Berapa Kali Waktu Liburan yang Ideal dalam Satu Tahun?

Oleh Ayu Maharani pada 29 Dec 2019, 10:00 WIB
Tahun ini sama sekali tak ambil jatah cuti? Hati-hati, itu bisa bikin stres! Coba rehat sejenak dengan anjuran waktu liburan yang ideal dalam satu tahun.
Berapa Kali Waktu Liburan yang Ideal dalam Satu Tahun?

Klikdokter.com, Jakarta Jika anak sekolah punya liburan panjang untuk menyegarkan kembali fisik dan pikirannya, para pekerja punya jatah cuti yang bisa diambil untuk merehatkan diri. Sayangnya, ada pula orang yang tak mau mengambil jatah cuti, meski sebenarnya sedang stres dan lelah! Padahal, ada hitungan waktu liburan yang ideal dalam satu tahun agar Anda tak burnout.

1 of 3

Liburan Penting untuk Meminimalkan Burnout

Liburan Penting untuk Meminimalkan Burnout
Ilustrasi Wanita Membawa Kamera Digital Saat Liburan

Burnout syndrome adalah salah satu kondisi stres yang berhubungan dengan pekerjaan.  Kondisi ini dipicu antara lain oleh besarnya jurang ekspektasi dan harapan dengan kenyataan yang dihadapi karyawan.

Gejala utama Anda sedang mengalami burnout adalah kelelahan. Anda juga akan menjadi mudah marah dan bermusuhan dengan segala hal. Selain itu, meskipun Anda berniat untuk beristirahat di rumah, seorang pekerja yang burnout akan mengalami insomnia dan rasa lelahnya pun tak kunjung hilang.

Ketimbang memaksakan bekerja dengan kondisi itu dan hasil pekerjaan justru jadi amburadul, lebih baik rehat sejenak dan jangan sia-siakan jatah cuti yang sudah menjadi hak Anda. Lantas, berapa hari Anda harus ambil cuti mengingat adanya anjuran waktu liburan yang ideal dalam setahun?

Artikel Lainnya: Habis Liburan Malah Stres, Apa yang Salah?

Sebulan Satu Hari Libur di Luar Weekend

Nah, menjawab pertanyaan tersebut, ternyata ada sejumlah perbedaan pendapat terkait waktu liburan yang ideal. Menurut dr. Seruni Mentari Putri dari KlikDokter, dalam setahun, pegawai memiliki 12 hari cuti. 

Apabila ingin dipakai semua, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk memakainya sekaligus, manfaatkan saja tiap bulan. 

“Setiap bulan, gunakan satu hari jatah cuti. Itu mungkin tidak akan terlalu mencolok dan tidak membuat Anda melalaikan pekerjaan,” ujar dia. 

Agar lebih terasa, dr. Seruni menyarankan, ambillah cuti di hari Jumat atau di hari ‘terjepit’. Manfaatkan waktu tersebut untuk sekadar bersantai di rumah atau jalan-jalan ke luar kota. Yang dekat saja juga tidak apa-apa, yang penting ganti suasana. 

2 of 3

8 Hari Merupakan Waktu yang Pas untuk Berlibur

Ilustrasi Keluarga sedang Liburan di Pantai
Ilustrasi Keluarga sedang Liburan di Pantai

Sementara itu, dilansir dari Kompas.com, sebuah studi baru yang diterbitkan dalam The Journal of Happiness melaporkan, waktu ideal untuk berlibur adalah 8 hari. Jumlah tersebut merupakan panjang waktu optimal untuk memaksimalkan relaksasi dan kebahagiaan tanpa rasa bosan atau rindu rumah bila Anda pergi ke luar kota/negeri. 

Artikel Lainnya: Ini 3 Alasan Mengapa Anda Butuh Liburan

Delapan hari istirahat dari pekerjaan dan rutinitas mampu menciptakan rasa bahagia dengan memperbaiki mood. Delapan hari berlibur juga menjadi waktu yang cukup untuk mengurangi tingkat stres dan mengembalikan energi. 

Ironisnya, bila Anda liburan lebih dari 8 hari, itu justru membuat liburan jadi membosankan dan mengurangi manfaat liburan itu sendiri!  Ya, mengambil liburan terlalu panjang akan membuat Anda kesulitan untuk menyesuaikan kembali dengan rutinitas sebelum liburan datang. 

Jumlah Tidak Penting yang Penting Kualitas Rehatnya

Di sisi lain, Ikhsan Bella Persada, M.Psi., psikolog dari KlikDokter mengungkapkan, sebenarnya berapa pun jumlah hari libur yang Anda pakai, sebisa mungkin ada hari yang harus benar-benar terbebas dari pekerjaan. 

“Saat ingin menetralkan pikiran dari rutinitas kantor, Anda boleh mengambil cuti delapan hari. Nah, dari 8 hari tersebut, 4 hari-nya harus dikosongkan sama sekali dari pekerjaan. Tidak perlu buka email dan lain sebagainya. Detoks dulu fisik dan pikiran dari itu semua. Dari empat hari yang masih tersisa, bolehlah Anda melihat sedikit, tetapi tidak usah bekerja,” pungkasnya. 

“Ini sangat penting, karena liburan itu yang paling utama adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya. Mau sepanjang apapun liburan Anda, kalau tetap dirusuhi oleh pekerjaan, itu tidak akan berhasil menyegarkan kembali pikiran,” ujar Ikhsan. 

Selain itu, agar Anda tak jatuh sakit pasca liburan lalu menambah lagi jatah bolos dan bikin pekerjaan tambah menumpuk, usahakan untuk tidak bepergian yang terlalu melelahkan tubuh. Ada kalanya memang Anda mesti memilih liburan yang santai-santai saja, misalnya staycation di hotel atau menikmati pemandangan pantai. 

Partner liburan juga wajib diperhatikan. Bila tujuan dari short escape ini adalah ingin “menyembuhkan” diri Anda, ajaklah orang yang benar-benar bisa dipercaya dan bisa diandalkan. Kalau bisa satu selera dengan Anda. Sebab, mengajak partner liburan yang salah hanya bikin liburan jadi kacau dan rasa stres malah makin bertambah!

Itulah anjuran waktu liburan yang ideal dalam setahun. Jadi, jangan lupa manfaatkan jatah cuti Anda dan pergilah berlibur. Pasalnya, jarang liburan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, termasuk peningkatan risiko penyakit jantung. Jadi, Anda berencana liburan ke mana akhir tahun ini?

[HNS/AYU]

Lanjutkan Membaca ↓