Dampak Anak Melihat Orang Tua Berhubungan Seks dan Cara Meresponsnya

Tak hanya perasaan canggung yang muncul, anak yang terlanjur melihat orang tuanya berhubungan seks juga punya dampak tersendiri baginya.
Dampak Anak Melihat Orang Tua Berhubungan Seks dan Cara Meresponsnya

Klikdokter.com, Jakarta Seiring dengan perkembangan si Kecil, rasa ingin tahunya pun semakin besar. Hal ini tak terkecuali ketika anak tak sengaja melihat Anda dan pasangan sedang berhubungan intim. Apa dampak bagi anak yang melihat orang tua berhubungan seks?

Dampak Anak yang Melihat Orang Tua Berhubungan Seks

Hingga saat ini, belum ada studi yang menunjukkan bahwa anak yang melihat orang tua berhubungan seks akan memiliki gangguan mental

Anak yang melihat orang tuanya nyaman saat telanjang ketika ganti baju atau mandi justru akan memiliki hubungan seksual yang lebih sehat kelak. Namun, reaksi anak ketika melihat orang tua berhubungan seks tergantung dari usianya. 

Pada anak yang masih bayi di bawah enam bulan, biasanya masih belum mengerti.  Sedangkan, pada anak usia sekitar 2-3 tahun, ia bisa berpikir bahwa ayahnya sedang “menyakiti” ibunya. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan mentalnya. 

Pada anak yang lebih besar sekitar usia lima tahun, ia akan lebih penasaran dan berusaha mendekati untuk mencari tahu apa yang terjadi. Lalu, anak usia delapan tahun bisa berpikir bahwa yang dilakukan oleh orang tuanya itu aneh. 

Sementara, pada anak yang sudah lebih besar dan mengerti (sekitar 12 tahun), mungkin akan merasa jijik ketika tidak sengaja melihat orang tuanya berhubungan seks.

Namun umumnya, pada anak yang memasuki usia sekolah, rasa ingin tahunya akan jauh lebih besar ketimbang anak balita. Dampak yang dirasakan pun jauh lebih besar dan cenderung berbahaya.

Bahayanya, anak jadi punya keinginan untuk mencoba hal yang sama. Terlebih bila ia pernah melihat hubungan intim orang tua beberapa kali.

Artikel Lainnya: 5 Langkah Mudah Berikan Edukasi Seks kepada Anak

1 dari 3

Bagaimana Orang Tua Sebaiknya Merespons?

Bagaimana Orang Tua Sebaiknya Merespons?
loading

Kunci yang tepat dalam hal ini adalah bersikap tenang dan jangan lantas memarahi anak. Anda harus tenang dan berusaha untuk menjelaskan sesuai dengan usianya. 

Pada anak usia toddler, Anda dapat menjelaskan bahwa Anda sedang memiliki waktu pribadi bersama pasangan dan bukan menyakiti satu sama lain. Setelah itu, diamkan saja, kecuali anak memiliki pertanyaan lebih lanjut.

Untuk anak usia lebih tua (sekitar usia SD), biasanya ia sudah mengerti dan memiliki rasa ingin tahu akan seks. Namun, anak juga sering kali ingin mengganti topik tentang seks. 

Cara merespons untuk usia ini adalah tergantung dari masing-masing anak. Jika anak ingin tahu, maka Anda boleh jelaskan. Tapi saat anak tidak mau membahasnya, jelaskan saja di lain waktu.

Pada anak-anak usia remaja, mereka tentunya lebih mengerti akan hal ini. Berikan pemahaman bahwa hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah resmi menikah.

Hal ini dapat mencegah anak meniru dan mencoba melakukan hubungan seks. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan edukasi seks sejak dini.

2 dari 3

Pentingnya Edukasi Seks Sejak Dini

Pentingnya Edukasi Seks Sejak Dini
loading

Tak bisa dimungkiri, edukasi seks pada anak sejak dini sangat penting. Sehingga, anak memiliki sikap dan pandangan yang sehat terhadap hal seksual dan organ reproduksi.

Banyak sekali informasi keliru tentang seks yang beredar di sekitar anak. Bila tidak diwaspadai, informasi tersebut bisa merusak persepsi anak tentang seks. Jadi, penting sekali bagi Anda dan pasangan untuk mengedukasi seputar seks sejak dini.

Artikel Lainnya: Pentingkah Memberikan Pendidikan Seks untuk Anak?

Sebenarnya, tidak ada kata terlalu cepat untuk memulai edukasi seks pada anak, asalkan sesuai dengan umurnya.

Untuk usia bayi dan batita, Anda bisa mulai mengenalkan nama organ reproduksi. Ajarkan perbedaan bagian genital laki-laki dan perempuan, yaitu penis dan vagina. 

Jangan ajarkan dengan memakai kata sebutan atau “istilah” lain dari organ intim pria dan wanita. Hal ini bisa membuat anak makin bingung. 

Untuk anak balita hingga usia sekolah dasar, beri tahu bagian tubuh mana yang boleh disentuh orang lain dan mana yang tidak. Ingatkan bahwa bagian genital itu penting dan bersifat sangat pribadi, sehingga tidak boleh disentuh orang lain.

Ketika bagian tubuh yang pribadi disentuh atau diraba oleh orang lain, ajarkan anak untuk berani melaporkan kepada orang tuanya atau guru di sekolah.

Saat anak beranjak remaja, Anda bisa mulai berdiskusi mengenai perubahan pada tubuh dan organ reproduksinya (fisik dan psikologis). Hal ini berkaitan dengan masa pubertas. 

Anda dapat mengedukasi sebelum masa pubertas itu terjadi, sehingga anak tidak akan bingung ketika terjadi menstruasi atau mimpi basah. Jelaskan pula konsekuensi dari hubungan seks yang tidak bertanggung jawab.

Baca Juga

Bila orang tua menerapkan edukasi seks pada anak dengan benar, risiko perilaku seksual yang salah bisa berkurang. Anak pun bisa melindungi diri dan bagian pribadinya. Lalu, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak juga bisa terbangun.

Itulah beberapa dampak anak melihat orang tua berhubungan seks yang perlu Anda ketahui. Bila ingin tahu lebih lanjut tentang cara membangun komunikasi yang sehat dengan anak, chat psikolog klinis via Live Chat di aplikasi KlikDokter

(FR/ RH)

Live Chat 24 Jam

Ingin konsultasi mengenai artikel di atas?

Masuk

REAKSI ANDA

ARTIKEL TERKAIT

Kesehatan Mental Anak Sejak Dini Harus Diperhatikan, Ini Alasannya!

Info Sehat
08 Des

6 Cara Bangun Waktu Berkualitas dengan Anak

Info Sehat
04 Agt

Kenali Dampak Orang Tua Narsis pada Kesehatan Mental Anak

Info Sehat
27 Okt

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk