Jangan Nyinyir, Ini yang Dimaksud dengan Tes Keperawanan atau Hymen!

Oleh dr. Rio Aditya pada 03 Dec 2019, 13:30 WIB
Tes Keperawanan sebagai 'syarat’ saat ini hangat dibicarakan. Nah, sebelum nyinyir, cari tahu dulu yuk apa yang dimaksud dengan tes ini.
Jangan Nyinyir, Ini yang Dimaksud dengan Tes Keperawanan atau Hymen! (Teerasak Ainkaew/123rf)

Klikdokter.com, Jakarta Pembicaraan mengenai tes keperawanan saat ini kembali menghangat. Salah satunya adalah akibat gagalnya seorang atlet senam dari Kediri, Jawa Timur, ikut SEA Games 2019 karena hasil tesnya menunjukkan dia tidak perawan lagi. Tes Keperawanan sebagai “syarat” sebenarnya bukan isu baru di publik. Hal ini bahkan sudah menjadi isu kontroversial di seluruh dunia.

Tes ini sendiri sangat ditentang oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), hingga Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Wanita (UN Woman). 

WHO menyatakan dalam literaturnya, pemeriksaan keperawanan bukanlah suatu metode ilmiah yang signifikan dan sebaiknya dihentikan. Namun, karena kompleksnya budaya, kultur, dan stigma sosial, hal ini masih menjadi kontroversi.

Meski demikian, perlu diingat bahwa dalam istilah medis, tidak ada arti keperawanan atau perawan. Kata keperawanan bukan berasal dari dunia medis, melainkan berasal dari kultur atau ekspektasi sosial terhadap status seorang wanita. 

Tes keperawanan, apa itu?

Tes keperawanan merupakan suatu pemeriksaan ginekologis yang dipercaya bahwa dengan melakukannya dapat mengetahui apakah seorang wanita sudah pernah menjalani hubungan seksual atau belum.

Tes keperawanan biasanya dilakukan dengan melakukan inspeksi langsung terhadap hymen di liang vagina. Tujuannya adalah untuk melihat bentuk hymen dan apakah mengarah kepada suatu indikasi adanya riwayat aktivitas seksual.

Di beberapa negara, jenis pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa korban kasus pemerkosaan. Lewat hasil pemeriksaan tersebut, dapat diketahui apakah korban benar mengalami pemerkosaan atau tidak.

Seperti yang telah disebutkan di atas, pemeriksaan ini masih menuai banyak kontroversi di berbagai negara. Pasalnya, sebagian berpendapat bahwa tes keperawanan melanggar hak asasi wanita. Tes ini juga cenderung dapat menimbulkan efek negatif, baik secara fisik maupun psikologis. 

Efek negatif yang dapat ditimbulkan adalah seperti rasa malu, mengingat kembali peristiwa traumatis yang pernah dialami, rasa nyeri, stres, depresi, dan rasa kecemasan.

1 of 2

Pemeriksaan tes keperawanan

Pada tes keperawanan, dokter akan memeriksa bagian hymen wanita atau yang lebih sering dikenal dengan nama selaput dara. Tidak seperti yang dipahami kebanyakan orang, selaput dara bukan seperti tirai yang menutup semua bagian vagina, lalu koyak tertembus setelah penetrasi.

Selaput dara tidak menutupi seluruh liang vagina. Hymen hanya berupa lipatan tipis jaringan lunak dan pembuluh darah di pinggiran, bagian depan pintu masuk vagina.

Bentuk, ukuran hymen, dan ketebalannya pun bervariasi. Ketika dokter melihat adanya robekan, luka, atau bentuk yang diduga berubah karena adanya penetrasi ke dalam liang vagina, maka hasil dari inspeksi tersebutlah yang dilaporkan.

Cara lain dalam pemeriksaan tes keperawanan adalah dengan memasukkan dua jari ke dalam vagina, serta menilai integritas dan bentuk dari hymen. Robeknya selaput dara pun tidak serta-merta disebabkan oleh hubungan seksual.

Kegiatan seperti olahraga, tindakan medis tertentu, dan bahkan bentuk bawaan dari lahir juga dapat memengaruhi bentuk selaput dara.

Tidak hanya itu, ada juga wanita yang lahir memang dengan tanpa adanya selaput dara di vaginanya. Robeknya selaput dara akibat olahraga pun tidak dengan mudah terjadi. Perlu trauma atau suatu gerakan yang kuat dan berulang sehingga menyebabkan robekan. 

Pemeriksaan semata tidak bisa menentukan dengan pasti apakah seorang wanita sudah tidak “perawan” lagi akibat suatu hubungan seksual atau bukan. 

Tes keperawanan memang masih menjadi kontroversi karena lekat dengan keyakinan, budaya, dan stigma sosial yang ada. Akan tetapi, dari beberapa penelitian, tes keperawanan ini justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental seorang wanita. Oleh karena itu, perlu kebijaksanaan dalam melihat dari segala sudut pandang sebelum melakukan pemeriksaan ini agar kesehatan mental sang wanita tetap terjaga.

[HNS/RPA]

Lanjutkan Membaca ↓