Penyebab Wanita Alergi Sperma dan Cara Mengatasinya

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 06 Dec 2019, 09:00 WIB
Apakah Anda tahu bahwa ada alergi sperma atau cairan semen? Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Mari baca penjelasannya di bawah ini!
Penyebab Wanita Alergi Sperma dan Cara Mengatasinya (Kristijan Zontar/123rf)

Klikdokter.com, Jakarta Alergi sperma atau cairan semen dikenal dengan nama human seminal plasma hypersensitivity (HPS). Pengertian HPS sendiri adalah reaksi alergi terhadap protein yang ditemukan di kebanyakan sperma laki-laki. Kondisi langka ini lebih banyak terjadi bagi kaum perempuan.

Berdasarkan penelitian, alergi terhadap cairan sperma sendiri mungkin saja terjadi. Kondisi ini dikenal dengan nama post-orgasmic illness syndrome atau sindrom penyakit setelah orgasme. Lalu, gejala apa saja yang menandakan jika seorang alergi sperma? Adakah cara mengatasinya?

Gejala alergi sperma

Kondisi ini memang lebih banyak dialami oleh perempuan. Misalnya saja di Amerika Serikat, sebanyak 40 ribu perempuan tercatat mengalami alergi sperma. Bahkan, dapat menimpa perempuan yang tidak pernah mengalami gejala sebelumnya saat terekspos dengan cairan seminal. 

Gejala juga dapat timbul setelah kontak dengan satu pasangan saja dan bukan pasangan yang lainnya. Meskipun alergi pada sperma dapat terjadi kapan pun, banyak perempuan yang mengalaminya di usia awal 30-an.

1 of 3

Selanjutnya

Seseorang yang tertimpa kasus alergi sperma berat, bisa terjadi anafilaksis atau reaksi alergi yang parah. Gejalanya sampai mengalami kesulitan bernapas, mengi (nafas yang berbunyi), lidah atau tenggorokan bengkak, denyut nadi yang cepat atau lemah, pusing atau pingsan, mual, muntah, dan diare. 

Gejala anafilaksis seperti ini biasanya terjadi dalam hitungan menit setelah terekspos dan membutuhkan penanganan medis secepatnya. Namun pada kasus yang ringan, seorang yang alergi sperma bisa mengalami gejala di bawah ini.

  1. Kemerahan.
  2. Rasa terbakar.
  3. Bengkak.
  4. Nyeri.
  5. Gatal-gatal.

Gejala-gejala di atas dapat timbul di bagian tubuh yang bersentuhan dengan cairan sperma. Misalnya, pada tangan, mulut, dada, atau anus. 

Bagi perempuan, biasanya gejala muncul pada daerah vulva dan di dalam kanal vagina. Sedangkan untuk laki-laki, gejala timbul pada daerah batang penis atau pada kulit di atas daerah kemaluan. 

Reaksi alergi terhadap cairan sperma biasanya terpusat pada satu daerah tubuh. Namun, pada sekelompok orang, gejala-gejala yang ada dapat timbul di seluruh tubuh. 

Misalnya, laki-laki yang alergi terhadap cairan spermanya sendiri dapat mengalami kelelahan yang parah, panas yang hebat, serta merasa tidak enak badan segera setelah ejakulasi. Biasanya, gejala-gejala akan timbul dalam 20–30 menit setelah terekspos dan akan terus ada hingga beberapa jam hingga hari tergantung dengan keparahan.

2 of 3

Penyebab dan cara mengatasi alergi sperma

Alergi terhadap cairan sperma biasanya disebabkan oleh protein yang ditemukan dalam sperma laki-laki. Beberapa penelitian menemukan beberapa alergen obat atau makanan yang ditemukan dalam sperma dapat memicu gejala.

Cara mengatasi kondisi alergi ini adalah dengan mengurangi atau menghindari gejala. Misalnya, menggunakan kondom setiap kali berhubungan seksual. Sedangkan untuk laki-laki yang alergi dengan sperma sendiri, mereka harus menggunakan kondom bila sedang masturbasi.

Jika Anda memilih untuk tidak menggunakan kondom, Anda bisa konsultasi dengan dokter untuk melakukan desensitisasi. Dokter spesialis Alergi dan Imunologi akan menempatkan sperma yang telah diencerkan ke dalam vagina atau pada penis setiap 20 menit menggunakan spuit. Proses ini akan terus dilakukan sampai Anda tidak lagi alergi terhadap sperma dan tak lagi mengalami gejala seperti yang telah dijelaskan di atas. 

Setelah dilakukannya proses desensitisasi awal, Anda dan pasangan harus tetap konsisten menjaga paparan terhadap sperma. Mudahnya, seseorang yang alergi pada sperma pasangannya, sebaiknya berhubungan seksual setiap 48 jam.

Cara lainnya adalah dengan mengonsumsi obat antihistamine sebelum berhubungan seksual. Cara ini akan membantu mengurangi gejala alergi, terlebih bila pasangan Anda tidak ingin menggunakan kondom. 

Alergi sperma atau cairan semen dapat terjadi tidak hanya pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki. Gejala alergi biasanya timbul setelah terpapar dengan sperma atau cairan semen. Segeralah mencari bantuan medis apabila gejala yang timbul sudah mengganggu atau membahayakan nyawa seperti pada kasus anafilaksis.

[RPA/AYU]

Lanjutkan Membaca ↓