Kapan Pengidap Skoliosis Harus Dioperasi? Ini Penjelasannya

Oleh dr. Theresia Rina Yunita pada 04 Dec 2019, 13:15 WIB
Skoliosis merupakan kelainan kurva tulang belakang, lalu kapan harus dilakukan operasi?
Kapan Pengidap Skoliosis Harus Dioperasi? Ini Penjelasannya (Staras/123rf)

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu bentuk kelainan tulang belakang/punggung yang sering dijumpai adalah skoliosis. Skoliosis merupakan gangguan pada tulang belakang yang ditandai dengan kelengkungan abnormal menyerupai huruf C atau S kalau dilihat dari belakang. 

Kelainan ini dapat terjadi pada tulang servikal (leher), torakal (dada), maupun lumbal (pinggang). Terdapat 2 tipe kelengkungan tulang belakang ke arah samping yang umum ditemui. Kurva C umumnya terjadi pada thoracolumbal

Sementara kurva S lebih sering terjadi pada skoliosis idiopatik dan terletak di torakal kanan dan lumbal kiri, atau di torakal kiri dan lumbal kanan. Penyebab skoliosis terdiri dari 3 macam. Pertama, skoliosis idiopatik yang biasanya terjadi karena faktor genetik.

Penyebab karena genetik dan belum diketahui jelas penyebabnya sehingga sulit untuk dicegah. Hampir 80 persen kasus skoliosis merupakan tipe ini. 

Kedua, skoliosis kongenital yang terjadi karena kegagalan pertumbuhan tulang belakang saat di dalam kandungan atau ketika telah lahir. Ketiga, skoliosis degeneratif yang merupakan kerusakan bagian tulang belakang akibat bertambahnya usia. Beberapa penyakit seperti parkinson dan osteoporosis diduga menjadi penyebab skoliosis tipe ini.

Sangat mudah melihat apakah seseorang mengalami skoliosis. Berikut adalah ciri-ciri skoliosis yang bisa Anda perhatikan.

  • Punggung pengidap cenderung melengkung ke salah satu sisi (kiri atau kanan) menyerupai huruf S atau C. 
  • Salah satu sisi bahu lebih tinggi dari sisi satunya.
  • Salah satu sisi tulang belikat tampak lebih menonjol.
  • Pinggul tidak sama tinggi antara kiri dan kanan.
  • Sering pegal-pegal pada pingggul dan punggung kadang disertai nyeri.

Jika sudah terlihat jelas, maka hal itu menandakan bahwa kelengkungan tulang belakang telah melebihi 30 derajat. Hal ini tentu membutuhkan perhatian khusus. Namun, bila kelengkungan hanya 25-50 derajat pada tulang yang masih tumbuh, cukup dilakukan observasi saja. 

1 of 2

Selanjutnya

Pilihan pengobatan yang dapat dilakukan adalah pemasangan orthosis atau alat penyangga. Alat ini dianjurkan untuk pengidap skoliosis pada kelengkungan yang mencapai 30-40 derajat. Selain itu, terdapat peningkatan kelengkungan tulang punggung sebanyak 25 derajat. 

Jika penggunaan orthosis gagal, maka langkah selanjutnya adalah operasi. Operasi skoliosis dapat dilakukan bila kelengkungan telah melebihi 45 atau 50 derajat yang dihitung menggunakan metode cobb dengan kondisi berikut ini.

  • Kelengkungan melebihi 50 derajat akan memburuk bahkan setelah tulang berhenti tumbuh.
  • Semakin besar derajat kelengkungan (kurva), dapat menyebabkan fungsi paru berkurang hingga kegagalan pernapasan, serta membuatnya semakin sulit dioperasi
  • Adanya saraf terjepit yang menimbulkan keluhan nyeri atau lainnya.

Selain dilihat dari pemeriksaan fisik, dokter harus melakukan pemeriksaan penunjang untuk diagnosis skoliosis seperti berikut ini.

  • Sinar X dan rontgen. Penggunaan radiasi imaging ini untuk mendapatkan gambaran tulang belakang.
  • MRI. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan gelombang radio dan magnet untuk mendapatkan gambaran tulang belakang dan jaringan di sekitarnya.
  • CT Scan. Gambaran tulang belakang akan terlihat secara 3 dimensi.

Penentuan tindakan skoliosis tidak hanya bergantung pada derajat kelengkungannya saja. Namun, juga dari progresivitas, usia, jenis kelamin, dan pertimbangan lainnya. 

Perlu diingat, operasi tulang belakang merupakan tindakan yang berisiko dan tentu tidak murah. Oleh sebab itu, lakukan pencegahan sejak dini agar tidak mengalami skoliosis di kemudian hari atau memperburuk skoliosis yang sudah dimiliki. 

(FR/AYU)

Lanjutkan Membaca ↓