Bayi Ngorok Saat Tidur, Apakah Bunda Perlu Khawatir?

Oleh dr. Devia Irine Putri pada 12 Jan 2020, 08:00 WIB
Tidak hanya orang dewasa, bayi juga bisa tidur ngorok. Apa yang jadi penyebab bayi ngorok? Apakah hal tersebut perlu dikhawatirkan?
Bayi Ngorok Saat Tidur, Apakah Bunda Perlu Khawatir?

Klikdokter.com, Jakarta Mengorok saat tidur identik sebagai perilaku orang dewasa. Namun siapa sangka, bayi ternyata juga bisa ngorok. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang mendapati bayi ngorok saat tidur. Anda salah satunya?

Tenang, tidak perlu panik. Bayi ngorok umumnya terjadi secara normal karena sistem pernapasan yang belum bekerja dengan sempurna. Apabila tidak terdapat gangguan, kondisi ini umumnya akan membaik seiring pertambahan usia.

Di sisi lain, bayi tidur ngorok juga bisa terjadi akibat adanya sumbatan saluran napas. Kondisi bayi ngorok yang seperti ini biasanya ditandai dengan helaan napas yang terdengar kasar.

Penyebab Bayi Ngorok

Berikut ini adalah beberapa gangguan kesehatan yang bisa menjadi penyebab bayi ngorok.

1. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Ilustrasi Bayi Ngorok saat Tidur
Ilustrasi Bayi Ngorok saat Tidur

Obstructive sleep apnea alias OSA lebih sering terjadi pada bayi prematur karena belum siapnya sistem dan saraf yang mengatur pernapasan. Kondisi ini ditandai dengan dengkuran, bernapas lewat mulut, dan henti napas sesekali.

OSA yang terjadi pada bayi bukanlah masalah remeh, mengingat kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan tumbuh kembang, gangguan perilaku serta kematian mendadak.

Artikel Lainnya: Bayi Tidur Lebih Nyenyak sambil Mengenyot, Benarkah?

2. Rhinitis Alergi

Bayi juga dapat mengalami rhinitis alergi, terlebih jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi. Rhinitis dapat dipicu oleh cuaca dingin, debu, tungau, dan alergen lainnya.

Adanya sumbatan pada mukosa hidung menyebabkan aliran udara tidak lancar, Ini sehingga muncul keluhan sulit bernapas, cenderung menggunakan mulut untuk bernapas, serta gangguan tidur.

3. Laringomalasia

Laringomalasia adalah salah satu penyebab tersering bayi ngorok dan OSA. Kondisi ini merupakan kelainan bawaan, yang biasanya terjadi di dua minggu awal kehidupan.

Artikel Lainnya: Benarkah Bayi Tak Perlu Tidur Menggunakan Bantal?

Terjadinya laringomalasia mengakibatkan munculnya keluhan sulit menelan, mudah tersedak, muntah setiap kali menyusu, dan mengalami gagal tumbuh.

Sekitar 80% kasus laringomalasia bersifat ringan dan dapat membaik setelah usia 18–12 bulan dan sembuh pada usia 12–24 bulan. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan kondisi ini terjadi dengan kondisi berat sehingga membutuhkan penanganan khusus dari dokter yang ahli.

4. Kelainan Genetik

Ilustrasi Bayi Kelainan Genetik
Ilustrasi Bayi Kelainan Genetik

Kelainan genetik, seperti sindrom down, Prader-Willi dan Beckwith-Wiedemann sering dikaitkan dengan gangguan tidur dan OSA.

Adanya kelainan bentuk pada daerah kraniofasial, seperti ukuran, letak dan geometri dari mandibular dan lidah dapat menyebabkan penebalan di sekitar palatum. Kondisi ini dapat menyebabkan sumbatan sehingga bayi akan sulit untuk bernapas.

Bayi ngorok memang tidak melulu terjadi akibat masalah kesehatan. Kendati demikian, Anda mesti tetap waspada dan memperhatikan setiap gejala penyerta pada bayi tidur ngorok.

Jangan tunda untuk segera berobat ke dokter jika mendapati bayi tidur ngorok yang disertai dengan keluhan sesak napas, sela iga ikut tertarik saat bernapas, demam, berat badan tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan, dan tidak mau menyusu.

Dengan membawanya ke dokter sejak dini, penyebab bayi ngorok bisa segera dideteksi. Pengobatan paling tepat pun bisa diterapkan, sehingga keluhan bisa hilang sebelum menyebabkan komplikasi.

Ingin lebih tahu tentang bayi ngorok? Atau, punya pertanyaan seputar penyebab bayi ngorok? Yuk, konsultasi langsung dengan dokter dari KlikDokter di sini.

(NB/AYU)