Diare Lebih dari 2 Minggu? Kenali 6 Penyebab Diare Kronis Ini

Oleh dr. Alvin Nursalim, SpPD pada 09 Jan 2020, 15:05 WIB
Sudah dua minggu tetapi diare tak juga mereda, siapa yang tidak waswas?! Sebelum cek ke dokter, kenali beberapa penyebab diare kronis yang Anda alami.
Diare Lebih dari 2 Minggu? Kenali 6 Penyebab Diare Kronis Ini

Klikdokter.com, Jakarta Sudah minum obat diare tapi belum sembuh juga selama 2 minggu? Bukan karena obatnya yang tak manjur, tapi Anda terserang diare kronis. Pengobatannya pun mesti disesuaikan dengan penyebabnya.

Membandingkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 dan 2018, sebetulnya angka diare mengalami penurunan.

Pada Riskesdas 2013, angkanya adalah 18,5 persen, sedangkan pada Riskesdas 2018 turun menjadi 12,3 persen. Meski demikian, diare masih tergolong salah satu penyakit yang sering dialami masyarakat.

Pada sebagian besar kasus, diare disebabkan oleh virus dan bakteri. Diare umumnya membaik dalam beberapa hari bila penanganannya tepat.

Artikel lainnya: 4 Penyebab Diare di Musim Kemarau

1 of 3

Penyebab Diare Kronis

Ilustrasi Diare Kronis pada Pria
Ilustrasi Diare Kronis pada Pria

Namun, apabila diare tak kunjung sembuh, bahkan berlangsung lebih dari 2 minggu, ini adalah tanda diare kronis yang harus diwaspadai. Pengobatannya tak cukup hanya mengandalkan obat diare biasa, karena harus disesuaikan dengan penyebabnya.

Berikut ini adalah beberapa penyebab diare kronis:

  1. Inflammatory Bowel Disease

Inflammatory bowel disease (IBD) atau radang usus adalah penyakit yang menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Gejalanya bisa berupa diare persisten, sakit perut, dan perdarahan saluran cerna.

Meski sampai saat ini penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi IBD diyakini bisa terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang rusak.

Dalam keadaan normal, sistem kekebalan tubuh menyerang organisme asing, seperti virus dan bakteri, untuk melindungi tubuh dari infeksi. Namun, pada penderita IBD, sistem kekebalan tubuhnya merespons secara berlebihan terhadap pemicunya, sehingga menyebabkan peradangan di saluran pencernaan.

Selain itu, faktor genetik juga diketahui berkontribusi pada kemunculan IBD.

Diagnosis IBD bisa ditegakkan dengan endoskopi (meneropong saluran cerna) dan metode pencitraan (seperti MRI atau CT scan).

Saat ini, sudah tersedia berbagai pengobatan IBD, seperti obat golongan steroid atau imunomodulator.

  1. Penyakit Celiac

Penyakit celiac adalah gangguan saluran cerna akibat sensitivitas yang tinggi terhadap gluten (protein yang ditemukan dalam gandum).

Pada penderita penyakit celiac, mengonsumsi gluten dapat memicu respons kekebalan di usus kecil. Seiring berjalannya waktu, reaksi ini dapat merusak lapisan usus kecil dan menyebabkan gangguan nutrisi. Kerusakan tersebut bisa mengakibatkan diare, penurunan berat badan, perut kembung, dan anemia.

Terapi yang tepat untuk menurunkan gejala penyakit ini adalah dengan menerapkan pola makan bebas gluten dalam jangka panjang, yang sering kali tak mudah. Karena itu, konsultasikan dengan dokter dan ahli gizi merancang menu makan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

Selain itu, pada beberapa kondisi, peradangan dapat diredakan dengan obat-obatan tertentu, seperti golongan steroid.

Artikel lainnya: Apakah Diare Bisa Menular? Ini Fakta Medisnya

  1. Intoleransi Laktosa

Orang dengan intoleransi laktosa tidak dapat mencerna gula (laktosa) yang terkandung dalam susu. Penderita akan mengalami gejala diare, perut terasa penuh gas, dan kembung setelah makan atau minum susu dan produk olahannya.

Intoleransi laktosa disebabkan oleh kekurangan laktase, yakni enzim yang diproduksi di usus kecil yang bertugas untuk mencerna laktosa.

Cara mengatasi dan mencegah intoleransi laktosa yang paling efektif adalah dengan menghindari asupan makanan yang mengandung laktosa.

  1. Konsumsi Alkohol dan/atau Kafein Secara Berlebihan

Minum minuman beralkohol atau yang mengandung kafein (kopi, minuman bersoda, minuman berenergi, teh, dan sebagainya) dapat membuat tinja encer dan berair.

Bila konsumsinya dibatasi atau dihentikan, harusnya gejala diare akan berkurang dengan sendirinya.

  1. Efek Samping Obat Herbal

Sering kali obat atau teh berbahan herbal, misalnya senna, mungkin mengandung laksatif alami.

Bila mengonsumsi beberapa bahan herbal sekaligus, cobalah untuk menghentikannya sementara waktu. Bila diare kronis hilang, bisa jadi bahan herbal tersebut adalah penyebabnya.

  1. Konsumsi Obat-obatan Tertentu

Diare kronis juga bisa merupakan efek samping dari beberapa obat-obatan resep dokter maupun obat-obatan yang dijual bebas. Contohnya adalah:

  • Antibiotik seperti cefpodoxime, amoxicillin, dan
  • Antidepresan seperti selective serotonin reuptake inhibitors dan serotonin-noradrenaline reuptake inhibitors.
  • Antasida yang mengandung magnesium hidroksida.
  • Obat pencahar dan pelunak feses.
  • Proton pump inhibitors, termasuk omeprazole dan
  • Obat-obatan kemoterapi untuk pengobatan kanker.

Selain itu, diare kronis juga bisa merupakan efek samping dari beberapa obat-obatan seperti lithium dan digoxin.

2 of 3

Cara Mengatasi Diare Kronis

Ilustrasi Diare Kronis pada Wanita
Ilustrasi Diare Kronis pada Wanita

Ada beberapa cara mengatasi diare kronis yang bergantung pada penyebabnya. Beberapa opsi penanganannya termasuk:

  • Menangani penyakit yang mendasarinya, misalnya IBD dan penyakit celiac. Konsultasikan kondisi tersebut ke dokter.
  • Konsultasi dengan dokter bila Anda mengalami diare kronis setelah mengonsumsi obat-obatan tertentu. Mungkin dokter akan mengganti obat tersebut atau mengubah dosisnya.

  • Cukupi asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
  • Lakukan perubahan pola makan, meliputi pembatasan asupan alkohol dan kafein, serta porsi makan. Anda juga bisa menyimpan jurnal dan mencatat kemungkinan pemicu diare.

Jadi, bila Anda mengalami diare yang sudah 2 minggu tak sembuh-sembuh, enam penyebab diare kronis di atas mesti diwaspadai. Selain dengan berkonsultasi ke dokter, Anda juga dapat mengatasinya dengan cara-cara di atas. Bila masih ada pertanyaan seputar diare kronis, tim medis KlikDokter siap membantu 24 jam. Download aplikasinya sekarang juga!

(RN/RPA)

Lanjutkan Membaca ↓