Bolehkah Ibu Hamil Memakai Cairan Pembersih Kewanitaan?

Oleh dr. Muhammad Iqbal Ramadhan pada 22 May 2020, 11:47 WIB
Anda mungkin pernah bertanya-tanya, apa boleh ibu hamil memanfaatkan cairan pembersih kewanitaan agar vagina lebih bersih? Ini jawabannya!
Bolehkah Ibu Hamil Memakai Cairan Pembersih Kewanitaan?

Klikdokter.com, Jakarta Keputihan rentan terjadi pada ibu hamil karena adanya perubahan hormonal. Akhirnya, banyak yang memanfaatkan sabun khusus atau cairan pembersih kewanitaan (vaginal douche) agar vagina lebih bersih dan harum. Hal yang menjadi pertanyaan, apakah pembersih kewanitaan untuk ibu hamil itu aman?

Ada yang mengatakan pembersih kewanitaan tidak efektif untuk membuat vagina lebih bersih, harum, ataupun sehat. Bahkan, pembersih kewanitaan sebenarnya dapat meningkatkan risiko infeksi, komplikasi kehamilan, dan masalah kesehatan lainnya. Benarkah? Mari simak penjelasannya di sini. 

Apa Itu Vaginal Douche?

Kata ''douche'' berasal dari bahasa Prancis yang artinya ''mencuci'' atau ''berendam.'' Ini adalah metode untuk mencuci vagina, biasanya dengan campuran air dan semacam cuka.

Douche yang dijual di apotek dan supermarket mengandung antiseptik dan wewangian. Pembersih ini biasanya tersedia dalam botol dan disemprotkan melalui tabung ke arah atas ke dalam vagina.

Artikel lainnya: Bersihkan Vagina dengan Antiseptik Picu Kanker Serviks?

Ada banyak cairan pembersih kewanitaan yang mengklaim dapat menjaga kesehatan vagina, bahkan mencegah keputihan.

Anda sebaiknya tidak percaya begitu saja. Karena sebenarnya, normal bagi vagina untuk memiliki bau. Organ ini memang memiliki aroma yang khas karena adanya flora atau bakteri normal. Keasaman pada vagina juga akan secara alami mengontrol bakteri.

Vagina juga kerap mengeluarkan cairan dan ini normal terjadi. Cairan ini memiliki ciri-ciri antara lain warnanya putih jernih, bila menempel pada pakaian dalam warnanya kuning terang, konsistensi seperti lendir (encer hingga kental) tergantung siklus hormon, tidak berbau, dan tidak menimbulkan keluhan.

1 of 3

Apa Risiko dari Penggunaan Pembersih Kewanitaan?

Ilustrasi Risiko dari Penggunaan Pembersih Kewanitaan
Ilustrasi Risiko dari Penggunaan Pembersih Kewanitaan

Secara umum, risiko penggunaan pembersih kewanitaan jauh lebih besar daripada manfaatnya. Berikut risikonya:

  1. Infeksi Vagina (Bacterial Vaginosis)

Pembersih kewanitaan mengganggu keseimbangan alami bakteri dalam vagina (disebut flora vagina). Perubahan ini membuat lingkungan yang lebih menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri penyebab infeksi.

Artikel lainnya: Ramuan Tradisional untuk Merawat Vagina, Amankah?

Penelitian telah menemukan bahwa wanita yang berhenti melakukan douching memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami infeksi vagina. Memiliki infeksi vagina dapat meningkatkan risiko persalinan prematur dan infeksi menular seksual.

  1. Penyakit Radang Panggul (PID)

PID adalah infeksi rahim, saluran tuba, dan/atau ovarium. Penelitian telah menemukan bahwa wanita yang rutin menggunakan pembersih kewanitaan memiliki risiko 73 persen lebih tinggi terkena PID.

  1. Komplikasi Kehamilan

Wanita yang melakukan douching lebih dari sekali seminggu memiliki lebih banyak komplikasi (penyulit) kehamilan daripada mereka yang tidak melakukan douching.

Selain itu, douching juga dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik sebanyak 76 persen.

Artikel lainnya: Keputihan Disertai Nyeri Perut, Awas Terkena PID

  1. Kanker Serviks

Douching setidaknya sekali seminggu telah dikaitkan dengan kemungkinan peningkatan terkena kanker serviks.

2 of 3

Jadi, Pembersih Kewanitaan untuk Ibu Hamil Kurang Disarankan?

Ilustrasi Vagina
Ilustrasi Vagina

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, pada dasarnya membersihkan vagina dengan cairan pembersih kewanitaan sebaiknya dihindari dan tidak dilakukan setiap hari. Berikut adalah beberapa dampak negatif dari penggunaan pembersih kewanitaan untuk ibu hamil.

  • Dijelaskan dalam Journal of the American Medical Association tahun 2013, membersihkan vagina dengan cairan pembersih kewanitaan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi. Selain itu, cara ini juga dapat mengganggu keseimbangan flora normal vagina.
  • Studi yang dilansir dari American Journal of Obstetrics and Gynaecology tahun 2017 menyebutkan, ibu hamil yang rutin membersihkan vagina dengan cairan pembersih kewanitaan selama 2-3 kali seminggu berisiko untuk melahirkan bayi dengan berat badan saat lahir yang rendah.

Artikel lainnya: 5 Penyebab Keputihan pada Wanita

  • Saat membersihkan vagina dengan cairan pembersih kewanitaan, bahan kimia di dalam cairan tersebut akan mengganggu keseimbangan pH vagina yang bermanfaat untuk menjaga bakteri baik tetap hidup. Akibatnya, ibu hamil akan lebih rentan terkena infeksi dan dapat berdampak pada kesehatan janin.
  • Sabun pembersih kewanitaan juga sering kali mengandung pewangi. Faktor ini rentan menyebabkan iritasi pada vagina. Bila teriritasi, vagina akan lebih rentan dihinggapi oleh mikroorganisme, termasuk bakteri.
  • Bakteri yang masuk ke dalam vagina dapat naik ke rahim, saluran telur, indung telur, dan menyebabkan infeksi. Pada ibu hamil, infeksi pada rahim dan cairan ketuban dapat berbahaya bagi janin. Risiko terjadi kelahiran prematur pun dapat meningkat. Untuk itu, pembersih kewanitaan untuk ibu hamil tidak disarankan.

Lalu, bagaimana cara membersihkan area kewanitaan yang tepat khususnya saat sedang hamil? Tak perlu bingung, menggunakan air mengalir dan sabun saja sebenarnya sudah cukup. Usahakan juga untuk tetap menjaga kebersihan vagina selama beraktivitas agar tidak mengalami keluhan.

Demikian beberapa efek samping pembersih kewanitaan untuk ibu hamil. Sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter bila ingin menggunakan produk tertentu. Jika ingin berkonsultasi lebih mudah, cepat, dan akurat dengan dokter, yuk coba fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter. Gratis!

[NWS/ RS]

Lanjutkan Membaca ↓