rasa tidak enak badan, nafsu makan berkurang, dan badan terasa lemas.

Setelah masa inkubasi berakhir, barulah muncul manifestasi klinis dari suatu infeksi sesuai dengan karakteristik gejala infeksi tersebut. Artinya, setelah seseorang terinfeksi, ia tidak serta merta langsung mengalami gejala infeksi difteri.

Gejala prodromal bisa saja muncul, namun ini bersifat tidak spesifik sehingga biasanya pada masa ini pasien sulit dikenali sebagai infeksi difteri. Gejala difteri baru muncul setelah beberapa hari, saat jumlah kuman difteri sudah cukup banyak serta kuman sudah memproduksi toksin yang menimbulkan gejala difteri.

Tapi tahukah Anda bahwa difteri merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri bernama Corynebacterium diphtheria? Nama bakteri ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu diphtheria, yang berarti kulit tersembunyi.

Menurut sejarah, penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Hippocrates pada abad ke-5, dan pernah menjadi wabah pada abad ke-6. Observasi terhadap bakteri ini mulai dilakukan pada tahun 1883. Seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, pengobatan antitoksin difteri dikembangkan pada tahun 1920-an.

Apa saja gejalanya?

Karakteristik khas kuman difteri adalah terbentuknya selaput putih-keabuan pada rongga hidung hingga saluran napas. Selaput putih ini akan mudah berdarah jika dilepas.

Tanda lainnya meliputi gejala sistemik berupa demam yang tidak terlalu tinggi. Gejala pada saluran napas berupa nyeri tenggorokan, ingus berwarna putih, suara serak, sulit menelan, hingga kesulitan bernapas. Selanjutnya, akan muncul gejala lain berupa pembengkakan leher.

Selain saluran napas, difteri juga dapat menyebabkan gejala pada organ lain seperti mata, kulit, dan organ genital. Namun demikian, gejala di luar saluran napas tersebut jarang terjadi.

Jika tidak segera ditangani, infeksi difteri akan menyebabkan gangguan kontraksi jantung akibat toksin yang dihasilkan oleh kuman difteri yang berisiko menyebabkan kematian. Itulah sebabnya mengapa penyakit difteri sangat penting dicegah dan diobati segera.

Sayangnya, terkadang infeksi difteri tidak dikenali sejak awal karena gejalanya dapat mirip seperti gejala radang tenggorokan yang disebabkan oleh kuman lain seperti Streptokokus.

Akibatnya, pasien dengan infeksi difteri sering datang dalam keadaan yang sudah terlambat, sehingga sudah muncul komplikasi seperti sumbatan saluran napas atau gangguan pada jantung.

Kendala kedua adalah mudahnya infeksi difteri menyebar melalui percikan batuk atau bersin orang yang terkena infeksi difteri, sehingga mudah menjadi wabah. Jika seseorang tidak memiliki kekebalan terhadap difteri, misalnya orang yang tidak divaksinasi, maka ia akan mudah mengalami infeksi tersebut.

Penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi difteri sejak usia bayi. Imunisasi ini diberikan sebanyak lima kali sejak anak berusia dua bulan hingga enam tahun.

Semakin banyak orang yang diimunisasi dalam suatu komunitas, maka akan terbentuk kekebalan tubuh bersama (disebut sebagai herd immunity). Selain itu, biasakan menggunakan masker saat berada di tempat umum atau saat mengunjungi orang yang dicurigai mengalami infeksi difteri.

Nah, kini Anda telah mengetahui masa inkubasi difteri dan bagaimana bahayanya. Ketahui cara pencegahan dan gejala difteri supaya mendapat penanganan dengan baik oleh dokter Anda. Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter melalui fitur Live Chat untuk mengetahui hal lain terkait difteri.

[RPA/ RH]