Mengapa Korban Pelecehan Seksual Cenderung Diam?

Tak mengerti soal sikap bungkam yang dilakukan oleh korban pelecehan seksual, ini kata psikolog soal latar belakang kondisi tersebut.
Mengapa Korban Pelecehan Seksual Cenderung Diam?

Klikdokter.com, Jakarta Dunia maya sedang heboh dengan aksi Revina VT yang membongkar kasus pelecehan seksual. Tragedi ini diduga dilakukan motivator Dedy Susanto. Kasus pun meluap ke permukaan setelah Revina membicarakannya secara blak-blakan di media sosial melalui fitur Instastory.

Berhasil menyedot perhatian publik, Dedy sampai harus memberi klarifikasi. Keberanian Revina dalam membongkar perilaku bejat tersebut sebenarnya pantas diacungi jempol.

Sebab, tak semua korban pelecehan seksual berani melaporkan apa yang telah dialaminya, baik kepada kerabat dekat maupun pihak berwajib. Lalu, apa yang membuat korban pelecehan seksual cenderung enggan melaporkan perbuatan pelaku?

Korban Pelecehan Diam karena Respons Otak

Menanggapi pertanyaan di atas, Zarra Dwi Monica, M.Psi, Psikolog dari KlikDokter memberikan penjelasan.

Sebenarnya, saat orang menghadapi ancaman atau ketakutan, dalam hal ini karena pelecehan seksual, salah satu respons yang muncul adalah sikap freeze alias membatu.

“Kondisi freeze terjadi karena bagian otak yang merespons rasa takut jadi sangat aktif karena ketakutan yang luar biasa. Makanya, korban pelecehan seksual bisa terlihat diam saja dan bikin orang salah kira (dianggap mau). Padahal, sama sekali tidak!” kata Zarra.

Beberapa orang ada yang mengalami freeze dalam waktu lama dan ada pula yang begitu melihat kesempatan untuk kabur, ia akan langsung kabur (freeze hanya berlangsung cepat).

Nah, mereka yang memiliki sikap freeze dalam waktu lama inilah yang sering dimanfaatkan. Meski tubuhnya kaku dan suara tak mampu keluar, umumnya air mata tetap bisa menetes.

Artikel lainnya: 4 Dampak Psikis yang Dialami Korban Pelecehan Seksual

Korban Pelecehan Tak Berani Melapor karena Stigma

Korban Pelecehan Seksual

Sementara itu, tak sedikit pula korban yang tidak berani menceritakan sama sekali kepada orang lain atas apa yang telah dialaminya, termasuk kepada pihak polisi. Hal itu tentu bukan karena malas atau sebab yang tak jelas, lho!

“Ya, karena ada stigma dan komentar negatif dari pihak lain. Bahwa korbanlah yang ‘memancing’, atau korban memakai pakaian yang ‘mengundang’, bahkan hingga mengatakan korban juga pasti menikmatinya,” pungkas Zarra.

Ketimbang dituduh seperti itu, sebagian korban pun akhirnya memilih mengurungkan niat untuk lapor kepada polisi, menceritakannya kepada keluarga atau sahabat, dan tidak membeberkannya di media sosial.

Entah apa yang dipikirkan orang-orang yang tega membicarakan hal tersebut (apalagi bila yang berbicara adalah sesama wanita).

Tapi yang jelas, hawa nafsu tidak sebatas pada pakaian. Mau setertutup apa pun pakaian yang dikenakan korban, kalau memang sudah ada niatan yang berbuat jahat, maka dapat terjadilah.

Artikel lainnya: Ini Dia Terapi yang Tepat untuk Korban Pelecehan Seksual

Rasa Trauma Menahan untuk Membicarakannya

Trauma mendalam menjadi dampak pelecehan seksual yang tak bisa dielakkan. Akibat rasa trauma, korban pun enggan membahas dan menutupnya rapat-rapat karena takut teringat kembali betapa buruknya momen itu.

“Memang, tak semua orang bisa langsung menceritakannya kepada orang lain, terutama dalam waktu yang dekat dengan kejadian,” kata Zarra.

Namun, jika kondisi psikis sudah membaik, maka korban bisa menceritakannya kepada keluarga terlebih dulu dan sahabat terdekat. Bila perlu, cari bantuan pada komunitas, lembaga perlindungan, dan pengacara.

Pelaku Berkuasa untuk Bertindak Lebih Buruk

Pelaku yang Berkuasa Melakukan Pelecehan Seksual

Di sisi lain, Zarra juga mengungkapkan, jika pelecehan seksual terjadi di lingkup kantor, sekolah, atau kampus, korban bisa juga tidak mau melaporkannya karena ada kesenjangan kekuasaan antara pelaku dan korban.

Pelaku umumnya punya status yang lebih tinggi. Jadi, sulit bagi korban untuk melapor. Belum lagi, pelaku akan mengancam dengan hal-hal yang membuat kondisi semakin buruk, misalkan mengeluarkannya dari sekolah atau kantor hingga membunuh si korban kalau berani buka mulut.

Kekurangan Bukti untuk Melapor

Jika kasus pelecehan seksual terjadi di lingkungan yang memiliki CCTV aktif, mungkin tidak sulit untuk menunjukkan bukti. Beda halnya bila kejadian menyeramkan itu terjadi di lingkungan terpencil yang tidak ada kamera pemantau, pasti cukup sulit bukan?

Lingkungan terpencil tapi ada saksi mata, mungkin bisa juga membantu. Nah, kalau tidak ada, korban pasti keburu stres sendiri karena tidak memiliki bukti yang kuat.

Jika pelecehan seksual terbilang parah, biasanya pelaku dapat diketahui dari sisa sperma yang masih terperangkap di tubuh korban (dicocokkan dengan calon tersangka).

Bahkan, demi mendapatkan bukti, ada korban yang rela mendapatkan perilaku buruk untuk kedua kalinya demi memasang “jebakan” berupa perekam suara atau perekam gambar!

Baca Juga

Melaporkan kasus kepada pihak berwajib memang akan membuka rasa trauma, tetapi tindakan ini dapat menolong banyak orang, khususnya wanita di kemudian hari.

Itu dia sejumlah alasan kenapa korban pelecehan seksual tidak melapor. Jika Anda mengalami hal ini atau punya kerabat yang mengalami pelecehan dan ingin mendapatkan saran yang tepat, jangan ragu konsultasi dengan psikolog kami via Live Chat di aplikasi KlikDokter.

(FR/RPA)

Live Chat 24 Jam

Ingin konsultasi mengenai artikel di atas?

Masuk

REAKSI ANDA

ARTIKEL TERKAIT

Benarkah Penderita Depersonalisasi Selamanya Bergantung pada Obat?

Info Sehat
09 Okt

Kiat Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual

Info Sehat
24 Jul

Atasi Trauma dengan Cara Ini

Info Sehat
28 Mei

Pentingkah Memberikan Pendidikan Seks untuk Anak?

Info Sehat
10 Apr

Cara Tepat Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual

Info Sehat
22 Mar

0 KOMENTAR

Tulis Komentar Anda

Masuk KlikDokter untuk
meninggalkan komentar

Masuk